Pages

Showing posts with label Human Resources. Show all posts
Showing posts with label Human Resources. Show all posts

Wednesday, October 17, 2012

Mobile Technology and Library

Conference on  GenNext Libraries 2012 di Universiti Brunei Darussalam (8-10 Oktober 2012): Emerging Technologies: New Direction for Libraries

Istilah generation next atau gennext memberikan penekanan pada situasi pengguna perpustakaan yang pada umumnya adalah generasi next yang sangat akrab dengan teknologi informasi terutama komputer dan peralatan elektronik bergerak yang sangat personal sifatnya untuk mengakses informasi dari berbagai sumber.
Aplikasi bergerak atau mobile application menjadi pokok bahasan dari beberapa pembicara.  Keynote speaker Joe Murphy (@libraryfuture) membahas tentang bagaimana mobile gadget dimanfaatkan oleh pengguna untuk mengakses informasi dari berbagai sumber. Hal menarik dari presentasinya adalah aplikasi sosial seperti Facebook, Twitter dan Google+ tidak hanya membuat orang terkoneksi dengan orang lain, tapi juga menghubungkan orang dengan sumber informasi yang dibagikan lewat media itu. Informasi dapat dalam format apapun. Percakapan yang berpotensi mengandung pengetahuan dapat terjadi karena informasi yang dibagikan dalam bentuk teks, foto, atau lokasi. Dengan mobile gadget berbagi informasi menjadi lebih banyak, karena dimanapun orang dapat membagikan informasi.

Friday, February 10, 2012

Self-Efficacy in Information Literacy

Kata Self-Efficacy saya dengar pertama ketika membaca salah satu artikel dari Kurbanoglu tentang Self-Efficacy berkaitan dengan literasi informasi. Kemudian saya temukan juga istilah yang sama saat saya membaca salah satu buku  John Ortberg yang berkaitan dengan spiritualitas. Lah kok sama istilahnya. Ternyata istilah itu berasal dari bidang ilmu psikologi. Karena diingatkan lagi tentang istilah itu jadi ingin berbagi tentang self-efficacy terkait dengan literasi informasi.

Tuesday, August 30, 2011

Mahasiswa, Menulis dan Pustakawan

Tiga kata tersebut bukan suatu hal yang sengaja dituliskan dan memberi makna, tapi semata-mata tidak terlintas judul lain yang hendak mewakili hasil pengamatan dan pengalaman setelah selesaikan tugas mengepalai sebuah perpustakaan akademik. Tiga kata tersebut jadi kata kunci karena tiga hal itu jadi bagian dari pengamatan dan kegiatan. Kata kunci yang tak sepadan sebenarnya, karena hanya kata "menulis" yang bukan kata benda, tapi kata itu menghubungkan dua kata benda pengapitnya, "mahasiswa" dan "pustakawan".

Tuesday, February 01, 2011

Lowongan Tenaga TI di Perpustakaan UKDW

Universitas Kristen Duta Wacana membutuhkan 1 (satu ) orang Tenaga Profesional untuk UPT Perpustakaan dengan syarat sebagai berikut :

  1. Lulusan S1 Bidang Teknik Informatika/Teknologi Informasi/Sistem Informasi
  2. IPK minimal 2.75 dari 4.0
  3. Pria atau wanita maksimal 35 th
  4. Terbuka bagi Fresh Graduate atau yang berpengalaman
  5. Beragama Kristen/Katholik
  6. Berdomisili di Yogyakarta atau bersedia untuk berdomisili di Yogyakarta
  7. Menguasai atau punya pengalaman menggunakan PHP dan JAVA
  8. Punya semangat untuk belajar hal baru dan kreatif
  9. Memiliki talenta untuk mengajar orang lain
  10. Kemampuan berbahasa Inggris minimal pasif
  11. Baik dan lancar dalam komunikasi verbal dan tertulis
  12. Bersedia mengerjakan pekerjaan bidang Perpustakaan
Lamaran dikirim ke :
REKTOR UKDW
Jl. Dr. Wahidin 5-25 Yogyakarta 55224

Dilengkapi dengan :
  1. FC Ijazah dan transkrip akademik
  2. FC KTP
  3. CV yang mencantumkan alamat email dan no. ponsel
  4. Surat Rekomendasi dari Gereja
  5. Surat keterangan Sehat dari Dokter
  6. Pas foto 3x4
 Lamaran paling lambat diterima tgl 18 Februari 2011

Sunday, July 18, 2010

Information Literacy: a librarian is a teacher?

Di tengah proses menyelesaikan materi tentang pengukuran dan evaluasi program literasi informasi, saya membaca sebuah artikel tentang pengukuran atau assessment dari ACRL[1]. Artikel itu menjadi salah satu sumber materi yang saya susun. Waktu membacanya, imajinasi saya bermain-main. Artikel itu bicara tentang pengalaman melakukan pengukuran dalam program literasi informasi dan juga bagaimana melakukan kolaborasi dengan fakultas dalam mengadakan program literasi informasi. Maksudnya agar pengukuran yang akan dilakukan memang menggambarkan kemampuan yang seutuhnya. Imajinasi saya tidak terhenti di situ. Saya membayangkan bahwa untuk melakukan pengukuran, pengajaran dan juga kolaborasi dengan fakultas, dalam hal ini para pengajar/dosen. Para pustakawan itu harus punya modal.

Coba saja dibayangkan ketika hendak membuat program literasi informasi. Pustakawan harus menguasai kemampuan-kemampuan yang hendak diajarkan. Bagaimana bisa tahu apa yang harus dikuasai? Ya melakukan survey apa yang menjadi kebutuhan para penggunanya atau komunitas targetnya. Menguasai bukan titik akhir, tapi harus bisa mengajarkan. Menguasai untuk diri sendiri dan mengajarkan kepada orang lain khususnya dalam sebuah kelas, tidaklah sama. Karena itu pustakawannya perlu memahami tentang pengajaran. Bagaimana menjadi pengajar. Dalam hal pengajaran tentu saja belajar tentang pengukuran tadi atau assessment dan evaluasi. Untuk mengajar, karena perpustakaan bukanlah sebuah program studi atau fakultas, maka perlu kreatif dalam menyajikan sesi pengajaran.

Pilihan mengadakan kelas tidak selalu mudah karena jadwal dan penggunanya meliputi semuanya, tidak hanya dari satu program studi atau fakultas (maaf ini konteksnya perpustakaan akademik pendidikan tinggi). Pilihan lain adalah menggunakan teknologi. Mungkin juga harus membuat rekaman video, atau materi online yang tertayang di situs perpustakaan atau paket materi literasi informasi dalam suatu file. Itu semua mengharuskan pustakawan mampu melakukannya. Banyak sekali yang harus dipelajari dan dikuasai.

Terakhir pustakawan harus mampu menjadi sparing partner para dosen. Nah ini dia.. kapan ya kira-kira pustakawan kita dianggap sejajar dengan para dosen sehingga memiliki daya tawar yang sama?

Kira-kira semua itu ada diajarkan dan dibekali saat calon pustakawan berada di program studi ilmu perpustakaan atau sejenisnya kah?

-----------------------------

Thursday, May 20, 2010

Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi Pustakawan Umum DIY

Dewan Perpustakaan DIY melihat pentingnya peluang mengembangkan masyarakat untuk dapat belajar secara mandiri melalui peran perpustakaan umum di daerahnya. Dalam rangka itu, pustakawan umum perlu diberdayakan lebih dulu untuk dapat memberdayakan masyarakat yang dilayaninya. Pemberdayaan pustakawan umum daerah dilakukan melalui pelatihan, yaitu BIMBINGAN TEKNIS LITERASI INFORMASI BAGI PUSTAKAWAN UMUM DIY. Sebagai penyelenggara, BPAD bekerja sama dengan Universitas Kristen Duta Wacana untuk menyelenggarakan bimbingan teknis ini pada tanggal 18-20 Mei 2010. Pelatihan yang berlangsung 3 hari ini bertujuan untuk memperkenalkan Literasi Informasi kepada pustakawan umum yang berasal dari setiap kabupaten di DIY dan pustakawan provinsi sejumlah 15 orang.

Pengenalan Literasi Informasi ini meliputi penjelasan tentang Literasi Informasi, mengenal dan berlatih menggunakan BIG 6 melalui rangkaian memanfaatkan Internet sebagai media membangun produk informasi. Pelatihan ini menggunakan pendekatan berbasis proyek untuk memberi kesempatan kepada peserta mengalami pembangunan produk informasi berdasarkan model literasi informasi BIG6 yang terdiri dari 6 langkah :
  1. Task Definition(mendefinisikan tugas)
  2. Information Seeking Strategies (strategi mencari informasi)
  3. Location and Access (lokasi dan akses)
  4. Use of Information (menggunakan informasi)
  5. Synthesis (sintesis: menggabungkan informasi-informasi yang diperoleh untuk membentuk produk informasi)
  6. Evaluation (Evaluasi)
Didasari pada model Big6, Umi Proboyekti dan A. Tri Susiati menyampaikan materi-materi literasi informasi yang dirancang untuk bimbingan teknis ini :
  1. Pembukaan dan Overview tentang Pelatihan
  2. Pengenalan Literasi Informasi: definisi dan model informasi BIG6
  3. Identifikasi dan pemetaan kebutuhan informasi dan pengenalan sumber informasi
  4. Pemetaan kebutuhan informasi Produk Informasi dan Evaluasi pemahaman literasi informasi
  5. Memanfaatkan search engine Google : (1) Strategi, (2) evaluasi sumber informasi
  6. Web 2.0 : blog, slideshare, flickr, delicious, (1) konsep Web2.0, (2) evaluasi
  7. Pembangunan Produk (1) Blogging (2) pencarian informasi yang relevan pada aplikasi Web 2.0 (3) pertautan dari aplikasi Web 2.0 lainnya
  8. Pembangunan Produk(2) : menulis pada blog
  9. Presentasi Produk Informasi
Literasi Informasi bagi sebagian peserta merupakan istilah yang tidak asing, tapi kebanyakan dari mereka tidak cukup jelas apa yang dibalik Literasi Informasi tersebut. Setelah penjelasan dan diskusi di sesi pengenalan Literasi Informasi, para peserta telah menemukan pemahaman awal tentang Literasi Informasi :
kemampuan memperoleh, mencerna dan mendayagunakan informasi dengan menggunakan etika (Runi Andriyati)

suatu cara untuk mendapatkan dan menggunakan inforamsi desuai denan kebutuhan sehingga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dan mampu mengatasi masalah (Siti Indarwati)

kemampuan kita untuk mencari, mengolah, menggunakan dan menyampaikan informasi secara efektif dan etis (Fitri)

kemampuan mendapatkan informasi dari berbagai sumber kemudian mengolahnya dengan menggunakan sumber-sumber yang relevan untuk disajikan dalam bentuk informasi lain yang berguna (Indri)

Hubungannya dengan SDM dan tugas sebagai pustakawan adalah aktivitas memilah, mengolah dan menyampaikan informasi secara efektif dan efisien dengan berbagai macam cara (Mufti)

suatu kemampuan untuk mencari, menemukan, mendefinisikan, menggunakan, meyusun, dan mengevaluasi informasi dengan cara/strategi dan alat tertentu/media tertentu yang dilakukan secara efektif, selestif, tertata dan dapat dipertanggung jawabkan (Sri Rahayu)

Kemampuan/keahlian yang dimiliki seseorang dalam memahami suatu permasalahan/informasi mengetahui sumber beserta cara memperoleh informasi tersebut, mengetahui segi kemanfaatannya, sehianga dapat menggunakan dan /atau menginformasikan kembali secara efektif, etis dan isinya dapat dipertanggung-jawabkan (Heryanti)

Suatu kondisi dimana kita sudah melek huruf dan informasi yang artinya kita tidak hanya bisa membaca, menulis dan mengartikan tetapi juga mampu memahami dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif dan etis (Silvia Lusiandri)

Pemahaman terhada masalah-masalah yang terjadi, kemudian mampu memilah dan menganalisis masalah tersebut dan mampu pula untuk mencari solusi-splusi pemecahannya (Iman Sukwana)

Suatu rangkaian kemampuan pustakawan dalam menerima suatu informasi kemudian menganalisis informasi tersebut dengan seksama, dapat menggunakan dan menyampaikan informasi tersebut kepada orang lain secara efektif dan etis serta mempunyai kemampuan dalam menanggapi feedback dengan bijak dan baik. (Nurlia)

Kemampuan seseorang dalam memahami masalah, mendapatkan informasi dari data-data yang diolah, mampu menganalisis data-data tersebut yang dalam bentuk informasi serta mampu bagaimana mengunakan informasi tersebut secara efektif, efisien dan etis, yang selanjutnya bisa serta mampu mengolah informasi yang didapatkan untuk diberikan/disajikan kepada orang lain yang membutuhkan, sehingga informasi tersebut bisa lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain (Ratri Suci Nazarani)

Kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, mengolah dan menyampaikan ifnormasi, baik menggunakan alat bantu maupun tidak (Budiyono)

Bagaimana kita mnedapatkan data yang kemudian kita olah menjadi sebuah informasi. Tentu saja informasi itu kita analisis, kita tata; apakah informasi itu benar atau salah, legal atau ilegal hingga terbentuk informasi yang valid dan bertanggung jawab. Setelah semua proses tersebut barulah ktia sampaikan kepada yang membutuhkan, tentunya informasi itu efekti dan etis sehignga muncul respon atau pun opini dari penerima informasi, yang mungkin memunculkan evaluasi kembali. (Arif)

kemampuan untuk dapat menanggapi, menyampaikan dan menggunakan informasi secara efektif dan etis. (Ari)

kemampuan seseorang untuk mengelola informasi dengan cara tertentu disesuaikan kebutuhan yang diinginkan. (Atmi Satwati)
Berangkat dari pemahaman masing-masing tentang literasi informasi, para peserta memulai perjalanan mereka untuk mengalami membuat produk informasi dengan mengikuti langkah-langkah Big6. Setiap peserta diminta untuk membuat blog pribadi yang isinya berkaitan dengan profesinya sebagai pustakawan. Untuk itu setiap peserta diminta untuk membuat sebuah mindmap yang menjelaskan konteks dan jangkauan dari blog yang akan mereka bangun.
Karena produk informasi yang mereka buat berformat elektronik, maka informasi yang dibangunpun berasal dari sumber informasi elektronik. Dalam bimbingan teknis ini sumber informasi yang dikenalkan adalah Flickr, Youtube dan Slideshare.

Membangun produk berupa blog ini memang membutuhkan kemampuan dasar seperti: mampu melakukan registrasi pada aplikasi online, tahu bagaimana menggunakan email, paham istilah dan prosedur registrasi, mengenal manfaat dasar mesin pencari, dan mampu memahami istilah dalam Bahasa Inggris sederhana dan umum. Kemampuan-kemampuan dasar ini diperlukan saat pembuatan produk blog agar dapat dikembangkan ke kemampuan yang berkaitan dengan konten dan bukan teknis seperti evaluasi, dan juga menyajikan informasi bagi target yang ditentukan.


Saturday, May 15, 2010

Lowongan Kerja di Perpustakaan

Akhirnya kami diijinkan mencari teman baru untuk berkarya di Perpustakaan, dari jumlah 3 orang yang ajukan, kami hanya diijinkan untuk mencari 1 orang teman saja. Merasa kurang, tapi kami tetap bersyukur untuk kesempatan mendapatkan teman baru. Paling tidak, Pimpinan mengijinkan kami mencari dengan spesifikasi khusus, sesuai dengan kebutuhan kami, tidak membuat kami mencari dari dalam (mutasi) tanpa spesifikasi yang cocok di Perpustakaan. Ini suatu kemajuan, perbaikan, tetap harus dihargai.

Demikian pengumuman lowongan kerja, dilengkapi dengan kriteria dan tenggat waktu proses rekrutmen.

LOWONGAN PEKERJAAN
Universitas Kristen Duta Wacana membutuhkan 1 (satu) orang Tenaga Profesional untuk UPT Perpustakaan, dengan syarat sebagai berikut:

1.Pria/Wanita berusia maksimal 35 tahun
2.Pendidikan S1-Ilmu Perpustakaan
3.Indeks Prestasi Kumulatif minimal 3.0
4.Terbuka bagi freh graduate atau yang berpengalaman
5.Kristiani
6.Berdomisili di Yogyakarta atau bersedia untuk berdomisili di Yogyakarta
7.Mempunyai kemampuan dalam hal komputer dan internet:
  • Aplikasi perkantoran
  • Mesin pencari
  • Aplikasi Web 2.0 : blog dan aplikasi jaringan sosial
  • Email dan mailing list
8.Memiliki pemahaman tentangLiterasi Informasi
9.Punya semangat untuk belajar dan kreatif
10.Memiliki talenta untuk mengajar orang lain
11.Kemampuan bahasa Inggris setara dengan TOEFL 450
12.Baik dan lancar dalam komunikasi verbal dan tertulis
13.Percaya diri dan memahami profesinya

Lamaran dikirim kepada Rektor UKDW, Jl. Dr. Wahidin 5 – 25 Yogyakarta
Dilengkapi dengan :
  1. Fotocopy ijazah dan transkrip akademik
  2. Fotocopy KTP
  3. Curiculum Vitae (cantumkan alamat e-mail / no. hp )
  4. Surat Rekomendasi dari Gereja
  5. Pas foto 3x4

Jadwal formasi penerimaan sebagai berikut:
1.Lamaran diterima paling lambat 11 Juni 2010 jam 14.00 WIB
2.Seleksi administrasi 14 Juni 2010
3.Pengiriman surat panggilan (via sms / email) 14-15 Juni 2010
4.Psikotes dan Tes Bahasa Inggris 16-17 Juni 2010
5.Wawancara (berdasarkan hasil tes) 22 Juni 2010
6.Tes Kompetensi 24 Juni 2010
7.Briefing kerja 28 – 30 Juni 2010
8.Orientasi kerja 1 Juli 2010

Sambil terus berharap, mendapatkan teman baru yang tepat.

Friday, February 19, 2010

Pilar Library 2.0

Bergabung dengan sebuah sosial network berbasis NING.COM tentang Library 2.0 yaitu http://library20.ning.com/ membuat saya berada di antara begitu banyak orang-orang yang berkecimpung, dan tertarik pada library2.0. Library 2.0 dibahas dari segala sudut, cerita tentang pengalaman membangun dan menjalankan Library2.0. Pemanfaatan teknologi Web 2.0 menjadi suatu hal yang sering didengungkan dalam setiap topik. Kepiawaian dan keaktifan pemanfaatan Web2.0 menjadi salah satu fokus pembahasan dan pengalaman yang dibagikan.

Satu pertanyaan yang terlintas di benak saya adalah apakah teknologi informasi menjadi suatu yang mutlak dalam Library 2.0? Benak saya lalu mencoba menguraikan jawabannya.
Konsep Web2.0 yang menjadi penunjang utama Library2.0, demikian banyak disebut, memiliki ciri partisipatori. Ini artinya melalui teknologi itu, pengguna saling berbagi informasi, berbagi tanya, berbagi jawab dan berbagi pengalaman. Pengguna bertemu dengan pengguna dan tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Jarak tidak menjadi masalah, perkenalan dapat terjadi sebelum atau sesudah. Teknologi tersedia, manusianya memanfaatkan lalu terjalinlah pertukaran informasi, saling memberdayakan. Manusia memberdayakan manusia. Dalam hal ini manusia yang terlibat adalah Pustakawan dan Pemustakanya. Jalinan ini yang sebenarnya membentuk Library2.0. Yang unik dari jalinan ini adalah keduanya adalah penyedia informasi, dan berpotensi untuk saling memberdayakan.

Lalu saya berpikir, jalinan ini bukan merupakan bentuk hubungan antara pustakawan dan pemustakanya versi perpustakaan sebelum Library2.0 kan? Yang saya mengerti, maaf kalau kurang tepat, pustakawan dianggap yang lebih tahu dan berkompeten sehingga melayani layanan rujukan untuk menolong pemustaka yang datang dengan kebutuhan informasi. Pemustaka mendapat jawaban dari pustakawan sehingga kebutuhan informasinya terpenuhi. Di lain kesempatan pemustaka mendapat pengajaran dari pemustaka bagaimana menggunakan katalog online, menggunakan mesin pencari, memilih sumber informasi yang tepat dan menelusur jurnal elektronik. Pemustaka diberdayakan oleh pustakawan.

Dalam konsep Library2.0, pemustaka punya kesempatan untuk menambahkan informasi pada katalog online perpustakaan dengan review buku yang baru dibacanya. Penjelasan tentang apa yang didapat, manfaat dan pengalaman yang dialami saat membaca buku tersebut. Penjelasan itu adalah informasi yang berguna bagi pemustaka lain yang akan membaca buku itu. Seperti saat akan membeli buku di Amazon.com, review dan rekomendasi dari pembaca buku tersebut penting sebagai pedoman untuk menentukan apakah buku tersebut tepat atau tidak.
Dalam kasus ini pemustaka mempunyai peran seperti pustakawan. Pemustaka memberdayakan pemustaka lainnya.

Dalam kasus lain, beberapa pemustaka mungkin saja mengungkapkan kebutuhan informasi yang sama atau mirip. Ini menjadi masukan bagi pustakawan bahwa komunitas pemustakanya mempunyai kebutuhan informasi dan membutukan pemberdayaan untuk bisa memenuhi kebutuhan informasi mereka. Dengan bekal informasi ini, pustakawan dapat menyajikan layanan di perpustakaan yang tepat bagi komunitas pemustakanya. Dengan demikian perpustakaan berkembang, perpustakaan dibutuhkan, perpustakaan punya peran dan perpustakaan punya makna bagi komunitasnya.

Itu semua karena ada jalinan di antara pustakawan dan pemustaka yang sifatnya partisipatori.

Pertanyaan selanjutnya, apakah harus menggunakan teknologi Web2.0 untuk mencapai kondisi tersebut? Saya berani menjawab tidak.
Fokusnya justru pada jalinan tersebut, bukan alatnya. Jalinan tersebut dapat terwujud karena perubahan cara pandang. Bukan karena ada alatnya. Jika pada akhirnya jumlah pemustaka yang terjangkau layanan tersebut terbatas karena alat yang digunakan, itu jadi hal lain.
Teknologi Web2.0 menjadikan jalinan yang bersifat partisipatori tersebut menjadi lebih luas jangkauannya, karenanya yang terlayani lebih banyak, sajian pelayanannya jadi lebih bervariasi dan sifatnya multimedia. Waktu dan tempat tidak menjadi halangan, karena jalinan itu dapat terjadi secara fisik atau maya. Jadi, kalau dikatakan bahwa teknologi Web2.0 sangat mendukung Library 2.0 saya amat sangat setuju.

Dengan demikian pilar penting Library 2.0 adalah Librarian 2.0 (pustakawan 2.0) dan User 2.0 (pemustaka 2.0) dan disempurnakan oleh teknologi Web2.0.

Jadi, saudara-saudaraku para pustakawan, bangkitlah.. dan sudah waktunya berlari, jangan hanya berjalan karena sudah ketinggalan, untuk menjadi Librarian 2.0.

[Asli.. ini emang saya ngomporin]

Monday, June 08, 2009

Digital Humanities

Workshop on Digital Humanities: Global Technologies and Local Knowledge tgl 19-22 Mei 2009 di Hong Kong merupakan workshop yang memberikan banyak inspirasi kepada semua peserta. Hal yang unik dari penyelenggaraan workshop ini adalah, sebagian peserta adalah pembicara yang membagikan proyek-proyek yang berkaitan dengan pelestarian koleksi kearifan lokal yang dipublikasikan dengan berbagai cara agar kearifan tersebut tidak hilang dan dapat dikenal secara luas melalui teknologi informasi yang mengglobal.

Para peserta datang dari berbagai negara di Asia : Indonesia, Timor Leste, Thailand, Vietnam, Taiwan, China, Korea, Filipina dan India. Berbagi informasi di antara para peserta selama workshop berlangsung sangat intensif secara kolektif dalam setiap sesi, termasuk saat duduk bersama di meja makan dan saat berada dalam shuttle bus. Sesi-sesi yang terangkai sejak pagi hingga malam memang melelahkan, tetapi sangat inspiratif sehingga setiap peserta terinspirasi dengan ide-ide baru. Sementara itu penyajian materi didukung dengan sarana teknologi yang beragam, termasuk telekonferensi yang dilakukan untuk para pembicara yang berada di luar Hong Kong dan di zona waktu yang jauh berbeda.

Pelestarian kearifan lokal yang dikerjakan di Tibet, Korea Selatan, Filipina, Cina dan Thailand dilakukan dengan metode atau cara yang berbeda oleh kelompok akademik.

Kearifan lokal di Tibet melibatkan mahasiswa matakuliah Bahasa Inggris yang mendapat tugas untuk mengabadikan karya-karya budaya dalam segala bentuk. Upacara tradisional, alat-alat masak, makanan, alat rumah tangga, pakaian adat dan sebagainya direkam dengan kamera digital bekas dan kamera video. Mereka harus mencari informasi tentang objek yang mereka rekam, lalu informasi tersebut dituliskan dalam Bahasa Inggris dengan baik. Hasil-hasil rekaman tersebut disajikan dalam suatu website untuk disajikan secara global. Dengan metode ini mahasiswa belajar Bahasa Inggris untuk berbagai aktifitas seperti : belajar menggunakan alat-alat digital, berdiskusi tentang lokasi dan jenis budaya yang akan diamati, belajar membangun website dan mempersiapkan narasi hasil rekaman. Dengan demikian kemampuan mahasiswa setelah mengikuti kuliah Bahasa Inggris ini tidak hanya seputar tentang Bahasa Inggris saja.

Ewha University di Korea Selatan punya matakuliah lain yaitu Digital Humanities yang memang fokusnya adalah berkaitan dengan dua hal: digital dan humanities. Pelestarian karakter tradisional Dokkaebi dengan menggunakan teknologi digital menjadi salah satu proyek yang dikembangkan bersama-sama dengan mahasiswa. Karakter-karakter yang dimanusiakan dilestarikan dan dipromosikan lewat sebuah permainan karakter 3 dimensi online.

Pelestarian budaya juga dilakukan di Thailand oleh Payap University. Suatu proyek khusus diselenggarakan untuk mengumpulkan informasi-informasi tentang tradisi suatu kelompok masyarakat yang mulai punah. Semua hasil temuan digunakan untuk penelitian selanjutnya dan disebarkan luas.

Selain pelestarian budaya yang memanfaatkan teknologi digital, pemanfaatan teknologi atau aplikasi teknologi informasi untuk pengajaran pun menjadi salah satu sumber inspirasi yang menarik. Hal yang menjadi catatan dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam pengajaran adalah peran yang berbeda dari pengajar yang bersangkutan. Misalnya pemanfaatan game untuk mengajar mahasiswa membuat cerita dan mengasah logika. Hasil karya mahasiswa adalah sebuah game yang memiliki skenario yang menjadi permainan. Selain itu, aplikasi online yang umum seperti Moodle, Dspace, dan Edu20 dibangun khusus untuk menunjang pengajaran yang melibatkan teknologi untuk menyampaikan materi, kolaborasi dan evaluasi.

Di tengah-tengah banyaknya ide-ide yang muncul, Spencer Benson dan David Kennedy membawakan presentasi yang menyadarkan bahwa mahasiswa yang kita hadapi adalah digital natives yang mengenal teknologi informasi dan peralatan digital sejak mereka sangat muda sehingga kemampuan mereka menggunakan melebihi generasi digital immigrants yang menadaptasi teknologi informasi dan peralatan digital di masa dewasa. Kesenjangan ini perlu disadari untuk dijembatani. Memisahkan generasi digital natives dari teknologi informasi adalah hal yang tidak perlu dilakukan, tapi justru mereka dapat dijangkau melalui teknologi informasi.

Yang menjadi tantangan besar adalah digital divide pada generasi digital immigrant yang masih enggan dan kurang percaya pada penggunaan teknologi informasi dalam pengajaran atau proses belajar-mengajar. Digital divide ini akan terkikis jika generasi digital immigrant meningkatkan digital literacy-nya sebagai modal memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar-mengajar. Digital Divide juga berkaitan dengan sarana dan prasarana. Digital literacy memang mutlak didukung dengan sarana dan prasarana teknologi informasi.

Para peserta workshop yang berprofesi pustakawan, pengajar dan tenaga ahli teknologi informasi menghadapi suatu kenyataan bahwa apapun profesi mereka, mereka perlu menyadari posisi mereka ketika berhadapan dengan teknologi informasi apakah sebagai digital natives atau digital immigrant. Dengan profesi mereka, bagaimana dapat menjembatani digital divide jika itu menjadi tantangan dalam mengusahakan pelestarian budaya dan mempromosikan nilai-nilai kearifan lokal secara terbuka.

Friday, December 26, 2008

Facebook : Fenomena berbagi, berekspresi dan bertemu

Lama tidak menulis di blog ini karena banyak alasan. Selain karena kesibukan di perpustakaan yang sedang morat-marit dengan agenda tata-ulang, mengajar dan konsultasi membutuhkan waktu dan tenaga yang besar.  Di sela-sela kesibukan tersebut, relaksasi baru diperkenalkan oleh mahasiswa, yaitu FACEBOOK. Aplikasi berjejaring sosial di Internet ini ternyata punya magnet yang berbeda. Sekalipun awalnya ragu karena sudah punya akun di Friendster dan tak menikmatinya, akhirnya membuat juga akun di FACEBOOK. Memang ternyata rasanya beda. Dari segi penampilan, FACEBOOK terkesan bersih dan rapi.  Sekalipun sponsor masih ada, tapi diberi tempat di samping sehingga tidak mengurangi keleluasaan pemilik akun untuk beraktifitas di halamannya. 

Tersedianya berbagi aplikasi menarik membuat para pemilik akun dapat beraktifitas baik secara mandiri maupun bersama dengan rekan-rekannya. Untuk bagian aplikasi ini, saya termasuk old fashion, yang memilih dengan hati-hati dan tidak gampang tertarik untuk hal-hal yang disarankan oleh rekan-rekan. 
Menambah jumlah teman, merupakan target awal. Hal ini sangat mudah karena bagi seorang dosen gaul seperti saya [Narsis MODE ON], satu mahasiswa tahu, maka yang lain akan seperti kesetrum untuk minta saya masukkan mereka dalam daftar teman di akun saya. Begitulah, jumlah teman makin banyak.  Tidak puas dengan hanya daftar teman berisi mahasiswa, saya mulai mencari teman-teman sekolah S2, dan ternyata saya mendapatkan 1 dari mereka. Teman lain yang saya kenal dari kelompok Bible Study group Gereja tempat saya beribadah di River Forest pun ditemukan di FACEBOOK. Wah senangnya. Tambah lagi ketika menemukan teman sesama orang asing dari Thailand dan teman lama dari Canada yang dulu, lebih dari 10 tahun yang lalu, pernah 1 th tinggal di Yogyakarta juga ditemukan di FACEBOOK. Wuih, berwarnalah daftar teman di akun. 

Ketika masih terkesima dengan hasil temuan itu, seseorang menemukan saya di FACEBOOK sebagai orang yang sama-sama tinggal di Sungai-Gerong di tahun 80an. Teman main sepatu roda itu tak mengenali saya dari nama lengkap, karena dia hanya mengenal nama kecildi saya.Tidak hanya sampai di situ, ditemukannya satu orang, menyebabkan pertemuan-pertemuan lain yang terkait dengan orang tersebut. Akhirnya saya bertemu dengan teman masa kecil, teman berangkat sekolah sejak kelas 3 SD sampai 3 SMP /kelas 9. Terharu saya gara-gara teknologi ini.

Sisi personal dari aplikasi ini adalah kebersamaan yang diciptakan melalui komentar-komentar yang dapat disampaikan dalam berbagai cara: komentar pada status, komentar pada dinding akun teman, komentar pada foto yang ditempelkan, komentar pada catatan yang dituliskan. Semua publikasi tersebut terpampang untuk kalangan teman-teman dalam daftar. Ini membuat guyub karena bisa saling beradu komentar pada satu dinding teman beramai-ramai seakan-akan ngobrol. Gila, kadang sampai lupa bahwa itu terjadi di dunia maya, dan yang betul-betul di depan secara fisik adalah komputer, bukan teman itu. 

Kalau sudah begini, yang tadinya hanya untuk relaksasi berubah status menjadi kebutuhan pokok. Akhirnya FACEBOOK jadi aplikasi yang wajib login setiap hari, dimanapun. Update-update status orang, menemukan teman lama, berbagi catatan atau membaca catatan yang lain jadi benar-benar konsumtif waktu dan tenaga, tapi dengan gembira.  Baca puisi teman, jadi ketularan tulis puisi sekalipun asal puisi yang penting dari hati. Sebarkan informasi tentang apa saja yang menarik hati. Lalu akhirnya terpikir juga untuk mengumpulkan opini atau masukan dari orang-orang dalam daftar teman [mahasiswa, alumni, kolega dan teman] tentang suatu  permasalahan. Hasilnya, banyak yang berkomentar dan memberi masukan. Wah, betul-betul otentik hasilnya, karena pemberi pendapat cenderung merasa aman untuk menyatakan pendapatnya melalui aplikasi berjejaring sosial ini. 

Kecenderungan lebih terbuka untuk ekspos diri juga terjadi di Facebook. Pemilik akun dengan mudah mengganti statusnya sesering mungkin sesuai dengan situasinya, perasaannya, atau apapun juga. Lebih dari itu kita bisa promosikan diri melalui, salah satunya, informasi tentang diri sendiri. Hal-hal yang terkait dengan diri dapat dipamerkan pada bagian info diri. Salah satu teman, bahkan mendapatkan proyek dari pertemuan dengan klien di Facebook.Orang-orang lain yang seprofesi dengan kita dapat juga ditemukan dan menjadi peluang untuk berjejaring lebih luas.  Seberapa banyak orang lain tahu tentang diri kita dapat ditentukan sendiri. 

Saya lalu membayangkan [baru sampai tahap membayangkan saja!] jika perpustakaan memiliki satu akun di Facebook, sementara para pengguna [dalam hal ini mahasiswa kalau di dunia perpustakaan akademik] akan berinteraksi dengan perpustakaan [not physically] melalui aplikasi jejaring sosial ini. Wah, dalam bayangan saya ini pasti seru sekali. Banyak hal yang dapat dilakukan melalui aplikasi ini.
  1. semua pengumuman yang berkaitan dengan layanan bisa disampaikan di sini dan komentar, tanggapan dapat langsung diberikan
  2. pertanyaan-pertanyaan referensi dapat dijawab di sini 
  3. segala usulan tentang layanan, koleksi dan pengembangan perpustakaan bisa tumpah ruah di sini
  4. mahasiswapun dapat saling berbagi di sini sehingga transfer pengetahuan terjadi dari banyak pihak
  5. berbagi review buku dan rekomendasi koleksi yang sesuai juga dari banyak pihak
  6. ketidakpuasan terhadap layanan atau prosedur dapat cepat terungkap 
  7. kritik dan saran mudah didapatkan
  8. Ide pengembangan berasal dari sumber yang tak terbatas
Hingar bingar itu akan berpengaruh pada perpustakaan secara fisik. Seperti halnya secara pribadi saya jadi lebih dekat dengan mahasiswa gara-gara Facebook, Perpustakaan akan makin diminati dan dekat dengan penggunanya karena adanya hubungan khusus di dunia maya itu. Dengan demikian perkembangan perpustakaan akan berharmonisasi dengan kebutuhan penggunanya karena komunikasi kebutuhan dan kepentingan dapat dilakukan dengan mudah, tidak ada lagi prosedur untuk mendapatkan itu.

Harga yang harus dibayar untuk kenyamanan ini tentu saja kemampuan staff untuk berinteraksi di dunia maya. Ini bukan sekedar login dan posting, tapi memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan, mencari jawaban, peka terhadap kemampuan aplikasi untuk mengembangkan layanan di perpustakaan, memanfaatkan fasilitas ini dengan maksimal. Karena urusannya adalah urusan organisasi, maka kebutuhannya akan lebih kompleks dari sekedar kebutuhan pribadi yang berinteraksi dengan orang-orang sesamanya di dunia maya.

Nah, kalau sudah ujung-ujungnya SDM, bisa senut-senut membayangkannya. Untuk menuju ke sana memang tidak hanya sekedar membayangkan, tapi juga harus bisa mewujudkan dengan langkah-langkah yang nyata. 
Sampai saat ini, penggunaan teknologi email  dan chatting untuk berkomunikasi sudah terasa manfaatnya sekali pun belum merata dan maksimal. Perkenalan dengan teknologi informasi di kalangan staff memang perlu waktu dan kegigihan.
 
Hmmm.. apa sudah waktunya mengenalkan Facebook kepada teman-teman di Perpustakaan?

Monday, September 29, 2008

Konflik Manusia

Beratnya jadi Kepala Unit.
Masalah membuat program dan mengerjakan pekerjaan tidak menjadi masalah sekalipun lelah. Apalagi ketika program berbarengan terjadi. Seperti saat ini, perpustakaan kami sedang melakukan re-inputing dan re-processing koleksi. Artinya, kami check koleksi pustaka yang berjumlah 50.000an itu satu persatu dan memperbaiki data elektroniknya, atau melakukan pengklasifikasian ulang jika perlu. Astaganaga kan?

Di samping itu, ada program literasi informasi yang harus dimulai semester ini dan dievaluasi hasilnya. Yang jelas, semua staff perpustakaan yang berjumlah kurang dari 10 orang itu fokus pada re-inputing dan re-processing koleksi, sementara saya bekerja sendirian untuk mengajar literasi informasi mengajar 5 kelas dan masih harus mengajar 4 kelas matakuliah jatah saya semester ini. Tidak mudah memang. Untung mengajar 9 kelas ini hanya 3 minggu, dan selanjutnya mengajar hanya 4 kelas jatah semester ini saja.

Di tengah-tengah keribetan pekerjaan yang tinggi, ternyata masih saja menyisakan tempat bagi sebuah konflik pribadi antara dua pria di perpustakaan. Konflik pribadi ini jadi tidak pribadi ketika keduanya harus bekerja sama dalam proses re-inputing dan re-processing. Komunikasi otomatis tidak ada, pekerjaan yang harusnya dapat dikerjakan lebih mulus jadi agak tersendat karena keduanya enggan kerja sama. Konflik pribadi menjadi kongflik organisasi.

Berbekal training sebagai mediator yang saya ikuti 9 tahun yang lalu, ternyata tidaklah mudah untuk menyelesaikan konflik antar dua manusia pria. Padahal, yang menjadi pokok masalah adalah PRIDE. Andai kata satu kata ini tidak dipegang erat oleh kedua manusia pria berkonflik itu, maka kata maaf akan mudah meluncur, dan suasana pekerjaan jadi lebih baik.

Dalam suatu konflik, semua pihak berkontribusi hingga ada masalah. Jadi tidak seorang pun benar, tidak seorangpun bersih dari masalah. Keduanya wajib menyelesaikan dan mengakui kontribusinya masing-masing.

Sayangnya, setelah bicara dengan keduanya secara terpisah, saya tidak melihat ada inisiatif dari keduanya menyelesaikan masalah ini. Saya tidak melihat dari keduanya tanda-tanda kerendahan hati. Saya tidak melihat dari keduanya tanda-tanda bahwa mereka punya kosa kata MAAF dalam kamus hati mereka.

Sayangnya, saya hanya bisa menjadi mediator, bukan pengambil keputusan bagi mereka bagaimana mereka harus bersikap. Ironisnya, mereka semua lebih tua daripada saya, bekerja di universitas ini lebih lama dari pada saya, dan berkeluarga lebih lama daripada saya.

Betul, tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan

Thursday, July 17, 2008

Kolaborasi untuk Pemberdayaan Anak Bangsa

Judul tulisan ini memang sengaja rada berbau orde baru, biar agak mengganggu saja. Tapi kolaborasi adalah salah satu yang didengungkan pada Indonesian-Workshop on IL di Bogor 7-11 Juli 2008 lalu. Kolaborasi yang dimaksudkan adalah kolaborasi antara Pimpinan lembaga pendidikan, guru dan perpustakaan. Kolaborasi ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan sekalipun untuk tujuan mulia.

Kolaborasi ini bisa terjadi jika ada kepedulian dan kesadaran bahwa pemberdayaan anak bangsa itu tidak dapat dilakukan sendirian entah guru, kepala sekolah atau perpustakaan. Kalau sampai harus ada instruksi dari pemerintah bahwa sekolah harus melibatkan perpustakaan dalam proses belajar mengajar itu sudah keterlaluan. Itu artinya kesadaran tidak ada. Kondisi ini menyebabkan banyak perpustakaan sekolah jadi gudang buku. Staff perpustakaan tidak merasa ada yang perlu dilakukan di dalam perpustakaan kecuali menjaga buku. Ada bahkan yang mengunci ruang perpustakaan jika staff pergi keluar, sehingga perpustakaan tidak dapat digunakan. Kesadaran guru-guru akan memanfaatkan sumber informasi di perpustakaan semaksimal mungkin juga rendah. Sering bahkan perpustakaan jadi tempat hukuman bagi siswa yang bermasalah, ini mencemarkan nama baik perpustakaan. [Aih!]

Guru dan Kepala Sekolah ada yang punya kecenderungan melihat sebelah mata [bukan ngintip lho] pada pustakawan. Anggapan sebagai penjaga buku saja sudah mencerminkan pandangan itu. Padahal pustakawan dapat menjadi rekan dalam memfasilitatori proses belajar mengajar, dengan begitu beban mengajar guru lebih ringan, dan kreatifitas dalam mengajar dapat meningkat. Mengapa? Pustakawan yang tidak terbatasi oleh ruang kelas dan kurikulum dapat memanfaatkan satu subjek mata pelajaran untuk melatih siswa belajar sesuatu dengan metode yang berbeda: project based learning. Metode yang berbeda biasanya menarik. Materi dan sumber informasi yang dimiliki pustakawan beragam [ini karena ilmunya memungkinkan itu]. Dari metode yang digunakan oleh pustakawan, guru dapat ide baru tentang metode dan juga sumber informasi.

Kepala sekolah biasanya dipusingkan dengan performa pengajaran yang kemudian dibuktikan dari hasil Ujian Nasional. Pemanfaatan perpustakaan harusnya bisa jadi pendongkrak performa belajar siswa. Masalahnya terpikir memanfaatkan tidak? Jangan-jangan masih terjebak dengan fungsi perpustakaan yang dipendam dalam-dalam : GUDANG BUKU.

Pustakawan sendiri kadang sudah cukup puas atau langsung ngambek [tidak mau melakukan apa-apa] ketika statusnya dipatok sebagai penjaga buku atau penjaga gudang buku. Padahal potensi seorang pustakawan luar biasa. Dia tidak hanya mampu mengatur organisasinya dan informasi yang didalamnya. Dia menjadi sumber informasi tentang lokasi informasi atau informasi yang diperlukan pengguna perpustakaan. Dia mampu mengajarkan cara akses informasi, memanfaatkan informasi dan menggunakan dengan etis informasi. Dengan begitu banyak potensi, tidak ada alasan untuk berpangku tangan atau ngambek berkembang.
..........
......
[sambung besok.. hari ini pilekku masih mengganggu]
.....
..........
Kadang-kadang situasi perpustakaan kita tidak mendukung: ruang yang kecil, koleksi terbatas, dana juga terbatas [saya pernah dengar ada perpustakaan dananya hanya 1 juta rupiah per tahun], sumber daya manusia juga terbatas dan kurang dukungan dari pimpinan. Semua serba terbatas. Kondisi itu sebenarnya tidak mengurangi ide bagaimana mengembangkan layanan di perpustakaan sehingga pengguna tertarik untuk dilayani di perpustakaan:
  1. Ruang yang kecil dapat ditata ulang dengan mengurangi furnitur yang kurang digunakan sehingga lebih luas. Kebersihan ruang yang prima [kalau perlu juga wangi] akan mendukung layanan.
  2. Koleksi terbatas dapat dikenali dengan lebih mudah. Kenali dan identifikasi koleksi yang bagus tapi tidak terbaca karena kelihatan kurang menarik. Baca dan kemudian buatlah ringkasan ceritanya, promosikan. Siapa tahu tertarik untuk membaca, atau tertarik untuk diceritai [story telling].
  3. Dana terbatas dapat digunakan secara strategis. Pilih fokus penggunaan dana: koleksi, alat, pengembangan manusia, atau mungkin jadi modal untuk proyek yang menghasilkan uang untuk perpustakaan [boleh kan?].
  4. Satu orangpun staff perpustakaan akan dapat berbuat banyak [ada lho perpustakaan akademik dengan 1 staff]. Tambahan teman dari mahasiswa penerima beasiswa adalah salah satu cara menambah teman bekerja dan berkarya.
  5. Dukungan pimpinan kurang, bukan berarti kita mati kutu. Mereka boleh tidak perhatian, tapi karya kita yang dinikmati oleh pengguna bicara lebih keras dari pada keluhan-keluhan kita yang buat kita dan orang lain capek dengarnya.
  6. Evaluasi diri. Coba bertanya kepada beberapa pengguna kita secara informal. Kenapa perpustakaan tidak menarik, atau tidak diminati untuk dikunjungi? Berubahlah. Kalau perlu ada musik di perpustakaan, ada snack kering dan kopi/susu/teh/es sirup tersedia, tempat ngobrol yang enak. Buku-buku ringan tidak selalu harus di rak. Biarkan tertata di meja tempat ngobrol. Siapa tahu ada yang tertarik untuk membaca.
Itu tadi hanya sebagian ide saja yang dapat dilakukan. Keterbatasan itu memang ada, dan menjadi berpengaruh karena kita menjadikannya masalah atau pengaruh yang buat kita mati kutu.

Ganti perspektif donk.

Situasi berubah sering kali karena kita dulu yang berubah. Ketika kita berubah lingkungan sekeliling kita, dalam hal ini guru/dosen dan pimpinan akan juga ikut berubah. Itu akan membuka peluang untuk berkolaborasi. Tidak perlu mengharuskan kolaborasi yang heboh, mulailah dari yang kecil saja. Tingkat pemanfaatan koleksi yang lebih baik untuk pengajaran saja sudah menunjukkan perubahan baik. Punya kesempatan untuk mengungkapkan ide kepada pimpinan atau guru/dosen dalam situasi informal maupun formal pun juga peningkatan. Pimpinan yang normal pasti ingin organisasi yang dipimpinnya jadi lebih hebat. Ide-ide brilian, sekalipun mulai dari yang sederhana, pasti diperlukan. Termasuk ide-ide dari para pustakawan.

Jadi para pustakawan yang masih termangu-mangu: ide-idemu berharga, jadi coba hargailah dirimu sendiri, karena engkau memang berharga.

Wednesday, June 25, 2008

Stuck On You

Situasi Zero Recruitment ternyata tidaklah menjadi tantangan yang besar ketika sumber daya manusia yang tersedia, sekalipun dengan pendidikan formal terbatas, bersedia dan bahkan bersemangat untuk dikembangkan dengan cara apapun. Tantangan yang membuat para pimpinan perpustakaan tak berdaya adalah ketika dalam situasi Zero Recruitment sumber daya manusia yang ada tidak punya niat baik untuk dikembangkan dengan cara apapun. "KALAU BISA SANTAI KENAPA HARUS REPOT?" adalah salah satu prinsip yang menjadi latar belakang mengapa tidak merasa perlu berkembang. Sementara dalam kenyataannya, pekerjaan di perpustakaan tidak ada yang tidak memerlukan ketrampilan dan pengetahuan. Pustakawan bukan penjaga buku, tapi menyediakan layanan untuk membuat : mereka yang membutuhkan informasi menemukan informasi yang tepat, mereka yang tidak tahu jika mereka membutuhkan informasi menjadi terbuka dan memerlukan informasi,mereka yang tidak tahu bagaimana mendapatkan informasi dalam segala format dari media apapun.Manusia adalah pembentuk budaya, budaya terbentuk salah satunya terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan manusia. Dengan demikian, kadang-kadang untuk mengubah budaya, harus mengganti manusianya. Kondisi ini tidak selalu bisa dilakukan di perpustakaan, apalagi jika dilihat dari segi KEMANUSIAAN. Tapi manusia-manusia pembuat budaya yang tidak mau berkembang dan maju harus diapakan?

Situasi seperti ini dialami banyak perpustakaan, bahkan mungkin semua perpustakaan memiliki situasi seperti ini dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Tingginya tingkat sejalan dengan jumlah staff yang sulit dikembangkan. Situasi ini mau tidak mau harus diatasi sekalipun memakan waktu dan membuat perkembangan perpustakaan agak tersendat. Hal yang perlu dimiliki oleh pimpinan perpustakaan adalah pandangan positif terhadap situasi dan orang-orang sulit berkembang itu. Beberapa pandangan positif yang dapat dipegang adalah :
  1. manusia dapat berubah
  2. setiap manusia punya kesempatan kedua banyak kali
  3. setiap manusia punya bakat masing-masing dengan tingkat yang berbeda
  4. setiap masalah ada jalan keluarnya
  5. selalu ada banyak rencana yang dapat dibuat : Plan A, Plan B, Plan C dst.
  6. setiap masalah ada inti masalah yang dapat digali dan diketahui
Berbekal pandangan positif ini, beberapa cara dapat dicoba:
  1. test psikologi untuk test bakat atau problem kepribadian dapat dilakukan untuk mengetahui semua bakat atau kelebihan/kelemahan tiap pribadi. Test ini dilanjutkan dengan konsultasi pribadi dengan psikolog yang menjelaskan hasil test dan membantunya memberi penjelasan alternatif-alternatif yang dapat dilakukan. Hasil test ini dapat menjadi rekomendasi jenis pekerjaan yang sesuai dan pemberdayaan yang tepat bagi staff tersebut. Kemudian, berikan tanggung jawab atau jenis pekerjaan yang sesuai untuk percobaan dengan dilakukan evaluasi.
  2. diskusi langsung dengan staff di luar suasana kantor untuk memberi kesempatan yang bersangkutan untuk menjelaskan visi dan misinya, kesulitan yang dihadapi, situasi di luar kantor yang mempengaruhi, kebutuhan tertentu. Dengan mengetahui lebih lengkap informasi tentang situasinya akan membantu menentukan alternatif-alternatif penyelesaian masalah. Sepakati bersama apa yang akan dikerjakan. Jika memungkinkan hindari keputusan dari satu pihak, tapi dari dua pihak untuk memperlihatkan komitmen bersama. Lakukan alternatif penyelesaian yang disepakati.
  3. magang pada staff lain yang lebih mumpuni dengan diberikan langkah-langkah kerja yang jelas lalu dievaluasi dari dua pihak, staff yang dititipi magang dan yang magang. Jika ternyata tidak cocok karena ketrampilan dan minat tidak sesuai, ganti magang tempat lain. Jika tidak cocok hanya karena ketrampilan, maka diberdayakan dengan kursus khusus.
  4. carikan pekerjaan yang paling dasar dengan ketrampilan dasar selama beberapa waktu dengan langkah-langkah yang jelas, lalu evaluasi. Jika hasil evaluasi baik, tingkatkan dengan pekerjaan berikutnya dengan ketrampilan yang lebih selama beberapa waktu, lalu evaluasi. Beri kesempatan bagi yang bersangkutan untuk memberi masukan apa yang sesuai dengan situasinya. Jika sudah memutuskan jenis pekerjaan apa yang sesuai, berikutnya beri tanggung jawab yang meningkat serta dibekali dengan ketrampilan yang sesuai.
Beberapa cara di atas dapat digunakan, dan semoga beberapa cara di atas justru memunculkan ide-ide lain. Dengan menentukan beberapa alternatif sebelumnya akan menghemat waktu untuk melakukan rencana selanjutnya ketika rencana awal tidak berhasil. Penentuan alternatif-alternatif ini dapat dilakukan dalam suatu tim. Ini akan membuat beban lebih ringan dan juga memberi kesempatan untuk anggota tim meningkatkan kemampuan problem solving. Ini sangat penting dalam suatu organisasi. Pada akhirnya, setiap situasi menjadi kesempatan belajar. Ini suatu perkembangan juga, jadi tidak akan mandeg, terhenti, atau STUCK karena segelintir orang yang masih belum paham bahwa orang hidup itu berkembang.


Tuesday, June 24, 2008

Zero Recruitment

Zero recruitment adalah situasi dimana tidak adanya penambahan karyawan dalam suatu organisasi karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang sering menjadi alasan adalah ekonomi. UUD, ujung-ujungnya duit. Ini banyak terjadi di banyak organisasi, tidak terkecuali institusi perguruan tinggi. Di saat jumlah calon mahasiswa menurun karena tidak lulus UN, berhasilnya program KB atau menurunnya daya bayar sekolah masyarakat setelah dan sebelum BBM naik lagi, maka institusi perguruan tinggi ramai-ramai "mengencangkan ikat pinggang". Sumber daya manusia adalah aset besar dan mahal sehingga banyak perguruan tinggi menahan diri untuk menambah karyawan. Kalaupun menambah, maka biasanya menambah dosen, bukan karyawan non edukatif atau administrasi, termasuk di dalamnya pustakawan.

Kondisi inilah yang menyulitkan perpustakaan ketika membutuhkan staff yang berlatar belakang pendidikan perpustakaan. Kebutuhan ini terbentur pada kebijakan Zero Recruitment, sehingga akhirnya yang kebutuhan staff tersebut diisi oleh karyawan dari unit lain yang tidak punya latar belakang perpustakaan dan bahkan berijazah SMA. Situasi ini mungkin akan terbantu jika institusi kemudian membekali staff tersebut dengan pendidikan formal ilmu perpustakaan. Namun, situasi ini sering kali terlalu ideal. Pada kenyataannya yang ditempatkan sudah berusia 35-40th, masih ditambah tidak tersedianya dana untuk menyekolahkan mereka karena "pengencangan ikat pinggang" tadi, dan tidak adanya program studi di kota setempat yang dapat menerima mahasiswa berusia lebih dari 25th. Satu-satunya pembekalan ilmu perpustakaan dari pelatihan perpustakaan yang diadakan setahun sekali selama 2 bulan. Dua bulan mereka dicekoki semua hal tentang perpustakaan: klasifikasi, layanan sirkulasi, digitalisasi, katalogisasi, referensi, manajemen perpustakaan dan pengarsipan. DUA BULAN SAJA, bahkan ada yang 1 bulan.

[sigh] Ini adalah kondisi yang sebenarnya di perpustakaan. Tidak semua perpustakaan bernasib seperti ini, ada yang lebih beruntung memiliki staff perpustakaan yang berlatar belakang minimal D3 perpustakaan, tapi ada juga yang lebih parah kondisinya daripada situasi di atas. Betapapun kondisi itu, harus dicari hal-hal yang dapat disyukuri, lalu dengan rasa syukur itu menyusun langkah-langkah pemberdayaan staff-staff yang belum berdaya dengan ilmu perpustakaan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberdayakan staff perpustakaan dengan kondisi di atas:
1. evaluasi kinerja perpustakaan
dalam evaluasi ini masing-masing staff dengan semua kemampuannya [bukan keterbatasannya] menjelaskan pengamatan selama bekerja di perpustakaan, baik pengamatan terhadap pekerjaannya dan pengamatan terhadap bagian lain yang berefek maupun tidak berefek pada pekerjaannya. Ini termasuk masalah kebersihan dan tata letak meja kursi baca bahkan jenis tanaman yang diletakkan di perpustakaan.

2. membuat komitmen perubahan
dari evaluasi yang dipresentasikan oleh setiap staff, bersama-sama menentukan apa yang akan diperbuat untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Perbaikan sekecil apapun diputuskan bersama untuk menjadi komitmen bersama. Pastikan bahwa komitmen pemberdayaan diri adalah salah satu diantara perbaikan yang akan dilakukan.

3. berbagi tugas
bentuklah tim yang akan mengerjakan proyek-proyek perubahan. Dalam penentuan tim ini, hindari penentuan dari pimpinan. Ketua tim ini haruslah dari staff perpustakaan agar pekerjaan dapat dikerjakan dengan semangat kebersamaan.

4. mengerjakan pekerjaan secara bertahap
buatlah tahapan-tahapan pengerjaan baik berdasar waktu maupun beban kerja.

Untuk proyek pemberdayaan staff yang berhubungan dengan ketrampilan atau pengetahuan praktis maka ada 2 hal yang dapat dilakukan:
1. Pemberdayaan oleh staff internal perpustakaan atau institusi
  • Kursus singkat diadakan dan diajarkan oleh salah satu staff perpustakaan. Staff yang mengajar wajib membuat bahan mengajar dan dibagikan kepada rekan-rekan untuk diajarkan dalam pertemuan kelas. Misalnya pelatihan Penelusuran dengan Mesin Pencari Google. Tujuan pelatihan dan hasil yang akan dicapai juga harus jelas. Masing-masing staff yang mengikuti harus memastikan bahwa mereka dapat mengikuti kelas dengan baik dan mampu mengerjakan yang dilatihkan.
2. Pemberdayaan oleh pihak luar
  • Staff mengikuti kursus di lingkungan institusi yang diadakan untuk civitas akademika atau umum dengan memastikan terlebih dahulu apa kepentingan kursus tersebut dan apa kompetensi yang akan dicapai melalui kursus itu.
  • Cara lain adalah mengundang pengajar senior atau ahli dari institusi lain untuk mengajar staff-staff secara khusus selama beberapa waktu. Cara ini seperti kursus private di rumah sendiri. Dengan cara ini, kebutuhan dan kenyamanan dapat terjamin. Diskusi dan tanya jawab untuk menggali lebih banyak pengetahuan dari pengajar dapat terjadi dalam cara ini.
Hal lain yang dapat dilakukan untuk memberi semangat untuk memberdayakan diri adalah:
  1. studi banding ke perpustakaan lain. Cara ini terkesan jalan-jalan dan sering kali tidak dimanfaatkan, tapi dari suatu studi banding yang dilakukan dengan benar akan menghasilkan ide-ide menarik yang dapat diadaptasi di perpustakaan.
  2. membangun kerja sama dengan perpustakaan lain untuk melakukan kegiatan bersama, atau mengadakan kegiatan yang mengundang rekan-rekan dari perpustakaan lain untuk seminar, pelatihan, bedah buku, sarasehan, diskusi panel, atau proyek pengembangan bersama.
  3. kerja bergilir pada bagian-bagian yang berbeda. Misalnya bergilir untuk melayani di sirkulasi, di bagian referensi, di bagian pengolahan atau di bagian input data. Ide yang ini perlu mempersiapkan SOP sehingga hasil kerja akan sesuai dengan mutu yang diharapkan.
Apapun yang menjadi cara untuk memberdayakan staff perpustakaan yang tidak berlatar belakang pendidikan perpustakaan, evaluasi hasil pemberdayaan perlu untuk menemukan cara mana yang memberikan banyak dampak atau perubahan terhadap kinerja masing-masing staff. Evaluasi juga untuk menemukan minat dari masing-masing staff untuk mendalami suatu bidang. Pendalaman suatu bidang kemudian diarahkan untuk dapat membekali orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang didapatnya tidak akan berhenti tapi dikondisikan untuk berkembang. Kondisi ini membangun budaya belajar yang terus menerus.

Pada akhirnya, budaya ini juga akan menghasilkan suatu kompetensi standar yang harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat bekerja di perpustakaan. Ini dapat digunakan untuk menyaring orang-orang yang akan ditempatkan oleh pimpinan institusi ketika ada niat untuk menempatkan orang di perpustakaan berhubung orang itu bermasalah di tempat atau di unit lain. Jangan heran, masih banyak pimpinan perguruan tinggi yang melakukan itu.