Pages

Showing posts with label Information Literacy. Show all posts
Showing posts with label Information Literacy. Show all posts

Thursday, November 12, 2015

Pencarian Informasi dan Navigasi



Diterbitkan pada : Jurnal Eksis : Eksplorasi Karya Sistem Informasi dan Sains, Vol.08, No. 1, Mei 2015, ISSN 19781385, Halaman 1-7. 
Bibliografi. 

Proboyekti, U. ( Mei 2015). Pencarian Informasi dan Navigasi. Jurnal Eksis, Vol 8, No.1 , 1-7.

Abstrak


Pencarian informasi dasari pada information foraging, yaitu insting hewan dalam mencari makanan dengan berpindah-pindah tempat. Information foraging didukung oleh information scent, pemicu pencarian yang dianggap punya makna. Pencarian informasi dilakukan untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan.  Tahap-tahap pencarian informasi sejalan dengan model literasi informasi yang merupakan kemampuan menggunakan informasi secara efisien dan etis. Pencarian informasi melibatkan kemampuan dan ketrampilan manusia untuk menemukan informasi yang relevan atau satificing. Di sisi lain pencarian informasi juga didukung komponen-komponen navigasi yang memastikan pengguna tidak mengalami ketersesatan dalam pencarian informasi. Komponen navigasi seperti menu, breadcrumb, tab dan tombol home adalah navigasi yang memastikan pengguna mengetahui dimana keberadaannya dalam pencarian informasi.

Pencarian Informasi


Information seeking atau pencarian informasi dilakukan orang untuk berbagai kebutuhan dalam mengatasi kesenjangan pengetahuan. Pencarian informasi dilakukan karena kebutuhan memecahkan masalah, perlu informasi baru dan memperluas pengetahuan yang dimiliki, kebutuhan validasi informasi, dan pentingnya mengklarifikasi informasi yang dibutuhkan (Thani & Hashim, March 2011). Pencarian informasi membutuhkan cara yang efektif agar mendapatkan informasi yang tepat sesuai dengan yang diperlukan. Pencarian Informasi selalu diawali dengan kebutuhan informasi lalu menyampaikan pertanyaan kepada sumber di luar dirinya, memeriksa apa yang diperoleh lalu mendapatkan hasil untuk memenuhi kebutuhan(Russell-Rose & Tate, 2013). Pertanyaan atau query disampaikan kepada orang lain atau sumber lain  misalnya mesin pencari seperti Google. 
Proses mencari pada diri manusia disebabkan oleh dorongan yang sama pada hewan yaitu dorongan untuk mencari makanan (information foraging) yang beinteraksi dengan kesadaran untuk mendapatkan makna dari informasi baru (sensemaking). Information foraging dan sensemaking membentuk siklus umpan balik yang mendukung proses mencari informasi (Pirolli & Card, 2005 via Russel-Rose & Tate, 2013). Information foraging dapat digambarkan seperti pengguna internet yang berpindah dari satu website ke website lain untuk mendapatkan informasi yang memenuhi kebutuhan informasinya.

Information Scent dan Satificing

Pencarian informasi ini dibatasi oleh perhatian dan waktu, karena itu efisiensi penggunaan keduanya membuat pencari informasi cenderung menemukan informasi yang dianggap memuaskan (satisfy) dan cukup (suffice). Kombinasi kedua istilah itu adalah satisficing (Simon, 1956 via Russell-Rose & Tate, 2013). Untuk mencapai satisficing pencarian bergantung pada information scent untuk mengarahkan pencarian ke tujuan informasi Information scent ini kata-kata pemicu yang dianggap punya makna dalam kebutuhan informasinya. Information scent mendukung information foraging.  Information scent ini adalah kata kunci yang digunakan untuk mencari atau mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kata kunci dianggap mewakili informasi yang dicari. Russel-Rose & Tate (2013) menyebutkan tiga teknik pemanfaatan Information scent pada antarmuka pencarian:  
1.      Descriptive title/ judul yang mewakili informasi : bebas dari jargon dan slogan, dapat diklik, berupa kata-kata, banyak kata cenderung lebih dianggap berhasil daripada pendek.
2.      Hit highlighting : kata-kata yang dianggap mewakili informasi ditandai untuk menaikkan information scent. Penanda dengan warna atau cetak tebal.
3.      Clear labeling/kategori yang jelas: penggunaan kategori, cepat terbaca, sedikit tenaga.
Teknik-teknik di atas diterapkan dalam desain merancang istilah-istilah yang digunakan, contohnya untuk: pilihan dalam menu, nama katagori, nama halaman, tautan atau link. Ketiga teknik tersebut mendukung pencarian dari satu sumber informasi ke sumber informasi lainnya dengan mengikuti information scent untuk menemukan informasi yang satificing atau bahkan yang memuaskan.

Sensemaking

Information foraging mendukung pencarian dari satu lokasi ke lokasi lain dengan mengikuti information scent, sementara menemukan informasi yang relevan didukung oleh sensemaking. Sensemaking adalah proses asilimasi pengetahuan baru ke pemahaman yang sudah dimiliki si pencari informasi. Empat fase proses sensemaking adalah search, extract, encode, dan analyze (Russell-Rose & Tate, 2013).  Search adalah mencari dan mendapatkan sumber informasi yang relevan bagi kebutuhan. Pada tahap extract, ditetapkan dari sumber informasi itu,  informasi apa yang diperlukan diidentifikasi dan sesuai dengan information scent. Informasi yang diperoleh dari tahap extract diintegrasikan ke pengetahuan yang sudah ada. Ini adalah tahap encode. Pada akhirnya tahap analyze adalah tahap mendapatkan pencerahan dan pengetahuan baru. Dengan demikian information foraging dan sensemaking bukanlah sekedar pencarian informasi tetapi juga penggabungan antara informasi yang diperoleh dan pengetahuan yang dimiliki sehingga meningkatkan pengetahuan.  
Sebelum informasi itu digabungkan dengan pengetahuan yang sudah ada, pencarian informasi menjadi hal penting yang menentukan karena hasil pencarian itu sudah selayaknya akan meningkatkan pengetahuan baru. Pada tulisan ini, sensemaking tidak dibahas lebih lanjut. Diskusi lebih menekankan pada pencarian informasi dan navigasi yang mendukung pencarian informasi.

Pencarian Informasi dan Literasi Informasi

Pencarian informasi terdiri dari beberapa fase. Fase pencarian menurut Kuhlthau adalah inisiasi, seleksi, eksplorasi, formulasi, koleksi dan presentasi. Inisiasi adalah memahami dengan kebutuhan informasinya. Ini adalah fase yang tidak selamanya mudah. Kebingungan, keraguan dan ketidakpastikan tentang cara memulai pencarian informasi sering dialami pengguna sumber informasi (Kuhlthau, 1999 viaThani & Hashim, March 2011). Ketidakpahaman pengguna  pada kebutuhan informasi  menyebabkan keraguan akan penggunaan sumber informasi yang cocok, misalnya discovery tool pada online database , katalog perpustakaan, database subject-specific atau internet lewat mesin pencari  (Fagan, Mandernach, Nelson, Paulo, & Saunders, March 2012).
Tahap seleksi dilakukan dengan menentukan batasan yang mempersempit area pencarian informasi. Tahap eksplorasi adalah proses memahami topik dan meningkatkan pemahaman terhadap kelompok-kelompok informasi yang terbentuk. Formulasi adalah tahap menentukan kebutuhan yang spesifik. Pilihan ditetapkan terhadap satu kelompok informasi dengan spesifikasi tertentu.  Koleksi adalah tahap mengevaluasi hasil dari tahap formulasi. Semua informasi yang dinilai relevan dan tepat sesuai kebutuhan dievaluasi adalah informasi yang dipilih untuk diolah.  Presentasi adalah tahap akhir. Pada tahap ini pencarian informasi sudah dianggap selesai, informasi yang sudah terevaluasi diolah dan kemudian hasil pengolahan informasi tadi dibagikan.
Pada setiap tahap terdapat kegiatan yang membutuhkan kemampuan dan pengetahuan dari pencari informasi, baik kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan maupun kegiatan kognitif yang terjadi dalam pemikiran. Kemampuan yang terkait dengan informasi juga menjadi pusat dari literasi informasi. Literasi informasi atau information literacy adalah kemampuan untuk memanfaatkan informasi secara efisien dan etis.
Tahap-tahap pencarian informasi di atas sejalan dengan tahap-tahap dalam literasi informasi. Kemampuan ini terkait dengan berpikir kritis, karena ketika mencari dan menemukan informasi, ada evaluasi dan cara penggunaan yang etis diterapkan. Tahap-tahap literasi informasi seperti model literasi informasi Big 6 mendefinisikan 6 langkah untuk memenuhi kebutuhan informasi : task definition, information seeking strategies, location and access, use of information, synthesis, dan evaluation (Eisenberg & Berkowitz, 2012).
Task definition adalah mendefinisikan masalah informasi dan kebutuhan informasi. Tahap ini serupa dengan tahap inisiasi pada model pencarian Kuhlthau. Dengan kebutuhan informasi yang jelas, dilakukan information seeking strategies, yaitu menentukan semua sumber informasi yang tersedia dan menentukan sumber terbaik. Mesin pencari, khususnya Google, menjadi tempat pencarian utama, mengalahkan OPAC, Perpustakaan Digital dan Online Databases. Mesin pencari sebenarnya bukan sumber informasi, melainkan alat untuk mendapatkan informasi. Namun demikian, ketika tingkat kepercayaan informasi yang diperoleh dari Internet meragukan, pengguna baru melakukan pencarian informasi di perpustakaan digital dan Online Database (Liyana & Noorhidawati, 2014).
Location and access adalah menemukan secara fisik dan intelektual sumber informasi dan menemukan informasi pada sumber tersebut. Informasi yang dianggap satisficing dapat ditemukan pada sumber informasi apapun termasuk jejaring sosial. Sebagai contoh, kebutuhan informasi tentang gaya hidup dan kesehatan ternyata diperoleh dari jejaring sosial online. Hal ini cenderung dilakukan oleh para wanita dan para orang muda di Iceland. Hal ini membuka kesempatan bagi para profesional di bidang kesehatan dan gaya hidup untuk memanfaatkan jejaring sosial online untuk berbagi informasi yang berguna dan melakukan advokasi (Pálsdóttir, 2014).
 Use of Information adalah tahap menggunakan informasi dan mendapatkan informasi yang relevan. Semua informasi yang dianggap relevan kemudian diolah pada tahap synthesis . Ini merupakan kegiatan menyusun informasi dari berbagai sumber dan mempresentasikan informasi hasil penyusunan. Pada akhirnya hasil syntehsis kemudian dievaluasi. Evaluation adalah tahap terakhir yang mengevaluasi hasil tahapan dan prosesnya.
Ketika diperhatikan, tahap-tahap Big 6 dan Kuhlthau memiliki kemiripan baik ketika memulai proses maupun pada saat akhir proses. Kegiatan seperti menemukan memilah informasi dan menyusun informasi dari hasil pencarian informasi menjadi kegiatan yang ada pada kedua model tersebut. Tujuan dari kedua model tersebut pun untuk memenuhi kebutuhan informasi dan mengatasi kesenjangan pengetahuan yang ada pada individu. Kedua model pun dapat diterapkan pada sumber informasi online maupun offline dalam berbagai bentuk.
Terkait dengan tujuan tulisan ini, maka pencarian informasi yang dibahas adalah pencarian informasi pada sumber informasi yang tersedia pada media internet.  Pencarian informasi pada media internet didukung oleh komponen-komponen navigasi pada setiap aplikasi web yang digunakan, baik itu aplikasi web atau website mesin pencari, perpustakaan digital, online database, atau website portal informasi yang lain.

Navigasi yang Mendukung Pencarian Informasi

Sebuah web dikatakan baik menurut Krug (2006) adalah ketika website tersebut menjelaskan sendiri siapa dirinya dan fungsinya kepada pengguna dan tidak membuat pengguna berpikir.  Hal ini sejalan dengan 5 komponen usability atau kebergunaan yaitu kemudahan untuk dipelajari, efisiensi, tingkat kesalahan, kepuasan pengguna dan kemudahan untuk diingat. Website yang menjelaskan dirinya sendiri membantu pengguna untuk menggunakan fungsi yang disediakan sehingga mudah dipelajari. Kemudahan ini membuat akses terhadap website menjadi cepat atau efisien dan mengurangi kemungkinan untuk melakukan kesalahan. Kemudahan untuk diingat bisa terkait dengan posisi komponen, informasi pada website yang mengikuti konvensi dan kemudahan pengguna untuk mengetahui dia berada di mana.  Dengan demikian dapat meningkatkan kepuasan pengguna. Salah satu yang menjadi hal penting  dalam kepuasan pengguna adalah navigasi yang menghindarkan pengguna dari ketersesatan di website ketika melakukan pencarian informasi.
Gambar 1.
Expandable & Sequential Menu 
  (Melguizo, Vidya, & Oostendorp, January 2012)
Navigasi pada website dibutuhkan karena tidak ada kesan skala, arah, dan lokasi. Ketiadaan secara fisik membuat pengguna mudah lupa waktu, dan keberadaan. Navigasi dibuat sebagai identifikasi lokasi di website, sebagai pegangan, penunjuk penggunaan situs, dan salah satu dasar kepercayaan pada situs. Komponen-komponen navigasi membantu pengguna untuk tidak tersesat dan sadar akan keberadaannya. Navigasi secara persisten mengikuti kemana pengguna bergerak, dan selalu ada di setiap halaman kecuali pada home  dan form transaksi.  Menu, Breadcrumb, tabulasi, dan tombol home, merupakan beberapa komponen yang banyak digunakan untuk navigasi (Krug, 2006).  
Menu merupakan komponen navigasi yang paling umum digunakan oleh website. Berbagai bentuk menu dapat dijumpai pada berbagai website.  Beberapa di antaranya adalah expandable menu, sequential menu dan megamenu.  Expandable menu adalah menu yang berbentuk hirarki dan setiap pilihan pada menu dapat diklik dan menampilkan hirarki yang lebih dalam. Sementara sequential menu tidak menampilkan hirarki seperti Gambar 1. Expandable menu dirasa lebih bermanfaat dari pada sequential menu bagi pengguna yang kemampuan spasial rendah.  Mereka yang berkemampuan spasial tinggi dapat menggunakan navigasi lebih cepat dan sukses menemukan informasi (Melguizo, Vidya, & Oostendorp, January 2012).
Gambar 2. Global Navigasi  (Adkisson, 2005)
         Navigasi global adalah rangkaian tautan kategori tingkat tertinggi yang selalu akan muncul pada website seperti pada Gambar 2. Navigasi global membuat header lebih mudah dirancang, tetapi hasilkan langkah tambahan bagi pengguna untuk temukan fungsi utama dari navigasi global. Navigasi global akan membantu pengguna ketika dikombinasikan dengan megamenu untuk menyajikan banyak pilihan sekaligus kepada pengguna. Pilihan pada megamenu dapat berupa citra yang mewakili produk atau istilah yang mewakili pilihan (Cardello & Whitenton, 2014). Gambar 3 adalah contoh megamenu.


Gambar 3. Megamenu (Cardello & Whitenton, 2014)
     Breadcrumb berfungsi sebagai jejak yang menunjukkan posisi pengguna secara hirarki. Istilah diambil dari cerita Hensel and Gretel yang mengikuti jejak remah roti untuk kembali ke rumah. Breadcrumb mudahkan akses ke halaman pada hirarki yang lebih tinggi. Dengan tanda ” >”  atau “/” atau “->” atau “>>” breadcrumbs berfungsi untuk menjelaskan hirarki secara sederhana, bukan history atau laman-laman yang dibuka pengguna sebelumnya.

      Hirarki yang sebaiknya dimulai dari home ini dituliskan ukuran huruf kecil, butir terakhir ditebalkan, dan  tidak sebagai nama laman (Nielsen, 2007) seperti pada Gambar 4.
Sementara itu, tabulasi atau tab cocok untuk situs besar. Tab begitu gamblang sehingga sulit untuk terlewatkan, terasa lebih cekatan, dan mampu menandakan ruang fisik. Tab digambar dengan pembeda, diberi kode warna, dan sebaiknya satu tab telah terpilih ketika pengguna masuk untuk membuat pengguna menyadari posisinya (Krug, 2006)
Gambar 4: Berbagai jenis breadcrumb (Adkisson, Breadcrumb, 2005)
Berbagai contoh tab yang dimanfaatkan oleh Amazon dari waktu ke waktu menjadi contoh pada Gambar 5.

            Komponen navigasi di atas dimanfaatkan pada desain website untuk memudahkan pengguna agar tidak tersesat, mudah menggunakan website, nyaman melakukan information foraging  dengan berpindah dari satu halaman ke halaman lain dan akhirnya berhasil dalam menemukan informasi yang dicari mengikuti information scent


Gambar 5: Tab Amazon.com dari waktu ke waktu (Wroblewski, 2007)

 Daftar pustaka

Adkisson, H. P. (2005). Breadcrumb. Dipetik Mei 5, 2015, dari Web Design Practices: http://www.webdesignpractices.com/navigation/breadcrumb.html
Adkisson, H. P. (2005). Global Navigation. Dipetik Mei 5, 2015, dari Web Design Practices: http://www.webdesignpractices.com/navigation/globalnav_location/globalnav_top.htm
Cardello, J., & Whitenton, K. (2014, Feb 9). Killing Off the Global Navigation: One Trend to Avoid. Dipetik Mei 5, 2015, dari NNGroup : Nielsen Norman Group: http://www.nngroup.com/articles/killing-global-navigation-one-trend-avoid/
Eisenberg, M., & Berkowitz, R. (2012). What is the Big6? Dipetik Mei 5, 2015, dari BIG 6: http://big6.com/pages/about.php
Fagan, J. C., Mandernach, M., Nelson, C. S., Paulo, J. R., & Saunders, G. (March 2012). Usability Test Results for A discovery Tool in An Academic Library. Information Technology and Libraries , 83-112.
Krug, S. (2006). Don't Make Me Think! A Common Sense Approach to Web Usability, Second Edition. Berkeley, CA: New Riders.
Liyana, S., & Noorhidawati, A. (2014). How Graduate Student Seek for Information: Convenience or guaranteed result? Malaysian Journal of Library & Information Science Vol. 19, No. 2 , 1-15.
Melguizo, M. C., Vidya, U., & Oostendorp, H. V. (January 2012). Seeking Information Online: the Influence of Menu Type, Navigation Path Complexity and Spatial Ability on Information Gathering Tasks. Behaviour & Information Technology Vol. 31, No. 1 , 59-70.
Nielsen, J. (2007, April 10). Breadcrumb Navigation Increasingly Useful. Dipetik Mei 5, 2015, dari Nielsen Norman Group: http://www.nngroup.com/articles/breadcrumb-navigation-useful/
Pálsdóttir, Á. (2014). Preferences in the Use of Social Media for Seeking and Communicating Health. Dipetik Mei 5, 2015, dari Information Research 19(4) Paper 642: http://InformationR.net/ir/19-4/paper642.html
Russell-Rose, T., & Tate, T. (2013). Designing The Search Experience: The Information Architecture of Discovery. Amsterdam: Morgan Kaufmann.
Thani, R. A., & Hashim, L. (March 2011). Information Needs and Information Seeking Behaviors of Social Science Graduate Students in Malaysian Public Universities. International Journal of Busines and Social Science Vol. 2 No 4 , 137-143.
Wroblewski, L. (2007, Sept 14). The Continuing History of Amazon's Tab Navigation. Dipetik Mei 5, 2015, dari LUKEW Idertion + Design: http://www.lukew.com/ff/entry.asp?582

Wednesday, March 19, 2014

Literasi Informasi di Perguruan Tinggi



The more I learn, the more I realize I don’t know

– Albert Einstein
Ungkapan Albert Einstein tersebut tidak berarti bahwa kita tidak perlu belajar atau mempelajari sesuatu. Sebaliknya, dengan belajar atau mempelajar i suatu hal membuat kita sadar bahwa masih banyak yang tidak kita ketahui. Mempelajari sesuatu membawa kita kepada hal lain yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan. Hal ini membuat kita tidak akan berhenti belajar. Mengetahui sesuatu membuka jalan kepada hal lain yang untuk ketahui dan begitu seterusnya. Suatu siklus belajar yang tak ada henti.

Friday, December 20, 2013

Literasi Informasi : Bukan Informasi Basi


Fakta Pembelajaran
Pembelajaran yang berlaku di perguruan tinggi pada umumnya masih menekankan pada kegiatan tatap muka. Kehadiran teknologi informasi memberi variasi baru pada tatap muka yang terjadi. Koneksi internet di kelas memberi kesempatan untuk menjelajah informasi bersama dan berbagai temuan. Diskusi kelompok di kelas mendorong pertukaran ide dan pengetahuan. Praktik di laboratorium atau di luar kelas memberi kesempatan untuk mengalami sendiri yang didiskusikan di kelas dan menemukan fakta untuk digali lebih dalam. Kegiatan mandiri mendorong mahasiswa untuk menghasilkan produk informasi untuk membuktikan pemahaman dan menjadi bahan penilaian.  Dalam proses menghasilkan produk informasi sesuai dengan bidang studinya, hasil sangat ditentukan oleh kemampuan dan ketrampilan menggunakan peralatan atau teknologi yang relevan dengan tugasnya. Kurangnya keterampilan dan pengetahuan membawa mereka kepada situasi pencarian jawaban untuk menutup kesenjangan antara kemampuan dan produk informasi yang akan dihasilkan.  Kegiatan mandiri ini terhitung lebih lama dibanding kegiatan tatap muka di kelas atau di laboratorium bersama pengajarnya. Dengan demikian tempat bertanya  tidak selalu pengajarnya, sekalipun teknologi informasi memungkinkan.  Sumber jawaban diperoleh dari rekan, atau jawaban dari rekan di jejaring sosial.

Information Literacy: Evaluasi Sumber Informasi dari Aplikasi Web 2.0


Information literacy merupakan istilah yang padanan katanya dalam Bahasa Indonesia belum disepakati. Ada yang memadankan dengan kemelekan informasi, keberinformasian, melek informasi atau literasi informasi. Pada umumnya istilah yang terakhirlah yang digunakan karena mendekati istilah aslinya sekalipun kata literasi jarang sekali digunakan atau mungkin tidak pernah. Dalam tulisan ini, istilah information literacy digunakan untuk menjaga arti dan menghindari perbedaan karena belum sepakat tadi.

Wednesday, March 27, 2013

Minat Baca

Minat berkaitan dengan perhatian dan usaha seseorang untuk melakukan sesuatu atau mendapatkan yang disukai atau berelasi dekat dengannya. Itu penjabaran cepat saya, tentang minat. Untuk menjadi minat, biasanya sesuatu itu terasa berguna, dan mengena untuk seseorang. Mengena itu tidak senantiasa berkaitan dengan kegunaannya. Saya meminati warna oranye, bukan karena oranye berguna untuk saya, tapi menurut saya bagus, terasa hangat dan tampak baik untuk dikenakan misalnya. Ini user experience. Bagi mereka pengguna setia Android, sekalipun mungkin berganti handset, tetap saja memilih Android. Dalam hal Android ini bisa juga karena manfaat, selain user experience pastinya.

Friday, February 10, 2012

Self-Efficacy in Information Literacy

Kata Self-Efficacy saya dengar pertama ketika membaca salah satu artikel dari Kurbanoglu tentang Self-Efficacy berkaitan dengan literasi informasi. Kemudian saya temukan juga istilah yang sama saat saya membaca salah satu buku  John Ortberg yang berkaitan dengan spiritualitas. Lah kok sama istilahnya. Ternyata istilah itu berasal dari bidang ilmu psikologi. Karena diingatkan lagi tentang istilah itu jadi ingin berbagi tentang self-efficacy terkait dengan literasi informasi.

Tuesday, August 30, 2011

Mahasiswa, Menulis dan Pustakawan

Tiga kata tersebut bukan suatu hal yang sengaja dituliskan dan memberi makna, tapi semata-mata tidak terlintas judul lain yang hendak mewakili hasil pengamatan dan pengalaman setelah selesaikan tugas mengepalai sebuah perpustakaan akademik. Tiga kata tersebut jadi kata kunci karena tiga hal itu jadi bagian dari pengamatan dan kegiatan. Kata kunci yang tak sepadan sebenarnya, karena hanya kata "menulis" yang bukan kata benda, tapi kata itu menghubungkan dua kata benda pengapitnya, "mahasiswa" dan "pustakawan".

Friday, June 17, 2011

Sistem Informasi Perpustakaan: Pustakawan Melek Teknologi Informasi itu Harus!!

Sistem Informasi merupakan kolaborasi manusia, teknologi dan kebijakan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi yang tepat untuk pihak yang tepat pula. Salah satu definisi sistem informasi atau Information system berdasarkan Dictionary of Military and Associated Terms. US Department of Defense 2005 adalah:
The entire infrastructure, organization, personnel, and components that collect, process, store, transmit, display, disseminate, and act on information.
Sebelum komputer memasuki dan berperan di semua bidang, sistem informasi sudah ada tanpa teknologi komputer. Sekarang setiap kali kata "sistem informasi" disebut sering mengacu pada sistem informasi berbasis komputer. Bentuknya berupa software atau perangkat lunak. Produk yang dibangun berdasarkan kebutuhan.  Produk semacam ini wajar jika memiliki harga yang tidak murah. Pertama karena kompetensi yang dimiliki pembangun software harus cukup untuk menerjemahkan kebutuhan kliennya menjadi suatu software. Umumnya tidak dikerjakan sendirian, tapi dalam tim. Alat dan bahan untuk membuat juga berupa software dan hardware, bukan barang murah. Waktu dan komunikasi hal penting dalam pembangunan software. Para pembangun juga harus mempelajari dan memahami situasi dan kondisi serta kebijakan yang berlaku di organisasi klien. Mungkin karena itu programmer (pemrogram/pembangun software) belajar banyak hal di bangku kuliah. Semakin paham, cenderung semakin baik software yang dibangunnya.

Manusia atau personel dalam sistem informasi mempunyai peran penting. Personel yang dimaksud dalam definisi  sistem informasi bukan pembangun software, tapi personel yang terlibat dalam sistem informasi tersebut. Mereka yang membuat dan melakukan kebijakan terhadap pengumpulan dan pengelolaan data serta penyebaran informasi kepada semua pihak yang terkait dalam sistem informasi tersebut. Di perpustkaan, sebagai suatu organisasi, pustakawan menjadi personel penting dalam sistem informasi perpustakaan, baik yang berbasis komputer maupun yang tidak berbasis komputer. Pustakawan yang tahu persis bagaimana sumber informasi itu diolah datanya, bagaimana menyajikan sumber informasi, kebutuhan pemustaka dan semua prosedur yang terjadi di perpustakaan. Pustakawan menguasai itu semua. Ketika pustakawan berhadapan dengan pembangun software, maka pustakawan menjadi sumber informasi bagi pembangun software untuk dapat menghasilkan sistem informasi yang sesuai dan tepat. Komunikasi di antara kedua pihak ini dan pemahaman kedua pihak ini terhadap sistem informasi yang akan dibangun sangat penting.

Harus diakui, berkomunikasi sering menjadi kelemahan para pembangun software karena dunia mereka yang serba teknis dan penuh dengan jargon-jargon yang spesifik. Jurang pemisah antara kedua pihak tersebut yang membuat sistem informasi perpustakaan tidak sesuai dengan kebutuhan perpustakaan yang menggunakan. Banyaknya sistem informasi perpustakaan yang dapat diperoleh secara bebas baik open source maupun tidak, atau yang dapat diperoleh berbayar membuat pustakawan perlu memiliki pemahaman terhadap sistem informasi. 

Keluhan yang pernah saya dengar dari pustakawan tentang pembangunan software adalah :
Proses pengerjaan yang memakan waktu lama, misalnya perpindahan data ke server baru. Pindah data dari satu server ke server lain bukan seperti memindahkan file dari flash disk ke komputer. Tidak sesederhana itu. Kesesuaian perangkat dan kestabilan data harus dijaga

Penambahan fitur pada sistem informasi berujung pada pembayaran. Software bukan mobil yang mudah diberi asesoris tambahan tanpa perubahan bentuk  dasar. Tambahan fitur yang terkesan mudah dan sederhana bisa jadi mempengaruhi fitur lain. Perubahan yang dilakukan bisa jadi mengakibatkan waktu yang lama, keahlian khusus atau bahkan mengubah arsitektur atau kerangka sistemnya. Ini bisa dicegah dengan lengkapnya kebutuhan sistem informasi di tahap awal pengembangan.

Merasa dirugikan oleh kontrak antara perpustakaan dan tim pembangun software. Sebagai klien, pustakawan harus memahami kontrak yang dibuat, tidak mempercayakan kepada pihak tim pembangun software untuk membuat. Kontrak dibuat bersama-sama, dan dipahami kedua belah pihak. Hal yang paling mudah untuk dipahami dari suatu software adalah selalu terdiri dari 3 bagian: proses memasukkan data proses mengolah data dan proses menghasilkan informasi. Secara singkat dapat dikatakan : INPUT-PROCESS -OUTPUT. Dalam kontrak perlu dijelaskan ketiga hal tersebut. Jargon-jargon atau istilah-istilah yang tidak dimengerti harus dijelaskan pada bagian glossary untuk pemahaman bersama. Tim pembangun software yang hebat, mampu mengkomunikasikan apa yang mereka rencanakan dan mampu buat menggunakan istilah yang dapat dipahami oleh kliennya. Tim pembangun yang hebat, berusaha memahami konteks dari kliennya.

Pustakawan harus berani belajar tentang sistem informasi perpustakaan. Sekalipun sekarang banyak sistem informasi perpustakaan yang open source sifatnya, bukan berarti tanpa biaya. Open source artinya sistem informasi tersebut didapat dengan bebas tanpa biaya, dapat dimodifikasi oleh siapapun dan didistribukan kembali juga secara bebas juga. Etika memberikan apresiasi pada setiap kontributor sistem informasi tersebut juga harus diperhatikan. Lalu dimana letak biayanya? Ketika perpustakaan tidak memiliki staff yang kompeten untuk melakukan instalasi dan mengimplementasikan sistem informasi perpustakaan yang open source tersebut, pasti ada biaya jasa untuk melakukannya. Ketika ada kebutuhan pemeliharaan sistem informasi perpustakaan, perlu ada biaya jasa untuk pemeliharaan. Modifikasi yang dilakukan oleh pihak yang kompeten pun harus diapresiasi dengan biaya jasa. Itu semua bukan untuk membayar sistem informasi perpustakaan yang open source itu.  Sistem informasi perpustakaan yang open source biasanya didukung oleh komunitas yang memanfaatkan sistem tersebut dan pembangun yang terus menerus mengembangkan, serta pihak lain yang turut memberikan kontribusi.

Jadi kunci dari sistem informasi perpustakaan adalah personelnya. Personelnya adalah pustakawan. Kalau pustakawannya melek teknologi informasi, maka akan mampu mencari alternatif pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan. Karena itu, pustakawan perlu meningkatkan pengetahuannya dalam bidang teknologi informasi dengan cara apapun, mandiri atau berkelompok.  Salah satu cara adalah datang pada kegiatan atau acara-acara perpustakaan yang berbau teknologi informasi. Jangan hanya staff  teknologinya yang diutus untuk hadir. Rugi! 

Selamat menjalani proses melek teknologi informasi.

Wednesday, April 20, 2011

Literasi Informasi : Sekali lagi tentang evaluasi sumber informasi

Akhir-akhir ini tema ini menjadi sering terbersit dalam benak. Dalam beberapa kesempatan topik evaluasi sumber informasi menjadi topik pilihan untuk kesempatan berbagi. Di Pelatihan Literasi Informasi FPPTI DIY evaluasi sumber informasi menjadi salah satu materi dan mendapat banyak tanggapan dalam diskusi. Kesempatan menulis untuk bunga rampai HUT Teknik Informatika UKDW, topik evaluasi sumber informasi dari aplikasi Web 2.0 menjadi pilihan. Berbagi informasi dalam Sarasehan minat baca bagi anak-anak di usia dini dengan ibu-ibu di Perpustakaan Kota juga tentang evaluasi sumber informasi. 

Yang jelas, kemampuan ini harusnya memang menjadi kebiasaan yang otomatis dilakukan. Kalau tidak maka mutu dari pengetahuan yang kita serap dan produk informasi yang kita hasilkan akan buruk dan tidak dapat dipercaya. Berikut satu video klip dari Central TAFE Library menjelaskan alasan mengapa evaluasi sumber informasi itu penting. Video ini dapat dimanfaatkan untuk kelas literasi informasi pada awal materi evaluasi sumber informasi. Bahasa inggris yang menjadi pengantar seharusnya tidak menjadi penghalang. Ini tahun 2011 lho.




Thursday, August 19, 2010

Information literacy: A Training for Trainer

Mendapat kesempatan untuk berkumpul dengan para pustakawan memang merupakan kesempatan istimewa. Keistimewaan itu saya rasakan ketika diundang untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Literasi Informasi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci. Di sana bertemu dengan para pustakawan yang sebagian besar belum pernah saya kenal sebelumnya. Luar biasa rasanya.

Bertemu lagi dengan Pustakawan Senior seperti Bapak Blasius Sudarsono, selalu menjadi kesempatan untuk cuci otak. Walaupun hasilnya pusing, begitu menurut Hanna Latuputty dan salah seorang pustakawan yang bertanya, itu berarti Bapak berhasil membuat kami, terutama saya berpikir tentang menjadi pembelajar yang mandiri. Konsep diri yang konstruktif ternyata membuat saya berpikir bahwa informasi yang begitu berlimpah seharusnya menjadi modal kuat untuk membangun sesuatu yang baru. Kombinasi dari apa yang dilihat, didengar dan dirasa dapat menghasilkan sesuatu yang baru kalau kebiasaan untuk berproses dan berkarya ada dalam diri.

Pustakawan, secara hakekat adalah pribadi yang dekat dengan informasi dan karya berupa produk informasi. Hanya saja pada kenyataannya, sering kali itu tidak terjadi dalam diri pustakawan. Kemampuan akademik dan intelektual bukan halangannya, tetapi cara memandang diri yang jadi penghambat. Menjadi pembelajar yang mandiri memang harus dimulai dari kebiasaan baru. Orang belajar, tidak malu ketika salah. Orang belajar tidak ragu untuk memulai dari NOL. Orang belajar, menggunakan kesempatan sekalipun sempit. Orang belajar, menggunakan pengalaman diri dan orang lain. Orang belajar, membuat orang lain belajar.

Pelatihan Literasi Informasi ini bermaksud untuk menyiapkan para peserta untuk memberdayakan pemustaka yang dilayani perpustakaan mereka dengan kemampuan untuk memanfaatkan informasi secara efektif dan etis. Memberdayakan orang lain itu berarti dirinya sendiri harus berdaya lebih dulu. Keberdayaannya dapat dicapai dengan menjadi pembelajar yang mandiri. Pelatihan ini hanya memberikan stimulan, petunjuk, awalan dan curahan pemikiran bagaimana dapat berdaya dan lalu memberdayakan. Terus terang, bagi sebagian pustakawan yang datang, ini suatu loncatan yang tinggi. Namun demikian, loncatan itu harus dimulai sekalipun dengan loncatan-loncatan yang lebih kecil dan memerlukan waktu untuk mencapai pemberdayaan. Nah, bertemu dengan pustakawan-pustakawan lain itu adalah pendorong untuk melakukan loncatan.

Bekal dari Bapak Blasius tadi kemudian dilengkapi dengan topik tentang pengukuran dan evaluasi program literasi informasi. Ini bagian perenungan dan refleksi dalam pelaksanaan program literasi informasi. Hasil pengukuran terhadap kemampuan para peserta program literasi informasi menjadi bukti seberapa pemberdayaan yang dilakukan berhasil. Evaluasi program literasi yang diberikan oleh para peserta, maupun hasil dari pengamatan pelaksana adalah modal bagi keberlangsungan dari program literasi informasi selanjutnya.

Topik berikutnya adalah strategi dalam pengajaran. Salah satu informasi yang dibagikan adalah tentang Cognitive Strategies yang membantu individu memahami, mengingat dan menerapkan apa yang diterimanya. Strategi-strategi tersebut adalah : Concept Mapping,Dump and Clump, Visualization, Making Associations, Chunking, Questioning, Scanning, Underlining, Accessing Cues, Using Mnemonics, Sounding out words, Self-checking and Monitoring.
Strategi-strategi tersebut diperkenalkan oleh Ibu Utami untuk membekali para pustakawan dalam persiapan mereka membuat bahan pengajaran literasi informasi pada praktek micro teaching.

Di sini baru terasa bahwa pustakawan ternyata diharapkan dapat mengajar. Ternyata harapan ini agak mengerikan bagi sebagian pustakawan. Mengajar mungkin tidak terpikirkan oleh mereka. Karena apa yang selama ini terlintas ketika mendengar kata tersebut adalah berdiri di muka kelas, dan menghadapi para peserta. Apakah "mengajar" itu senantiasa berarti mempresentasikan materi di depan kelas? Sebenarnya tidak, tapi pada kenyataannya pada praktek micro teaching banyak yang membagikan pengalamannya. Kebanyakan merasa rasa gemetar, grogi dan kehilangan ide begitu berdiri di depan kelas. Bahan ajar mereka yang dipersiapkan secara kelompok dan bagian-bagian yang mereka sudah sepakati untuk dibawakan oleh masing-masing anggota kelompok tidak semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Namun demikian semangat mereka untuk dapat memberikan yang terbaik dan menggunakan kesempatan untuk belajar mengajar benar-benar harus diacungi jempol.

Banyak kelompok memanfaatkan materi-materi workshop pada hari kedua yaitu membaca efektif dengan SQ3R, plagiarisme, dan penggunaan mesin pencari dan evaluasi sumber informasi dari Internet sebagai bahan pengajaran. Mereka mengembangkan bagian dari materi workshop dan mengolahnya dengan dilengkapi dengan permainan atau informasi dalam bentuk multimedia. Dengan demikian apa yang mereka pelajari di workshop hari kedua menjadi lebih jelas dan bahkan lebih berkembang.

Bekal yang diberikan kepada para pustakawan dalam workshop ini sudah cukup untuk masing-masing memulai proses menjadi pembelajar mandiri, yang kemudian menularkan kemandirian dalam belajar kepada pemustakanya dalam suatu tutorial kreasi sendiri.
Tutorial dalam kelas menjadi salah satu pilihan, tapi bukan berarti itu satu-satunya strategi. Bagi mereka yang merasa nyaman tutorial one-to-one, dapat menyediakan jadwal khusus bagi para pemustaka yang memerlukan bantuannya atau bahkan melayani kapanpun mereka membutuhkan tutorial tersebut. Selain itu, mempersiapkan materi literasi informasi yang siap diakses dalam format apapun untuk pemustaka dapat mempelajari sendiri adalah cara lain menyajikan tutorial. Pemanfaatan multimedia akan sangat membantu tutorial jenis ini.

Training for Trainer ini sudah mempersiapkan trainers-wanna be yang penuh semangat. Penting untuk menjaga semangat mengembangkan diri agar mampu mengembangkan orang lain.

Pengukuran dan Evaluasi Program Literasi Informasi

*dipresentasikan pada Pelatihan Information Literacy Training for IL Trainer 28-30 Juli 2010 di Universitas Pelita Harapan, Lippo Karawaci*

Definisi dan tujuan pengukuran dan evaluasi

Kata assessment ternyata tidak mudah untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ketika digunakan dalam konteks untuk memberi penilaian terhadap suatu kinerja. Kata Bahasa Indoensia untuk assessment dalam beberapa kamus, baik online maupun cetak adalah penaksiran atau pengukuran. Kata pengukuran digunakan dalam materi ini untuk mewakili kata assessment, sekalipun assessment lebih nyaman dan terasa pas untuk digunakan. Sementara kata evaluation sudah membumi di Indonesia dengan kata evaluasi sebagai padanan kata dalam Bahasa Indonesia.

Kedua kata, evaluasi dan pengukuran terkesan dapat saling menggantikan. Tapi ketika dirasakan lagi, dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Berdasarkan beberapa sumber di Internet, pengukuran (assessment) adalah kegiatan untuk menilai kinerja dan dilakukan saat proses itu berlangsung. Sementara evaluasi adalah kegiatan untuk memberikan nilai apakah suatu kegiatan, program atau suatu hal itu sudah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau standar yang digunakan. Evaluasi menggunakan pembanding. Pembanding yang digunakan adalah tujuan yang ditetapkan atau kriteria/standar yang diberlakukan. Seberapa pencapaian yang dihasilkan itu diberi nilai. Itulah evaluasi.

Pengukuran (assessment) pada program literasi informasi diberikan kepada para peserta program. Dalam konteks perpustakaan akademik peserta adalah mahasiswa dan dalam konteks perpustakaan sekolah, peserta adalah siswa yang mengikuti program literasi informasi. Pengukuran tersebut untuk melihat apa yang mereka pelajari dalam program literasi informasi. Sementara evaluasi digunakan untuk menilai program literasi informasi. Program literasi informasi yang dirancang pasti mempunyai tujuan. Untuk itu evaluasi digunakan untuk melihat apakah tujuan program tercapai.

Tujuan Instruksional Program Literasi Informasi

Program literasi informasi adalah program tutorial yang diadakan untuk membekali siswa/mahasiswa dengan kemampuan memanfaatkan informasi dan menggunakan informasi secara efektif dan etis untuk kebutuhan informasi mereka. Tujuan yang ditentukan oleh penyelenggara program adalah setiap mahasiswa/siswa yang telah mengikuti program ini memiliki kemampuan tersebut. Tujuan umum tersebut dirinci menjadi beberapa tujuan-tujuan yang lebih khusus sesuai dengan tutorial yang disajikan. Masing-masing tutorial yang tercakup di dalam program memiliki tujuan masing-masing yang akhirnya kesatuannya membentuk tujuan program literasi informasi.

Memulai program literasi informasi diawali dengan mengetahui kebutuhan atau masalah kemampuan yang berkaitan dengan pemanfaatan informasi oleh siswa/mahasiswa. Hal ini dapat dilakukan dengan survey atau observasi terhadap mereka dan dengan bekal temuan kebutuhan tersebut, dibentuklah proposal program literasi informasi. Proposal tersebut kemudian diwujudkan dalam program literasi informasi. Dalam proposal telah tercantum jelas tujuan dari program yang akan dijabarkan menjadi tujuan umum tiap modul, dan setiap tujuan umum modul menjadi dasar bagi tujuan khususnya. Selain itu model literasi informasi yang akan digunakan sebagai dasar program ditetapkan dan dicantumkan dalam proposal program. Model literasi informasi tersebut akan mendasari perancangan detil program dan modul.

Pada setiap modul ditetapkan tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). TIU dan TIK dapat mengacu pada standar model literasi informasi yang digunakan. Misalnya pada model literasi informasi BIG 6, langkah kedua information Seeking Strategies atau strategi pencarian informasi. Standar yang ditetapkan adalah:

  1. Determine all possible sources/Menentukan sumber-sumber yang tersedia

  2. Select the best sources/ Memilih sumber yang terbaik/tepat.

Ada beberapa modul yang dapat dihasilkan seperti :

  1. Modul pencarian informasi dengan mesin pencari di Internet

  2. Modul pemanfaatan e-journal

  3. Modul evaluasi informasi dari web dan web 2.0

Pengukuran dibuat berdasarkan TIU dan TIK modul berupa tes atau ujian yang beragam bentuknya. Hasil dari pengukuran setiap peserta secara keseluruhan akan menghasilkan pola atau gambaran kinerja atau pencapaian kelas. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan standar yang ditetapkan. Hasil pembandingan tersebut adalah hasil evaluasi terhadap peserta progam literasi informasi dan juga evaluasi terhadap program literasi informasi. Evaluasi terhadap program literasi informasi dapat dilakukan secara khusus dengan alat pengukuran seperti kuesioner atau pertanyaan terbuka.

Metode Pengukuran dan Evaluasi

Pemilihan metode pengukuran dan evaluasi didasari pada beberapa hal yaitu:

  1. kepada siapa hasil pengukuran dan evaluasi tersebut ditujukan

Pemilihan metode berdasarkan tujuan pengukuran, kepada siapa pengukuran diperuntukkan, dan apa yang akan dinilai. Sebagai contoh tujuan pengukuran adalah untuk menilai pencapaian peserta dalam memahami materi yang diberikan. Hasil pengukuran untuk manager atau kepada siapa kita bertanggung-jawab. Hasil tersebut akan digunakannya untuk memperlihatkan hasil program LI dan memutuskan keberlanjutan dari program tersebut setelah pelaksanaan. Objek yang dapat diukur adalah instruktur program LI dan kemampuan peserta program LI.

  1. tipe data apa yang diperlukan untuk mendapatkan gambaran dari hasil program

Tentukan data yang diperlukan. Seberapa tepat, rinci atau detil. Bentuknya numerik atau deskripsi. Jika bertujuan untuk meningkatkan perfoma program selanjutnya, maka data yang diperlukan berkaitan dengan sikap dan opini dari peserta program berkaitan dengan hasil pembelajaran.

  1. pelaksanaan pengukuran dan evaluasi

Hal-hal praktis yang perlu diperhatikan berkaitan dengan waktu pelaksanaan: kapan dan berapa lama. Alat-alat yang digunakan, lingkungan tempat pelaksanaan, dan teknologi yang mungkin terlibat dalam pelaksanaan. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan adanya pengukuran secara online dan dilakukan kapanpun pada lingkungan yang ditentukan oleh yang peserta program LI.

Metode-metode pengukuran dan evaluasi dapat didasari pada waktu pelaksanaan pengukuran/evaluasi, jenis data yang diperlukan dan standar penilaian yang digunakan.

1. Formative dan Summative

Pengukuran formative untuk memberi umpan balik ke pengajar dan dilakukan saat produk/program berlangsung. Pengukuran dilakukan saat kelas berlangsung untuk melihat efektifitas dari penyajian materi. Informasi yang diberikan adalah bagian mana dari pengajaran yang berhasil/berjalan dengan baik dan bagian mana yang perlu perbaikan. Formative pengukuran didasari pada teknik pengukuran informal: observasi kelas.

Pengukuran summative menentukan pengaruh atau hasil dari program atau produk setelah dilaksanakan. Pengukuran ini dilakukan setelah kelas selesai dan hasilnya digunakan untuk memastikan apakah standar yang digunakan sudah dipenuhi. Pengukuran ini bentuknya formal dan temuannya sebagai bahan pertanggung-jawaban program. Pengukuran ini untuk menjawab pertanyaan apakah kelas ini perlu dilanjutkan atau tidak. Pengukuran ini adalah evaluasi.

2. Kualitatif dan Kuantitatif

Metode kualitatif bersifat deskriptif dan berasal dari interview, observasi, pertanyaan terbuka dan laporan pribadi. Peserta diskusikan apa yang mereka temukan: apa yang sukses, kurang, tepat, berguna, dan cara lain yang mereka pikirkan. Hasil tidak dikategorikan dalam kriteria pencapaian tertentu. Katagori justru kadang terbentuk setelah data dikumpulkan dan direview untuk menentukan beberapa katagori. Metode ini memungkinkan munculnya respon yang tidak terpikirkan. Dipilih untuk program yang tujuannya dapat diukur tanpa menggunakan angka dan deskripsinya bermanfaat untuk menilai, mengubah dan melanjutkan program.

Pendekatan kuantitatif cenderung pada test objektif yang tidak memberikan indikasi proses belajar yang jelas. Sekalipun kuantitatif banyak digunakan, metode kualitatif mulai digunakan untuk mengukur kemampuan dari peserta. Pendekatan ini lebih menyeluruh sehingga keseluruhan fenomena tertangkap.

Kualitatif biasanya digunakan pada pengukuran kognitif/humanis karena mau menangkap apa yang terjadi pada pikiran seorang pembelajar. Pengukuran kognitif/humanis yang efektif biasanya untuk: metode mengajar yang menekankan pada: self-directed learning, berpikir kritis, belajar aktif, dan relevansi. Bentuk informasi yang diperlukan dan diharapkan adalah kunci dari penentukan penggunaan kuantitatif atau kualitatif. Keduanya dapat dikumpulkan, dianalisis dan memberi makna. Sebagai contoh kuesioner (numerik/kuantitatif) diberikan kepada para peserta program LI di akhir program (summative) dan kuesioner tersebut dibuat dengan Google Docs dan tersaji secara online.

Alat-alat Pengukuran dan Evaluasi

Beberapa alat pengukuran dan evaluasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut beserta penjelasan dari karakteristik alat pengukuran tersebut :

  1. Objective test : pertanyaan dengan pilihan jawaban yang pasti seperti contohnya: pilihan ganda, matching, true/false. Mengumpulkan fakta tapi tidak dapat menguji kemampuan kognitif. Tidak cocok untuk kebutuhan program LI.

  2. Essay atau pertanyaan terbuka: fleksibel, mengumpulkan data berupa deskripsi dan opini. Hasil sulit dinilai.

  3. Kuesioner untuk mendapatkan gambaran tentang sikap dan opini dengan berbagai jenis pertanyaan. Jawaban pada kluster tengah lebih sering terjadi.

  4. Wawancara: menghabiskan banyak waktu, arah dapat disesuaikan dengan kebutuhan hal yang perlu diuji pada tiap orang dapat berbeda

  5. Performance Assessment: menilai melalui pengamatan peserta melakukan hal-hal yang harus dilakukan. Kadang-kadang kurang valid karena mereka dapat berlaku kurang alami karena tahu kalau diamati

  6. Product Assessment: memberikan hasil yang jelas, tapi tidak tahu proses yang dijalani untuk mendapatkan hasil itu

  7. Classroom Assessment Techniques (CAT) menggunakan Minute Paper. Pertanyaan-pertanyaan diajukan di kelas saat mengerjakan langkah-langkah tertentu dan mereka harus menjawab pada secarik kertas pada waktu yang terbatas. Cara ini dianggap paling cocok untuk pengukuran kemampuan peserta program LI.

Penggunaan dan pemilihan alat sangat dipengaruhi oleh tujuan dari pengukuran.

Merancang Pengukuran pada Program Literasi Informasi

Berikut ini merupakan contoh rencana pengukuran terhadap peserta program LI yang mengunakan model literasi informasi : BIG 6, terutama pada langkah Information Seeking Strategies atau strategi pencarian informasi. Dalam contoh ini pencarian informasi dilakukan dengan menggunakan mesin pencari di Internet. Peserta dianggap mampu melakukan pencarian jika telah memenuhi standar. Standar yang digunakan diambil dari BIG6 pada langkah 2 yaitu :

1. Determine all possible sources/Menentukan sumber-sumber yang tersedia

2. Select the best sources/ Memilih sumber yang terbaik/tepat

Tujuan instruksional (TIU) dari modul Pencarian Informasi di Internet adalah : membekali mahasiswa dengan cara melakukan pencarian dan evaluasi sumber informasi di Internet menggunakan mesin pencari secara efisien dan efektif. Berikut rancangan dari pengukuran yang akan dilakukan:


TIK

Indikator

Metode Pengukuran

Alat ukur

1. Setelah mengikuti kelas ini, mahasiswa mampu menentukan beberapa kata kunci yang tepat untuk kebutuhan informasinya

1. mampu menentukan kata benda dari deskripsi kebutuhan informasi untuk kata kunci

2. mampu membahasakan dalam bahasa Inggris

3. mampu mendapatkan padanan kata untuk pencarian berikutnya

Formative

Minute paper

1. tuliskan kata-kata kunci yang digunakan berdasarkan urutan penggunaan dan hasil yang didapatkan

2. dari mana mendapatkan padanan kata, dan kata kunci apa yang paling tepat untuk hasilkan sumber informasi yang dimaksud?

2. Setelah mengikuti kelas ini, mahasiswa mampu menentukan strategi pencarian informasi dengan mesin pencari secara efisien dan efektif

Mampu gunakan penelusuran lanjut pada mesin pencari

Formative

Minute Paper berupa tugas pencarian :

1. Pencarian dari domain khusus

2.Pencarian dari domain khusus dan file khusus

3. Pencarian yang menyempit dengan hilangkan kata tertentu dan file khusus

3. Setelah mengikuti kelas ini, mahasiswa mampu menetapkan sumber informasi yang sah dan dapat dipertanggung-jawabkan

Mampu membuktikan faktor-faktor penentu keabsahan sumber informasi.

Formative

Minute Paper :

Menentukan sumber informasi dan memberikan argumentasi keabsahan sumber informasi.

4. Setelah mengikuti kelas ini, mahasiswa mampu menentukan sejumlah sumber informasi dari Internet yang tepat untuk kebutuhan informasinya.

Mampu memberikan daftar sumber informasi, kata kunci yang digunakan untuk mendapatkan, dan argumentasi keabsahan sumber informasi

Summative

Product Assessment

1. Tentukan 2 sumber informasi yang sah dan bertanggung jawab dari Internet untuk kebutuhan informasi bentuk-bentuk kreatif menyajikan tur perpustakaan bagi mahasiswa baru

2. Tentukan 2 sumber ifnormasi yang sah dan bertanggung jawab dari Internet untuk kebutuhan informasi cara mengajar satu mata ajar untuk siswa SD/SMP./SMA.


Kriteria-kriteria keberhasilan untuk setiap pengukuran dapat ditetapkan berdasarkan indikator-indikator pencapaian TIK di atas. Misalnya pada TIK ke 3, indikatornya adalah mampu membuktikan faktor-faktor penentu keabsahan sumber informasi. Untuk menentukan keabsahan sumber informasi dari Internet hal-hal yang harus dipenuhi adalah :

  1. Pengarang: kompetensi tepat atau tidak tepat, dan terbukti

  2. Domain situs: kesesuaian dengan kebutuhan

  3. Pembaharuan informasi di situs: kekinian dari informasi

  4. Link terkait : jika ada link, terkait atau tidak

  5. Tujuan informasi yang disajikan: kesesuaian dengan kebutuhan

  6. Situs pembanding: informasi saling mendukung atau tidak

Jika apa yang dilakukan peserta sesuai dengan kriteria, maka peserta dinyatakan mampu untuk mencapai TIK.

Evaluasi program literasi informasi dapat dilakukan dengan menyiapkan beberapa pertanyaan tentang pelaksanaan program, situasi kelas, materi yang diberikan dan instruktur yang mendampingi dengan menyediakan beberapa alternatif jawaban. Bentuk berupa kuesioner dan dilengkapi dengan pertanyaan terbuka yang memberi kesempatan bagi peserta untuk menjawab sesuai dengan apa yang dirasakan, dialami dan dipikirkannya. Jawaban-jawaban dari pertanyaan terbuka kadang-kadang melebihi dari apa yang dipikirkan atau diperkirakan oleh pelaksanaan program LI.

Sebagai contoh, beberapa deskripsi berikut adalah catatan singkat tentang pengalaman mengikuti 4 pertemuan kelas literasi informasi untuk mahasiswa program studi Teologia di UKDW.

JB:

Literasi informasi itu sangat luas dan kompleks, banyak hal yang menarik untuk dipelajari. Bukan hanya untuk mencari informasi yang tepat tetapi berbagi informasi juga. Mendapatkan informasi yang akurat itu tidaklah mudah, untuk memahami langkah-langkah mencari informasi diperlukan ketelitian dan kepekaan serta ketepatan cara. Meskipun belum sepenuhnya menguasai materi dan langkah-langkahnya serta pengaplikasiannya, belajar literasi informasi di semester ini sangat mendukung untuk matakuliah lainnya. tapi sayang kelas "literasi informasi" hanya dibuka tuk empat minggu saja, inipun bagian dari kelas Bahasa Indonesia.


NP:

Dari hasil pembelajaran ini saya sangat merasa tertolong dalam pencarian data tetapi cara yang dalam pengaktifasian suatu web sangat sulit Khususnya Mindmeister.com selalu mengalami kesalahan password. tetapi keseluruhan pembelajaran ini menarik untuk dibahas karena sedikit menantang saya untuk mencari apa yang menjadi permasalahan. yang membuat saya tertarik untuk mempelajari literasi informasi adalah saya menjadi sangat terbantu dalam pencarian bahan serta materi untuk membuat paper dan pekerjaan lain.

EA:

sebelum belajar Literasi Informasi saya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya memperoleh dan mengidentifikasi data. Saya sungguh berterimakasih karena dengan adanya belajar Literasi Informasi saya sudah mampu lebih cepat dan tepat dalam mencari informasi. bukan hanya itu, saya juga sudah tahu ada banyak cara untuk menggunakan search engine dan selain search engine kita juga dapat menggunakan metasearch. waahhh,,,, pokoknya banyak banget hal baru yang saya temukan.


Hal yang tidak dipikirkan sebelumnya dan muncul diutarakan adalah beberapa dari mereka merasa pertemuan sebanyak 4 kali di awal kuliah Bahasa Indonesia kurang untuk mereka dapat melengkapi diri mereka dengan kemampuan-kemampuan literasi informasi yang dibutuhkan. Ide yang muncul adalah program ini terpisah dari matakuliah apapun dan diselenggarakan semester penuh. Pelaksanaan program literasi informasi juga mendapat tanggapan positif dan dirasa mendukung kegiatan belajar mereka. Ini adalah alasan penting untuk melanjutkan dan mengadakan program literasi informasi.

Penutup

Program literasi informasi merupakan program tutorial yang dapat diselenggarakan dengan banyak cara, sebagai syarat dari program tutorial, pengukuran hasil proses tutorial harus ada dan merupakan bukti apakah tutorial yang disampaikan berhasil atau tidak. Hasil pengukuran terhadap peserta program literasi informasi akan menjadi suatu gambaran pencapaian dari program. Apapun hasilnya menggambarkan bagaimana program itu terlaksana. Ini berarti evaluasi bagi program literasi informasi.

Sumber Belajar

  1. (2010).“Information Literacy Program Assessment”. Kramer Family Library. . University of Colorado at Colorado Springs (UCCS). Online di: http://www.uccs.edu/~library/services/infolit/assessment.html . Tgl akses 18 Juli 2010.

  2. ATHERTON J S (2010). Learning and Teaching; Assessment .UK.Online: http://www.learningandteaching.info/teaching/assessment.htm Tgl Akses: 21 July 2010

  3. Grassian, Esther S. Kaplowits, Joan R.(2001). Information Literacy Instruction: Theory and Practive.Neal-Schuman Publishers, Inc. New York.

  4. Pausch, Lois M..(2010).“Assessment of Information Literacy: Lessons from the Higher Education Assessment Movement”. ACRL. ALA. Online di: http://www.ala.org/ala/mgrps/divs/acrl/publications/whitepapers/nashville/pauschpopp.cfm. Tgl Akses: 18 Juli 2010

Tambahan sumber informasi :

  1. Assessment of Information Literacy http://jonathan.mueller.faculty.noctrl.edu/infolitassessments.htm

  2. Classrooms Assessment Techniques. Center of Excellence in Learning and Teaching, Iowa University http://www.celt.iastate.edu/teaching/cat.html

  3. Faculty Development: Teaching Tips Index. University of Hawaii, Honolulu Community College. http://honolulu.hawaii.edu/intranet/committees/FacDevCom/guidebk/teachtip/teachtip.htm

  4. Pausch, Lois M..“Assessment of Information Literacy: Lessons from the Higher Education Assessment Movement”. ACRL. (2010). ALA. Online di: http://www.ala.org/ala/mgrps/divs/acrl/publications/whitepapers/nashville/pauschpopp.cfm.

  5. Chartered Institute of Educational Assessors. http://www.ciea.org.uk/knowledge_centre/articles_speeches/general_articles.aspx.