Friday, September 11, 2009

Mindmapping: Mengembangkan Ide

MindMapping adalah alat untuk memetakan ide yang ada dipikiran kita. Tony Buzan adalah orang yang mengembangkan MindMapping, dua bukunya yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mudah ditemukan di toko buku dan mudah untuk dihabiskan untuk dibaca. Kalau malas membaca buku maka di Internet ada yang dengan sederhana memperkenalkan MindMapping salah satunya adalah JCU Study Skill Online.

MindMapping berguna untuk menjelaskan, menggambarkan dan mencatat suatu ide entahkah yang kita tangkap atau yang hendak kita ungkapkan, secara menyeluruh. Jadi dengan MindMapping kita mendapatkan keseluruhan ide atau mengungkapkan ide dengan menyeluruh. Bentuknya yang sederhana membuat kita menjadi terbantu untuk membaca dengan mudah. Mempelajari MindMapping tidak memerlukan waktu lama. Berkreasi dengan MindMapping merupakan hal yang menyenangkan karena MindMapping melibatkan visual dan warna. Siapapun akan terbantu dengan kedua hal tersebut. Tony Buzan bahkan sangat menekankan dua hal tersebut: visual atau gambar dan warna. Menurutnya jika hanya ada mono tone, atau satu warna, maka itu akan menyebabkan apa yang disajikan menjadi MONOTON dan akhirnya membosankan. MindMapping jauh dari membosankan.

MindMapping membutuhkan alat yang sederhana : kertas, pensil warna, otak dan imajinasi. Pastikan bahwa imajinasi kita tidak tertinggal! Memulai dari tengah-tengah kertas dengan menuliskan ide besar atau topik adalah awal mula imajinasi kita dikembangkan. Berikutnya cabang-cabang yang melengkung (hindari garis lurus, karena menimbulkan monoton juga) untuk menghubungkan topik utama dengan hal-hal yang berkaitan dengan topik. Garis melengkung tersebut menggambarkan asosiasi. Jadi, dalam MindMapping asosiasi adalah yang paling penting!!! Langkah lengkapnya adalah :
topik utama di tengah kertas
  1. garis melengkung atau cabang dari topik utama sebanyak yang kita perlukan. Hindari garis yang terlalu panjang agar hubungan dari topik ke sub topik atau dari sub topik ke sub-sub topik berikutnya tidak terlalu jauh, sehingga hilang asosiasinya (kalau hubungan pacaran jarak jauh tidak enak kan?)
  2. kata kunci pada setiap garis yang ukurannya sepanjang garis lengkung yang dibuat adalah sub topik dari topik utama. Jumlahnya bergantung pada kebutuhan. Ayo.. keluarkan idemu!!
  3. garis lengkung dan kata kunci berikutnya dari sub topik adalah sub-sub topik. (dan seterusnya... hingga menthok idemu)
Gunakan gambar sebagai ganti kata kunci. Gambar yang digunakan haruslah yang mewakili topik atau sub topik. Gunakan warna untuk gambar dan garis lengkung yang dibuat. Berkreasilah!!

Kapan menggunakan MindMapping?
  1. mencatat waktu kuliah
  2. mengungkapkan ide
  3. mempersiapkan bahan ajar
  4. mempersiapkan proposal
  5. brainstorming sendiri atau dengan rekan
  6. membuat catatan rapat
  7. mengumpulkan kebutuhan klien (Software Engineering)
  8. mempersiapkan paper
  9. mengembangkan ide skripsi atau penelitian
  10. (silakan lanjutkan dan temukan....)
Dengan demikian MindMapping membantu kita dalam mencurahkan ide dalam rangka apapun, dan membantu kita untuk melihat gambaran ide secara lengkap.

MindMapping salah satu ketrampilan sederhana yang dapat diajarkan di kelas Literasi Informasi untuk mengajarkan cara mengidentifikasi masalah dan mengembangkan ide untuk memulai membangun produk informasi dalam bentuk apapun.

Dalam pengalaman mengajarkan MindMapping, hal yang sederhana dan menyenangkan ini ternyata tidak selalu dapat ditangkap dengan baik. Yang menjadi masalah adalah :
  1. menentukan kata kunci untuk sub-topik
  2. menentukan sub-topik
Namun demikian, MindMapping tetap mudah untuk disampaikan dan diajarkan. Menggunakan MindMapping dengan lancar perlu berlatih dan melalui latihan tersebut justru akan mengembangkan imajinasi. Imajinasi yang berkembang menimbulkan banyak ide-ide baru.

Jadi tunggu apalagi? Ayo ber-MindMapping!

Monday, June 08, 2009

Digital Humanities

Workshop on Digital Humanities: Global Technologies and Local Knowledge tgl 19-22 Mei 2009 di Hong Kong merupakan workshop yang memberikan banyak inspirasi kepada semua peserta. Hal yang unik dari penyelenggaraan workshop ini adalah, sebagian peserta adalah pembicara yang membagikan proyek-proyek yang berkaitan dengan pelestarian koleksi kearifan lokal yang dipublikasikan dengan berbagai cara agar kearifan tersebut tidak hilang dan dapat dikenal secara luas melalui teknologi informasi yang mengglobal.

Para peserta datang dari berbagai negara di Asia : Indonesia, Timor Leste, Thailand, Vietnam, Taiwan, China, Korea, Filipina dan India. Berbagi informasi di antara para peserta selama workshop berlangsung sangat intensif secara kolektif dalam setiap sesi, termasuk saat duduk bersama di meja makan dan saat berada dalam shuttle bus. Sesi-sesi yang terangkai sejak pagi hingga malam memang melelahkan, tetapi sangat inspiratif sehingga setiap peserta terinspirasi dengan ide-ide baru. Sementara itu penyajian materi didukung dengan sarana teknologi yang beragam, termasuk telekonferensi yang dilakukan untuk para pembicara yang berada di luar Hong Kong dan di zona waktu yang jauh berbeda.

Pelestarian kearifan lokal yang dikerjakan di Tibet, Korea Selatan, Filipina, Cina dan Thailand dilakukan dengan metode atau cara yang berbeda oleh kelompok akademik. 

Kearifan lokal di Tibet melibatkan mahasiswa matakuliah Bahasa Inggris yang mendapat tugas untuk mengabadikan karya-karya budaya dalam segala bentuk. Upacara tradisional, alat-alat masak, makanan, alat rumah tangga, pakaian adat dan sebagainya direkam dengan kamera digital bekas dan kamera video. Mereka harus mencari informasi tentang objek yang mereka rekam, lalu informasi tersebut dituliskan dalam Bahasa Inggris dengan baik. Hasil-hasil rekaman tersebut disajikan dalam suatu website untuk disajikan secara global. Dengan metode ini mahasiswa belajar Bahasa Inggris untuk berbagai aktifitas seperti : belajar menggunakan alat-alat digital, berdiskusi tentang lokasi dan jenis budaya yang akan diamati, belajar membangun website dan mempersiapkan narasi hasil rekaman.  Dengan demikian kemampuan mahasiswa setelah mengikuti kuliah Bahasa Inggris ini tidak hanya seputar tentang Bahasa Inggris saja.

Ewha University di Korea Selatan punya matakuliah lain yaitu Digital Humanities yang memang fokusnya adalah berkaitan dengan dua hal: digital dan humanities.  Pelestarian karakter tradisional Dokkaebi dengan menggunakan teknologi digital menjadi salah satu proyek yang dikembangkan bersama-sama dengan mahasiswa. Karakter-karakter yang dimanusiakan dilestarikan dan dipromosikan lewat sebuah permainan karakter 3 dimensi online. 

Pelestarian budaya juga dilakukan di Thailand oleh Payap University. Suatu proyek khusus diselenggarakan untuk mengumpulkan informasi-informasi tentang tradisi suatu kelompok masyarakat yang mulai punah. Semua hasil temuan digunakan untuk penelitian selanjutnya dan disebarkan luas.

Selain pelestarian budaya yang memanfaatkan teknologi digital,  pemanfaatan teknologi atau aplikasi teknologi informasi untuk pengajaran pun menjadi salah satu sumber inspirasi yang menarik. Hal yang menjadi catatan dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam pengajaran adalah peran yang berbeda dari pengajar yang bersangkutan. Misalnya pemanfaatan game untuk mengajar mahasiswa membuat cerita dan mengasah logika. Hasil karya mahasiswa adalah sebuah game yang memiliki skenario yang menjadi permainan. Selain itu, aplikasi online yang umum seperti Moodle, Dspace, dan  Edu20 dibangun khusus untuk menunjang pengajaran yang melibatkan teknologi untuk menyampaikan materi, kolaborasi dan evaluasi.

Di tengah-tengah banyaknya ide-ide yang muncul, Spencer Benson dan David Kennedy membawakan presentasi yang menyadarkan bahwa mahasiswa yang kita hadapi adalah digital natives yang mengenal teknologi informasi dan peralatan digital sejak mereka sangat muda sehingga kemampuan mereka menggunakan melebihi  generasi digital immigrants yang menadaptasi teknologi informasi dan peralatan digital di masa dewasa.  Kesenjangan ini perlu disadari untuk dijembatani. Memisahkan generasi digital natives dari teknologi informasi adalah hal yang tidak perlu dilakukan, tapi justru mereka dapat dijangkau melalui teknologi informasi.

Yang menjadi tantangan besar adalah digital divide pada generasi digital immigrant yang masih enggan dan kurang percaya pada penggunaan teknologi informasi dalam pengajaran atau proses belajar-mengajar. Digital divide ini akan terkikis jika generasi digital immigrant meningkatkan digital literacy-nya sebagai modal memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar-mengajar.  Digital Divide juga berkaitan dengan sarana dan prasarana. Digital literacy memang mutlak didukung dengan sarana dan prasarana teknologi informasi.

Para peserta workshop yang berprofesi pustakawan, pengajar dan tenaga ahli teknologi informasi menghadapi suatu kenyataan bahwa apapun profesi mereka, mereka perlu menyadari posisi mereka ketika berhadapan dengan teknologi informasi apakah sebagai digital natives atau digital immigrant. Dengan profesi mereka, bagaimana dapat menjembatani digital divide jika itu menjadi tantangan dalam mengusahakan pelestarian budaya dan mempromosikan nilai-nilai kearifan lokal secara terbuka.

Wednesday, April 29, 2009

Jogja Library for All

Jogja Library for All adalah proyek pemerintah DIY yang bertujuan untuk menjadikan DIY sebagai propinsi pendidikan. Kata "pendidikan" lebih tepat dari pada "pelajar", seperti selama ini  Yogya dikenal sebagai kota pelajar. Kapan jadi mahasiswanya kalau pelajar terus? 
Untuk menjadi propinsi pendidikan, hal yang sedang dipromosikan adalah menyajikan layanan dan informasi kekayaan informasi yang dimiliki propinsi DIY, dalam hal ini diawali dengan koleksi perpustakaan  perguruan tinggi di DIY. Cara penyajiannya adalah dengan membangun online catalog bersama yang dapat diakses dari manapun. Cita-cita tidak hanya sampai di sini, tapi nantinya koleksi-koleksi yang ditayangkan secara online ini tidak hanya dapat dilihat saja tapi dapat diakses secara fisik dengan mudah oleh semua mahasiswa dan pelajar di DIY, terlepas mereka dari lembaga pendidikan mana. Dengan tersedianya koleksi diakses secara fisik, maka pengembangan layanan selanjutnya adalah peminjaman koleksi  oleh pengguna dari semua perpustakaan yang tergabung dalam Jogja Library for All. 

Tahapan pertama dari proyek ini berupa kesepakatan terbentuknya Jogja Library for All di antara 4 perpustakaan perguruan tinggi di DIY : UGM, UNY, UII, dan ISI. Penambahan anggota berikutnya berasal dari AMIK Kayani, UAD, UAJY, UKDW, UMY, UPN, USD, STPN. Anggota-anggota berikutnya akan terus bertambah bahkan dari  perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah di DIY. 

Tahapan pertama kemudian disusul dengan inisiatif untuk membuka layanan di setiap perpustakaan unit, perpustakaan anggota Jogjalib.  Layanan yang dimaksud ini adalah layanan akses koleksi yang ditampilkan di online catalog Jogjalib. Layanan ini ditujukan untuk masyarakat DIY untuk dapat mengakses koleksi perpustakaan unit Jogjalib, terlepas apakah mereka mahasiswa atau non-mahasiswa, dengan menjadi anggota Jogjalib yang ditandai dengan kepemilikan atas kartu smart card Jogjalib. 
Kalau selama ini akses ke perpustakaan universitas ada prosedur yang berbeda-beda bagi mahasiswa luar dan masyarakat umum, maka dengan keanggotaan ini, prosedurnya diseragamkan dan perpustakaan unit tetap memiliki otoritas menentukan cara penggunaan dan aturan penggunaan koleksi yang diakses oleh anggota Jogjalib ini.

Silang layan Jogjalib, demikian sebutan untuk layanan ini, diterapkan di beberapa perpustakaan universitas yang bersedia untuk menjalankan pilot project ini. Perpustakaan-perpustakaan unit tersebut adalah : UAJY, UGM, UKDW, UII dan USD. Perpustakaan-perpustakaan unit  pertama yang tergabung dalam Silang Layan Jogjalib ini yang bertugas untuk memikirkan aturan-aturan dan prosedur Silang layan Jogjalib. Semua prosedur dan kebutuhan yang ditentukan kemudian diwujudkan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (dulu BAPERPUSDA) dan Gamatechno sebagai pihak yang bertugas untuk membangun aplikasi komputernya.

Sekarang semua persiapan sudah diujung penyelesaian, dan tinggal kapan dimulai dan dipublikasikan kepada masyarakat. Hal yang perlu dilakukan adalah evaluasi setelah beberapa periode pelaksanaan dan menjajaki pengembangan berikutnya yaitu menambah anggota Silang Layan Jogjalib dari anggota-anggota Jogjalib.

Friday, December 26, 2008

Facebook : Fenomena berbagi, berekspresi dan bertemu

Lama tidak menulis di blog ini karena banyak alasan. Selain karena kesibukan di perpustakaan yang sedang morat-marit dengan agenda tata-ulang, mengajar dan konsultasi membutuhkan waktu dan tenaga yang besar.  Di sela-sela kesibukan tersebut, relaksasi baru diperkenalkan oleh mahasiswa, yaitu FACEBOOK. Aplikasi berjejaring sosial di Internet ini ternyata punya magnet yang berbeda. Sekalipun awalnya ragu karena sudah punya akun di Friendster dan tak menikmatinya, akhirnya membuat juga akun di FACEBOOK. Memang ternyata rasanya beda. Dari segi penampilan, FACEBOOK terkesan bersih dan rapi.  Sekalipun sponsor masih ada, tapi diberi tempat di samping sehingga tidak mengurangi keleluasaan pemilik akun untuk beraktifitas di halamannya. 

Tersedianya berbagi aplikasi menarik membuat para pemilik akun dapat beraktifitas baik secara mandiri maupun bersama dengan rekan-rekannya. Untuk bagian aplikasi ini, saya termasuk old fashion, yang memilih dengan hati-hati dan tidak gampang tertarik untuk hal-hal yang disarankan oleh rekan-rekan. 
Menambah jumlah teman, merupakan target awal. Hal ini sangat mudah karena bagi seorang dosen gaul seperti saya [Narsis MODE ON], satu mahasiswa tahu, maka yang lain akan seperti kesetrum untuk minta saya masukkan mereka dalam daftar teman di akun saya. Begitulah, jumlah teman makin banyak.  Tidak puas dengan hanya daftar teman berisi mahasiswa, saya mulai mencari teman-teman sekolah S2, dan ternyata saya mendapatkan 1 dari mereka. Teman lain yang saya kenal dari kelompok Bible Study group Gereja tempat saya beribadah di River Forest pun ditemukan di FACEBOOK. Wah senangnya. Tambah lagi ketika menemukan teman sesama orang asing dari Thailand dan teman lama dari Canada yang dulu, lebih dari 10 tahun yang lalu, pernah 1 th tinggal di Yogyakarta juga ditemukan di FACEBOOK. Wuih, berwarnalah daftar teman di akun. 

Ketika masih terkesima dengan hasil temuan itu, seseorang menemukan saya di FACEBOOK sebagai orang yang sama-sama tinggal di Sungai-Gerong di tahun 80an. Teman main sepatu roda itu tak mengenali saya dari nama lengkap, karena dia hanya mengenal nama kecildi saya.Tidak hanya sampai di situ, ditemukannya satu orang, menyebabkan pertemuan-pertemuan lain yang terkait dengan orang tersebut. Akhirnya saya bertemu dengan teman masa kecil, teman berangkat sekolah sejak kelas 3 SD sampai 3 SMP /kelas 9. Terharu saya gara-gara teknologi ini.

Sisi personal dari aplikasi ini adalah kebersamaan yang diciptakan melalui komentar-komentar yang dapat disampaikan dalam berbagai cara: komentar pada status, komentar pada dinding akun teman, komentar pada foto yang ditempelkan, komentar pada catatan yang dituliskan. Semua publikasi tersebut terpampang untuk kalangan teman-teman dalam daftar. Ini membuat guyub karena bisa saling beradu komentar pada satu dinding teman beramai-ramai seakan-akan ngobrol. Gila, kadang sampai lupa bahwa itu terjadi di dunia maya, dan yang betul-betul di depan secara fisik adalah komputer, bukan teman itu. 

Kalau sudah begini, yang tadinya hanya untuk relaksasi berubah status menjadi kebutuhan pokok. Akhirnya FACEBOOK jadi aplikasi yang wajib login setiap hari, dimanapun. Update-update status orang, menemukan teman lama, berbagi catatan atau membaca catatan yang lain jadi benar-benar konsumtif waktu dan tenaga, tapi dengan gembira.  Baca puisi teman, jadi ketularan tulis puisi sekalipun asal puisi yang penting dari hati. Sebarkan informasi tentang apa saja yang menarik hati. Lalu akhirnya terpikir juga untuk mengumpulkan opini atau masukan dari orang-orang dalam daftar teman [mahasiswa, alumni, kolega dan teman] tentang suatu  permasalahan. Hasilnya, banyak yang berkomentar dan memberi masukan. Wah, betul-betul otentik hasilnya, karena pemberi pendapat cenderung merasa aman untuk menyatakan pendapatnya melalui aplikasi berjejaring sosial ini. 

Kecenderungan lebih terbuka untuk ekspos diri juga terjadi di Facebook. Pemilik akun dengan mudah mengganti statusnya sesering mungkin sesuai dengan situasinya, perasaannya, atau apapun juga. Lebih dari itu kita bisa promosikan diri melalui, salah satunya, informasi tentang diri sendiri. Hal-hal yang terkait dengan diri dapat dipamerkan pada bagian info diri. Salah satu teman, bahkan mendapatkan proyek dari pertemuan dengan klien di Facebook.Orang-orang lain yang seprofesi dengan kita dapat juga ditemukan dan menjadi peluang untuk berjejaring lebih luas.  Seberapa banyak orang lain tahu tentang diri kita dapat ditentukan sendiri. 

Saya lalu membayangkan [baru sampai tahap membayangkan saja!] jika perpustakaan memiliki satu akun di Facebook, sementara para pengguna [dalam hal ini mahasiswa kalau di dunia perpustakaan akademik] akan berinteraksi dengan perpustakaan [not physically] melalui aplikasi jejaring sosial ini. Wah, dalam bayangan saya ini pasti seru sekali. Banyak hal yang dapat dilakukan melalui aplikasi ini.
  1. semua pengumuman yang berkaitan dengan layanan bisa disampaikan di sini dan komentar, tanggapan dapat langsung diberikan
  2. pertanyaan-pertanyaan referensi dapat dijawab di sini 
  3. segala usulan tentang layanan, koleksi dan pengembangan perpustakaan bisa tumpah ruah di sini
  4. mahasiswapun dapat saling berbagi di sini sehingga transfer pengetahuan terjadi dari banyak pihak
  5. berbagi review buku dan rekomendasi koleksi yang sesuai juga dari banyak pihak
  6. ketidakpuasan terhadap layanan atau prosedur dapat cepat terungkap 
  7. kritik dan saran mudah didapatkan
  8. Ide pengembangan berasal dari sumber yang tak terbatas
Hingar bingar itu akan berpengaruh pada perpustakaan secara fisik. Seperti halnya secara pribadi saya jadi lebih dekat dengan mahasiswa gara-gara Facebook, Perpustakaan akan makin diminati dan dekat dengan penggunanya karena adanya hubungan khusus di dunia maya itu. Dengan demikian perkembangan perpustakaan akan berharmonisasi dengan kebutuhan penggunanya karena komunikasi kebutuhan dan kepentingan dapat dilakukan dengan mudah, tidak ada lagi prosedur untuk mendapatkan itu.

Harga yang harus dibayar untuk kenyamanan ini tentu saja kemampuan staff untuk berinteraksi di dunia maya. Ini bukan sekedar login dan posting, tapi memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan, mencari jawaban, peka terhadap kemampuan aplikasi untuk mengembangkan layanan di perpustakaan, memanfaatkan fasilitas ini dengan maksimal. Karena urusannya adalah urusan organisasi, maka kebutuhannya akan lebih kompleks dari sekedar kebutuhan pribadi yang berinteraksi dengan orang-orang sesamanya di dunia maya.

Nah, kalau sudah ujung-ujungnya SDM, bisa senut-senut membayangkannya. Untuk menuju ke sana memang tidak hanya sekedar membayangkan, tapi juga harus bisa mewujudkan dengan langkah-langkah yang nyata. 
Sampai saat ini, penggunaan teknologi email  dan chatting untuk berkomunikasi sudah terasa manfaatnya sekali pun belum merata dan maksimal. Perkenalan dengan teknologi informasi di kalangan staff memang perlu waktu dan kegigihan.
 
Hmmm.. apa sudah waktunya mengenalkan Facebook kepada teman-teman di Perpustakaan?

Thursday, October 23, 2008

Literasi Informasi untuk Guru

Salah satu tugas saya semester ini adalah menjadi Ketua Program Service Learning. Ini program KKN yang dimodifikasi menjadi proyek layanan masyarakat berdasarkan kebutuhan. Semester ini kami mendapat permintaan untuk mengajar kelas-kelas komputer untuk siswa SMA di kota Yogya. Ada dua SMA yang memasukkan permintaan layanan masyarakat ini. Maka kami menerjunkan dua kelompok mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem Informasi sebanyak 15 orang untuk masing-masing SMA.

Selain menjadi ketua, saya juga salah satu dosen pendamping kelompok [kayak kurang aja kerjaannya] dan siang ini kami, dosen pendamping dan mahasiswa kelompok service learning berkumpul untuk ngobrol bareng tentang apa dan bagaimana kegiatan mereka di lokasi service learning. Mereka yang berjumlah 15 ini memiliki tanggung jawab untuk mengajar siswa kelas 10-12 pada jadwal yang sudah ditentukan dan materi yang diminta dari sekolah. Mereka juga mengajar Selain itu, ada proyek analisis sistem informasi untuk mengelola manajemen sekolah, pengajaran, kesiswaan dan juga perpustakaan. Untuk itu dalam obrolan siang, pembicaraan berkisar antara tugas-tugas mereka dan hal-hal yang mereka temukan berkait dengan tugas-tugas tersebut.

Mengajar Siswa
Mereka menemukan bahwa mengajar siswa SMA lebih sulit daripada mengajar mahasiswa, adik-adik kelas mereka. Maklum sebagian dari mereka juga aktif sebagai asisten dosen di lab. Ketertarikan kepada komputer tidak merata sehingga ada yang tidak peduli sama sekali. Sementara ketika sudah berhubungan dengan Internet, yang mereka tahu hanya Friendster, Facebook, email dan chatting. Internet masih menjadi tempat hiburan, bukan tempat belajar, berkolaborasi, dan menambah pengetahuan tentang banyak hal lain.
Kelas komputer juga terkesan setengah hati. Kurikulum tidak disusun sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang lulusan SMA. Ini menyebabkan penentuan materi jadi bingung. Materi Akses Internet tidak diberikan pada kelas 10 dengan alasan guru akan kekurangan materi pada kelas 11. Padahal harusnya banyak yang dapat diajarkan kepada siswa SMA dan akan berguna bagi mereka ketika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi maupun memutuskan untuk bekerja. Kemampuan penggunaan komputer dan Internet harusnya dapat diraih ketika mereka di SMA.
Karena kurikulumnya setengah hati, tanpa sadar siswa dapat merasakannya sehingga merasa komputer dan Internet itu berguna bagi mereka kecuali untuk hiburan. Ini masalah digital divide.

Mengajar guru
Tak disangka-sangka, masalah digital divide yang lebih besar ada pada guru-gurunya. Mahasiswa mendapati ternyata mengajar guru-guru SMA tersebut lebih melelahkan dari pada mengajar siswanya. Sebagian guru sudah cukup mahir dalam operasikan komputer, tapi sebagian lagi masih sangat ketinggalan: menghidupkan komputer, dan menggunakan tetikus [mouse] masih bermasalah. Guru-guru tersebut, baik yang sudah bisa mengoperasikan komputer apalagi yang belum, pada kondisi yang sama, yaitu belum mendapatkan manfaat yang maksimal atau paling tidak besar dari penggunaan komputer. Kalau sebatas mengganti mesin ketik dan kalkulator ke komputer saja, itu berarti komputer belum dimanfaatkan dengan maksimal. Akses Internet yang sudah tersedia jadi mubazir karena para guru tidak paham pemanfaatannya. Digital divide pada para guru bisa jadi adalah penyebab dari kurikulum pelajaran komputer yang tidak maksimal dan terkesan kurang materi.

Sedih juga mendapati SMA di kota pendidikan masih dalam tahap ini. Sementara fasilitas bukan lagi menjadi masalah utama, ternyata sumber daya manusianya tidak sejalan dengan perkembangan fasilitas yang ada. Informasi yang membludak di Internet tidak dapat dimanfaatkan karena ada jembatan yang putus : ketrampilan pemanfaatan informasi.

Ini mengingatkan saya pada keluhan teman-teman pustakawan sekolah yang sering kali sulit bekerja sama dengan para guru. Jangan-jangan pustakawannya sudah mulai trampil dan peka terhadap kebutuhan ketrampilan pemanfaatan informasi, tapi guru-guru masih tidak paham dan kemudian melihat bahwa ketrampilan itu cukup sambil lalu saja diajarkan. Kalau begitu ketrampilan memanfaatkan informasi ini harus ditularkan pertama kali kepada guru. Para guru diajari untuk :
  1. mengoperasikan komputer: menghidupkan dan mematikan, operasi file, penggunaan eksternal memori, pemeliharaan komputer, setting sederhana untuk penggunaan periperal tambahan [LCD, headset, printer, scanner,video cam, microphone]
  2. menggunakan aplikasi perkantoran: pemrosesan kata, spreadsheet, presentasi, edit foto atau gambar.
  3. paham dan mampu mengggunakan search engine, email, mailing list, chat, aplikasi sosial network, blog, dan RSS.
  4. memanfaatkan teknologi informasi untuk pengajaran.
Ini pekerjaan besar. Ini juga akan mengubah paradigma para guru tentang budaya belajar, kolaborasi, berjejaring dan mengajar. Kemampuan tersebut kemudian dilengkapi dengan :
  1. kemampuan untuk mengidenfikasikan kebutuhan informasi
  2. kemampuan untuk menentukan sumber informasi yang diperlukan
  3. kemampuan untuk evaluasi sumber informasi
  4. kemampuan untuk mengelola informasi secara etis
  5. dan kemampuan untuk menyajikan informasi kepada audiens yang tepat
sehingga para guru tersebut kemudian memiliki budaya belajar dengan alat belajar yang bervariasi dan sumber informasi yang tak kunjung habis. Pengetahuan yang terus menerus bertambah ini akan menular kepada siswanya dan akhirnya membawa siswanya kepada budaya belajar yang sama.

Okay, kalau begitu mulai dari mana pak dan ibu guru? Ya diri sendiri.

Friday, October 03, 2008

Library 2.0 : Berkolaborasi dengan Teknologi Web 2.0

Library 2.0 memang terlahir karena ide Web 2.0, suatu konsep web yang menekankan pada partisipasi pengguna melalui aplikasi yang memungkinkan para pengguna dapat berbagi dan saling melengkapi informasi. Aplikasi blog, wiki, dan jaringan sosial seperti Facebook adalah contoh. Dalam dunia perpustakaan, teknologi itu diadaptasi salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi blog. Blog internal dan blog eksternal.

Blog Internal. Ini jenis blog yang dapat diakses secara terbatas oleh staff perpustakaan. Blog ini yang mungkin jadi jawaban dari kesenjangan informasi di antara para staff di perpustakaan. Kesenjangan yang terjadi adalah tidak tersampaikannya informasi progres suatu pekerjaan, hasil pekerjaan yang dilakukan, ide pengembangan layanan atau ide perubahan yang perlu dilakukan. Biasanya hal ini disampaikan pada saat rapat, tapi rapat tidak selamanya dapat dilakukan kapan saja kalau jadwal kepala perpustakaannya sangat padat. Kepala perpustakaan juga memiliki beberapa ide dan informasi perkembangan dari tugas-tugas yang dilakukan internal atau eksternal. Kesenjangan lain adalah transfer pengetahuan dari satu kepala ke kepala yang lain di dalam perpustakaan. Kesenjangan dapat diatasi dengan memanfaatkan blog internal perpustakaan.

Blog internal diakses oleh setiap staff setiap hari untuk mengetahui informasi yang dibagikan oleh rekan staff yang lain. Kepala perpustakaan, misalnya, menceritakan apa yang dikerjakannya dan informasi hal-hal baru yang terkait dengan perpustakaan secara internal dan perkembangan perpustakaan secara umum. Isu-isu baru yang mungkin datangnya lebih banyak ke Kepala Perpustakaan dapat dibagikan melalui blog ini. Para staff mendapat kesempatan untuk mendapatkan informasi baru dan juga memberi masukan atau pertanyaan yang berkait dengan informasi yang didapatnya. Lebih dari itu, jika Kepala Perpustakaan mengajukan beberapa ide perubahan, ide perbaikan atau evaluasi, para staff akan dengan mudah memberikan masukan dan tanggapan. Sebaliknya, para staff ketika merasa menemukan ide baru akan selalu memiliki tempat untuk dapat membagikan ide itu kapan saja, dan mendapat jaminan bahwa ide itu tersampaikan kepada semua, ketika setiap orang di perpustakaan membaca idenya di blog tersebut. Tanggapan dapat diberikan kapan saja, sehingga setiap orang memiliki waktu untuk mencerna informasi, memikirkannya dan memberikan tanggapan dalam kondisi yang baik.

Informasi yang disampaikan di blog internal jadi penting karena setiap staff menjadi tahu bahwa setiap orang berproses dan bekerja. Sehingga tidak ada asumsi bahwa salah satu staff atau bahkan Kepala Perpustakaan tidak memberi perhatian kepada pekerjaan atau proyek di perpustakaan atau dianggap tidak mengerjakan apapun di perpustakaan. Kesenjangan informasi ini rentan terhadap konflik. Tidak tahu dan tidak bertanya.

Terus terang hal ini terjadi di Perpustakaan Duta Wacana. Ketika ada proyek re-inputing dan re-processing, saya memang tidak terlibat di dalam proyek itu. Proyek itu sudah ada koordinatornya, dan sudah ada pembagian tugas. Prosedur sudah dibicarakan bersama di rapat dan di rapat itu juga sudah ada pembagian jelas bahwa saya sendirian akan menjalankan tugas proyek perpustakaan yang baru : Program Literasi Informasi. Program ini dilakukan selama 3 minggu, tapi sebelum program dijalankan, persiapan pun hanya menjadi tugas saya. Bersamaan dengan persiapan tersebut ada tugas-tugas keluar yang berkaitan dengan program literasi informasi. Dikerjakan sendiri. Belum lagi tugas di program studi sebagai dosen yang tidak ada sangkut pautnya dengan perpustakaan juga harus dilakukan. Koordinasi dengan pihak lain berkait dengan perpustakaan juga meminta perhatian dan tenaga. Itupun dikerjakan sendiri. Sementara staff yang lain tidak pernah tahu persis betapa banyaknya pekerjaan itu. Ternyata kesibukan itu dianggap sebagai kurangnya perhatian terhadap proyek besar di perpustakaan. Itu tercetus di rapat saat program literasi informasi sudah selesai dan saya akan punya waktu untuk terlibat sekalipun tidak penuh karena pekerjaan lain masih banyak. Ini kesenjangan namanya. Sementara saya tidak banyak mencampuri dan sesekali bertanya kepada koordinator proyek tentang progres dari proyek itu karena saya percaya, proyek itu dapat berjalan dengan baik, tanpa campur tangan saya.

Nasiblah. Multitasking memang tidak mudah.

Nah, Blog internal kubayangkan dapat menjadi jembatan yang baik untuk dapat mengatasi kesenjangan informasi kasus di atas. Sekalipun harga yang harus dibayar adalah rajin menuliskan informasi terkini dari pekerjaan atau perkembangan kerjasama eksternal yang dilakukan. Itu tidak mudah memang, tapi paling tidak informasi itu sudah tersedia, tinggal diakses dan ditanggapi jika dianggap perlu ditanggapi. Ide-ide para staff juga akan tersampaikan melalui blog internal ini sehingga tidak perlu ada rapat-rapat yang banyak hanya untuk menceritakan hal-hal baru. Rapat akan menjadi lebih strategis karena sudah ada pembicaraan sebelumnya yang dilakukan di dalam blog internal ini.

Budaya ini adalah budaya baru. Tidaklah selalu mudah untuk menerapkan budaya baru apalagi budaya ini memerluka ketrampilan khusus, sekalipun ketrampilan yang diperlukan bukanlah suatu ketrampilan yang luar biasa di jaman ini:
  1. mengoperasikan komputer
  2. menggunakan browser
  3. menggunakan aplikasi blog untuk mengakses
  4. menggunakan aplikasi blog untuk posting informasi atau memberikan tanggapan
  5. menjalankan prosedur pada aplikasi blog
Simpel saja kan?!
Jadi, jika mempunyai kasus kesenjangan informasi di perpustakaan, apalagi kalau perpustakaannya tidak hanya berada di satu lokasi yang sama, aplikasi blog internal ini layak menjadi salah satu alternatif solusi. Tugas berikutnya silakan googling aplikasi blog yang dapat digunakan di server internal dan menyediakan fasilitas otorisasi untuk akses.

Monday, September 29, 2008

Konflik Manusia

Beratnya jadi Kepala Unit.
Masalah membuat program dan mengerjakan pekerjaan tidak menjadi masalah sekalipun lelah. Apalagi ketika program berbarengan terjadi. Seperti saat ini, perpustakaan kami sedang melakukan re-inputing dan re-processing koleksi. Artinya, kami check koleksi pustaka yang berjumlah 50.000an itu satu persatu dan memperbaiki data elektroniknya, atau melakukan pengklasifikasian ulang jika perlu. Astaganaga kan?

Di samping itu, ada program literasi informasi yang harus dimulai semester ini dan dievaluasi hasilnya. Yang jelas, semua staff perpustakaan yang berjumlah kurang dari 10 orang itu fokus pada re-inputing dan re-processing koleksi, sementara saya bekerja sendirian untuk mengajar literasi informasi mengajar 5 kelas dan masih harus mengajar 4 kelas matakuliah jatah saya semester ini. Tidak mudah memang. Untung mengajar 9 kelas ini hanya 3 minggu, dan selanjutnya mengajar hanya 4 kelas jatah semester ini saja.

Di tengah-tengah keribetan pekerjaan yang tinggi, ternyata masih saja menyisakan tempat bagi sebuah konflik pribadi antara dua pria di perpustakaan. Konflik pribadi ini jadi tidak pribadi ketika keduanya harus bekerja sama dalam proses re-inputing dan re-processing. Komunikasi otomatis tidak ada, pekerjaan yang harusnya dapat dikerjakan lebih mulus jadi agak tersendat karena keduanya enggan kerja sama. Konflik pribadi menjadi kongflik organisasi.

Berbekal training sebagai mediator yang saya ikuti 9 tahun yang lalu, ternyata tidaklah mudah untuk menyelesaikan konflik antar dua manusia pria. Padahal, yang menjadi pokok masalah adalah PRIDE. Andai kata satu kata ini tidak dipegang erat oleh kedua manusia pria berkonflik itu, maka kata maaf akan mudah meluncur, dan suasana pekerjaan jadi lebih baik.

Dalam suatu konflik, semua pihak berkontribusi hingga ada masalah. Jadi tidak seorang pun benar, tidak seorangpun bersih dari masalah. Keduanya wajib menyelesaikan dan mengakui kontribusinya masing-masing.

Sayangnya, setelah bicara dengan keduanya secara terpisah, saya tidak melihat ada inisiatif dari keduanya menyelesaikan masalah ini. Saya tidak melihat dari keduanya tanda-tanda kerendahan hati. Saya tidak melihat dari keduanya tanda-tanda bahwa mereka punya kosa kata MAAF dalam kamus hati mereka.

Sayangnya, saya hanya bisa menjadi mediator, bukan pengambil keputusan bagi mereka bagaimana mereka harus bersikap. Ironisnya, mereka semua lebih tua daripada saya, bekerja di universitas ini lebih lama dari pada saya, dan berkeluarga lebih lama daripada saya.

Betul, tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan