Sunday, April 28, 2013

End-User Development (EUD) : pengembangan aplikasi komputer oleh pengguna

Pengguna suatu aplikasi komputer atau software adalah end-user software tersebut.  Dalam menggunakan software, pengguna selalu saja menemukan ada bagian dalam software yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Pergumulan membangun software yang menjawab semua kebutuhan pengguna memang tidak pernah selesai. Kebutuhan pengguna selalu muncul, karena itu juga pengembang software selalu mengembangkan dari versi ke versi untuk melengkapi kebutuhan, atau menghasilkan software lain untuk tujuan yang sama.
Usaha untuk dapat menghasilkan software yang memenuhi kebutuhan salah satunya adalah dengan melibatkan, mempersilahkan, dan memungkinkan end-user atau pengguna untuk mengubah software dalam tingkat tertentu. Itulah end-user development.  Demikian Lieberman menjelaskan apa itu end-user development:
End -User Development (EUD) can be defined as a set of methods , techniques, and tools that allow users of software systems, who are acting as non-professional software developers, at some point to create, modify or extend a software artefact (Lieberman,Paterno, Klann, &Wulf, 2006).
End-user development bukan satu-satunya cara karena pada semua proses model [rangkaian proses] pengembangan software pengguna selalu dilibatkan pada prose-proses tertentu, biasanya proses awal, tapi beberapa model melibatkan lebih dari sekedar pada proses awal. Pengguna memang bervariasi dalam kemampuan, jadi keterlibatan mereka disesuaikan dengan kemampuan dan kepentingannya. Sementara di end-user development pengguna melakukan perubahan setelah software sudah jadi melalui cara atau alat yang disediakan secara khusus untuk mengubah software.

Spreadsheet adalah aplikasi yang sering digunakan sebagai contoh dalam menjelaskan end-user development. Pengguna aplikasi spreadsheet melakukan "programming" untuk menghasilkan suatu tampilan atau layanan pengelolaan data (input-proses-output) sesuai dengan kebutuhannya. Pengguna memanfaatkan fasilitas yang disediakan aplikasi spreadsheet.

Blog adalah aplikasi web yang dibangun oleh pengguna dengan fasilitas yang tersedia dari pengembang software. Seperti halnya blog Sambungjaring ini adalah blog milik Umi Proboyekti dan pemilik membangunnya menggunakan fasilitas yang disediakan oleh blogger.com. Pengguna dapat mengubah, dan menambah layanan blog atau tampilan blog ini sesuai dengan kebutuhan dan pengetahuannya. Beberapa orang dengan mudah menambahkan fasilitas untuk iklan pada blognya, atau menambahkan RSS dari layanan lain untuk ditampilkan pada blog nya.

Pada tingkatan yang berbeda, end-user development dilakukan oleh pengguna untuk mengubah atau memodifikasi software lain yang bersifat open source. Misalnya aplikasi SLIMS yang digunakan oleh suatu perpustakaan mengalami modifikasi untuk disesuaikan dengan aturan dan kondisi perpustakaan tersebut. Perubahan yang dilakukan oleh pengguna SLIMS adalah end-user development.

Perpustakaan mempunyai peluang dalam proses end-user development. Implementasi open source di perpustakaan adalah end-user development yang dilakukan oleh perpustakaan. Sebaliknya perpustakaan juga dapat menyediakan layanan untuk memungkinkan pengguna melakukan end-user development. Seperti penelitian yang dilakukan  oleh Holley Long dari University of Colorado dan dilaporkan dalam sebuah tulisan berjudul End-user development of digital collection mash-up. Perpustakaan yang memiliki digital collection dan menyediakan API (Application Programming Interface) untuk pengguna yang mampu memanfaatkannya untuk melakukan mash-up (mengkombinasikan layanan dari sumber lain untuk menghasilkan layanan yang lain). Tentu saja perpustakaan yang menentukan koleksi apa yang dapat disediakan untuk diakses, lalu aturan atau kondisi apa yang harus dipenuhi oleh pengguna untuk memanfaatkan koleksi tersebut untuk mash up. Pemanfaatan data ini tentu saja perlu dilihat sebagai layanan yang diberikan oleh perpustakaan untuk dapat menyediaan informasi sebagaimana perpustakaan menyediakan informasi dalam bentuk fisik tercetak yang dilengkapi fasilitas untuk akses dan juga aturan penggunaannya.

Perpustakaan pun dapat menghasilkan layanan baru dengan mash up. Informasi tentang biografi tokoh-tokoh terkenal yang dilengkapi dengan data-data lengkap yang berasal dari berbagai sumber yang menyediakan layanan data untuk  mash up. Foto tokoh, data pribadi, dan orang-orang lain yang terkait dengan tokoh tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, diolah secara khusus dan disajikan menjadi layanan.

Demikian sekelumit cerita tentang EUD.

Wednesday, March 27, 2013

Minat Baca

Minat berkaitan dengan perhatian dan usaha seseorang untuk melakukan sesuatu atau mendapatkan yang disukai atau berelasi dekat dengannya. Itu penjabaran cepat saya, tentang minat. Untuk menjadi minat, biasanya sesuatu itu terasa berguna, dan mengena untuk seseorang. Mengena itu tidak senantiasa berkaitan dengan kegunaannya. Saya meminati warna oranye, bukan karena oranye berguna untuk saya, tapi menurut saya bagus, terasa hangat dan tampak baik untuk dikenakan misalnya. Ini user experience. Bagi mereka pengguna setia Android, sekalipun mungkin berganti handset, tetap saja memilih Android. Dalam hal Android ini bisa juga karena manfaat, selain user experience pastinya.

Saya termasuk orang yang tidak berminat pada kegiatan memancing. Kegiatan itu tak pernah terlintas untuk jadi pilihan atau menimbulkan rasa ingin tahu saya. Ada beberapa hal dalam memancing yang menurut saya tidak cocok dan tidak berelasi dengan saya. Jadi jangan ajak saya memancing.

Sekarang tentang membaca. Apa yang terlintas ketika ada istilah MINAT BACA? Terus terang saya baru tahu ada perhatian begitu besar, dengan dibentuknya suatu organisasi dan usaha-usaha agar membaca menjadi minat bangsa Indonesia pada saat mulai mengenal kegiatan-kegiatan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, sekitar 4-5 tahun yang lalu. Satu dari usaha membuat bangsa ini berminat untuk membaca adalah menjadikan Tantowi Yahya menjadi duta buku atau duta membaca. Sekarang kabarnya posisi itu digantikan oleh Andy Noya. Hmmm..berapa orang jadi minat membaca dengan melihat iklan yang memasang mereka dengan slogan membacanya? Seberapa usaha itu menimbulkan minat baca? Kenapa bisa berminat karena melihat iklan mereka? Ada relasikah? Merasa cocok? Mendapatkan manfaat? Atau mendapat inspirasi untuk jadi seperti mereka dengan membaca?

Saya tidak sangat hobby membaca, tetapi membaca buku atau membaca adalah pilihan ketika menunggu atau ada waktu luang untuk bersantai. Ini masalah manfaat. Saya suka membaca buku karangan John Ortberg dan Max Lucado, sekalipun tidak semua buku mereka saya baca. Tapi apa yang mereka tulis menyentuh hati saya. User experience itu yang membuat saya ingin membaca lagi, dan membaca lagi. Waktu remaja, saya suka membaca buku karya Enid Blyton, Alfred Hitcock dan Agatha Christie. Mencoba mengikuti jalan cerita dan mencoba menebak solusi akhir dan pelakunya adalah sesuatu yang membuat saya ingin membaca dan membaca lagi karya-karya mereka. Jadi kalau tak menimbulkan sensasi tertentu dalam diri yang ingin dirasakan lagi dan lagi, orang tidak berminat.

Membaca adalah kegiatan yang mandiri dan memerlukan konsentrasi serta kehadiran diri sendiri. Entah itu membaca komik, membaca SMS, membaca tweet line, membaca blog, membaca buku, membaca news feed di Facebook. Entah dalam rangka berkomunikasi secara teks atau menikmati rangkaian kalimat yang terjalin, membaca membutuhkan konsentrasi dan kehadirian diri sendiri. Ada proses kognitif reflektif yang terjadi ketika membaca dan membuat suatu respon terhadap apa yang dibaca. Saat berkomunikasi lewat teks, maka respon yang diberikan dikirimkan ke pada lawan komunikasi dalam bentuk teks. Saat membaca rangkaian kalimat, respon yang diberikan tersimpan atau diwujudlkan dalam tulisan atau ungkapan dengan cara lain termasuk sebuah pencerahan dalam pikiran dan dirinya. Ini sensasi membaca, membaca apapun, begitu pribadi. Apa yang saya ungkapkan juga hal yang pribadi, jadi yang tidak setuju dipersilahkan untuk tidak setuju.

Kalau begitu, membaca yang manakah yang dimaksud dalam MINAT BACA yang dimasyarakatkan itu? Sudah merupakan hal lazim bagi sebagian besar orang untuk membaca setiap hari: membaca SMS, membaca koran, membaca iklan dan informasi di ruang publik, membaca news feed dan tweet line, membaca email dan surat, dan membaca buku atau sumber informasi lainnya dalam berbagai bentuk/format.

Jika yang dimaksud adalah membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah kehidupan orang itu menjadi lebih baik untuk dirinya, dan orang lain, maka ini pekerjaan yang sangat serius dan perlu kreatifitas: menantang sekaligus menarik. Betapa tidak, target sasaran adalah bangsa Indonesia segala generasi, strata pendidikan dan latar belakang sosial dan budaya. Namun demikian, perlu ditentukan target prioritas, misalnya generasi next gen yang lahir setelah tahun 2000. Ketika mereka bertumbuh, mereka bertumbuh bersama gadget dan peralatan teknologi informasi lain. Berkomunikasi dengan orang lain lewat teks adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka lebih tertarik untuk berinteraksi dengan teknologi. User experience dengan produk teknologi amatlah penting. Sesuatu yang instan, selain mie instan, adalah penting bagi mereka: ada sekarang juga, tahu sekarang juga, dapatkan sekarang juga. Misal, mencatat penjelasan dosen di kelas, buku dapat digantikan dengan merekamnya atau memotret slide yang ditayangkan menggunakan smartphone. Mengunduh materi kuliah dari repositori kampus sudah biasa. Mengakses mesin pencari lewat smartphone di kelas untuk menjawab pertanyaan dosen dapat mereka lakukan segera. Membuat tugas paper hanya perlu mengubah sedikit atau menggabungkan beberapa artikel yang ditemukan di internet. Tentunya dengan sedikit membaca untuk memastikan isinya sesuai tugas. Kalau begitu apakah mereka membaca? Iya mereka membaca, tapi belum tentu pengetahuan meningkat dan mengubah kehidupan mereka lebih baik.

Stress tingkat tinggi ketika mereka diperhadapkan pada kondisi bahwa ada suatu masalah atau kasus yang harus diselesaikan dan penyelesaiannya harus orisinil dari hasil analisis mereka. Padahal kemampuan analisis mereka menunjukkan kecerdasan mereka. Cara mereka menemukan solusi membuat mereka bertahan dalam kehidupan. Empati mereka terhadap sekitarnya memberikan makna bagi lingkungannya. Bukankah hal-hal itu yang harusnya mereka dapatkan dan miliki dari proses belajar yang di dalamnya ada kegiatan membaca salah satunya?
Kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi bagi mereka untuk mendapatkan informasi yang instan membuat daya tahan untuk berjuang mendapatkan sesuatu melalui proses dan beberapa tahapan menjadi rendah.

Adakah memasyarakatkan minat baca berarti mencabut teknologi informasi itu dari hidup mereka dan menggantinya dengan setumpuk buku yang harus mereka baca? Tak ada relasi tak ada minat. Tak dirasa manfaatnya, tak ada minat. Kalau begitu mungkin justru penekanan pada mendapatkan pengetahuan untuk memperbaiki hidup dan memberi makna pada sekitarnya dengan memanfaatkan teknologi informasi yang perlu dipertimbangkan dalam program pemasyarakatan minat baca.

Friday, March 01, 2013

Urusan Tulis Menulis

Dari pengalaman mengajar mata kuliah penulisan karya ilmiah, pada umumnya mahasiswa bergumul dalam hal menulis. Dalam berlatih menulis, mereka menemui kesulitan dalam menyusun kalimat sekalipun mereka menuliskan apa yang mereka sukai, misalnya hobby. Keterbatasan kosa kata Bahasa Indonesia dan kurangnya kreatifitas dalam mengunakan beragam sinonim adalah masalah umum. Alur cerita yang kadang tak terstruktur mencerminkan cara berpikir mereka. Gaya tulisan testimoni yang melibatkan kata ganti orang masih menjadi salah satu kecenderungan gaya tulisan. Masalah lain adalah menggunakan informasi milik orang lain dengan benar dan menentukan informasi yang relevan dan sah dari berbagai sumber. Jadi, pergumulan mahasiswa dalam membuat tulisan bukan hal sepele untuk dilalui begitu saja. Sementara itu, yang namanya tugas paper atau tugas membuat tulisan ilmiah/akademis adalah tugas yang umum diberikan oleh para dosen. Dari tulisan sepanjang 2 halaman sampai laporan projek yang berlembar-lembar sudah jadi tugas yang umum mereka kerjakan. Kalau kemampuan mereka menulis buruk, memprihatinkan dan tentu saja membingungkan untuk dibaca, maka bagaimana mereka akan menjadi penyedia konten untuk mengembangkan komunitas di masa depan?

Keaktifan generasi muda dalam berinteraksi dan memanfaatkan jejaring sosial ternyata tidak melatih mereka untuk menulis. Bahasa yang mereka gunakan tidak mesti bahasa baku, kebanyakan jauh dari baku. Mereka punya bahasa dan istilah sendiri, seperti bahasa alay dan bahasa jadi-jadian yang mereka serap dan pahami dari kehidupan bersosial di dunia maya atau dari pada public figure pencipta istilah.  Selain itu apa yang mereka tulis di sosial media beragam : masalah hati, apa yang ada di pikiran, lirik lagu, ungkapan asal atau tidak jarang malah makian.

Menulis ternyata memang tidak mudah. Selain mengungkapkan ide dalam tulisan, pilihan kata sering kali menjadi tantangan tersendiri,belum lagi ketika dengan sadar tulisan akan dipublikasikan mendunia sehingga dapat diakses siapapun. Alur berpikir menentukan bagaimana mana alur tulisan. Ketika alurnya loncat-loncat maka tulisan menjadi tak runtut, sehingga yang membaca menjadi mengkerutkan dahi.

Masing-masing orang dengan pengalamannya dalam menulis pasti punya beberapa tips bagaimana menulis, tapi yang jelas, bagaimana membuat orang tertarik untuk menulis?
Nah ini pertanyaan saya. Ada yang mau jawab?


Thursday, December 27, 2012

Perpustakaan Umum untuk Rakyat

Dari luar, gedung Perpustakaan Raja Tun Uda di Selangor tidak tampak sangat mewah dan artistik bentuknya. Kami datang dengan sejumlah pertanyaan dalam benak untuk menggali banyak informasi.
Gambar 1 : Perpustakaan Raja Tun Uda

Informasi dan pengetahuan yang dapat jadi bekal Perpustakaan umum DIY baru yang sedang dalam tahap penyelesaian gedungnya. Gedung yang bagus memang perlu untuk tampilan luar dan memikat hati pengunjung, tapi pelayanan yang menyentuh kebutuhan itu yang akan membawa kembali para pengunjung.
Gambar 2. Lantai Dasar dan Panggung

Kesan pertama ketika masuk ke Perpustakaan Raja Tun Uda adalah kesan mewah yang terbuka bagi semua. Melepas alas kaki menjadi syarat bagi semua pengunjung demi kebersihan dan biaya rendah untuk pemeliharaan salah satu fasilitas kenyamanan di perpustakaan itu: karpet tebal yang terhampar di seluruh 5 lantai perpustakaan itu.  Aturan : TIDAK BERALAS KAKI DI DALAM PERPUSTAKAAN adalah hal yang tidak umum di masyarakat itu, namun demikian menjalankan itu sebagai suatu yang terus-menerus dilakukan merupakan pembelajaran tersendiri  bagi masyarakat. Aturan yang tidak umum itu ternyata tidak membuat masyarakat enggan datang. Mereka merasakan sendiri bahwa kebersihan karpet memungkinkan mereka untuk duduk dengan nyaman  tanpa bersebelahan dengan kotoran dari sepatu di karpet. Banyaknya kursi-kursi dan sofa nyaman di lantai dasar yang bersebelahan dengan sebuah panggung pendek untuk performa itu sering tidak muat untuk pemustaka yang datang [Gambar 2]. Penerangan ruangan lapang yang nyaman di mata untuk membaca dan beraktifitas memberikan kesan mewah. Ini perpustakaan, tapi serasa di mall yang tenang. 

Fasilitas yang bagus dan tampak mewah itu tersedia bukan tanpa perencanaan. Perencanaan di mulai dari tujuan awal keberadaan Perpustakaan Raja Tun Uda : mengurangi kejahatan/kriminalitas di masyarakat. Pertama mendengar tujuan itu rasanya tidak langsung tergambar di dalam benak rangkaian rantai yang menghubungkan. Puan Masura, Pengarah PPAS, berbagi bagaimana anak-anak tidak cukup mendapatkan pengaruh baik dan tempat-tempat yang membawa pengaruh baik dalam pertumbuhan mereka. Perpustakaan selama ini dianggap sebagai tempat yang tidak menarik untuk dikunjungi sementara budaya membaca pun masih kurang di masyarakat. Sebaliknya mall dan tempat hiburan jadi bagian kehidupan mereka. Anak-anak hingga orang dewasa memilih untuk pergi ke mall, tempat yang nyaman, dan mewah. Anak-anak yang tidak bertumbuh dengan pengaruh-pengaruh dan lingkungan yang sehat rohani memicu membawa mereka kepada kenakalan dan kemudian kriminalitas saat mereka beranjak dewasa. Karena itu, jika mereka lebih memilih ke mall untuk luangkan waktu, maka perpustakaan yang digagas oleh Sultan Selangor ini kemudian mengadopsi suasana nyaman mall dan toko buku untuk membuat anak-anak datang dan menikmati kenyamanan yang jauh lebih terjangkau dibandingkan mall. Capaian yang hendak diraih adalah menjadi tempat bagi masyarakat untuk dapat beraktifitas dan mendapatkan pengaruh baik dan sehat. Anak-anak yang bertumbuh dalam lingkungan fisik dan rohani yang sehat akan menjadi anak-anak yang sehat fisik dan rohani juga.  Tidak sekalipun terucap tujuan menjadi perpustakaan tingkat dunia, terbaik di Asia atau apapun yang tampak hebat. Perpustakaan ini untuk rakyat. 
Gambar 3: Ruang Olah Raga

Apalah arti niat dan tujuan jika tak diwujudkan dengan seksama dan terencana. Usaha pengelola perpustakaan untuk membuat masyarakat datang tidak setengah-setengah. Perabot nyaman tidak asal beli. Pengadaan mempertimbangkan harga, kualitas, dan kemudahan penggunaan. Meja-kursi yang ringan dan kuat. Ringan untuk dipindahkan dengan tenaga manusia, karena punggung  dan tangan para pustakawan lebih mahal daripada perabotan. Koleksi-koleksi yang bermanfaat berapapun harganya dibeli agar mereka yang tak mampu membeli dapat menikmati dan mendapatkan pengetahuan dari koleksi itu. Hiburan seperti XD Theatre import dari Canada dengan harga hampir Rp.1M diadakan di perpustakaan untuk menarik minat masyarakat. Ada permainan mahal di perpustakaan dengan biaya terjangkau untuk menikmatinya. Ruang berolah raga disiapkan untuk digunakan dengan pelatih yang didatangkan dari sebuah perguruan tinggi yang memiliki jurusan olah raga [Gambar 3]. Menata ruang dengan desain yang diperhitungkan dan menyampaikan pesan. Pada lantai 2 hingga 3 di dinding sebelah kiri [Gambar 4] adalah MURAL BOOKS. Dinding dengan mural yang setema dengan koleksi-koleksi rak di dinding : Antariksa, Dunia hewan, Manusia, dan Laut. Mengenal koleksi dan mendapat pengetahuan dari buku-buku tersebut akan membawa mereka menjadi orang yang lebih baik. Buku-buku pada Mural Books [Gambar 5] itu juga merupakan buku rohani/spiritual yang memperkenalkan mereka siapa TUHAN. 
Gambar 4: Lima Lantai dengan Beragam Warna

Merancang semua itu bukan tanpa halangan. kebiasaan yang sudah sering diberlakukan dalam budaya di departemen milik negara tidak mudah untuk diubah. Hal kecil seperti warna yang beraneka ragam [Gambar 4] pada tiap lantai adalah hal yang tidak umum pada suatu  tempat/gedung milik negara. Sekalipun tidak ada aturan tertulis tentang warna, kecenderungan warna netral pada gedung milik negara sudah umum dipilih. Mengubah kecenderungan itu perlu dengan alasan yang tepat, dan dibuktikan dengan hasil yang nyata: masyarakat suka dengan warna-warna menarik ini, seperti di mall, dan mereka datang karena suka.
Gambar 5: Mural Books - Bumi dan Antariksa

Anak-anak memang menjadi perhatian di perpustakaan ini. Area untuk anak-anak dibuat menarik dan dilengkapi dengan permainan dan ruang-ruang berkegiatan dalam kelompok. Ruang-ruang itu digunakan oleh sekolah Taman Kanak-kanak untuk berkegiatan di perpustakaan. Mereka menyanyi, membuat origami, nonton film, dan mendengarkan cerita/dongeng. Ketika anak-anak mengenal perpustakaan dan menemukan kenyamanan di situ, maka mereka akan membawa orang tua, dan saudaranya untuk datang ke perpustakaan. Perpustakaan menjadi tempat bagi keluarga. Itulah yang hendak dituju oleh pengelola perpustakaan. Tempat dimana pengaruh baik dihembuskan masuk dalam kehidupan anak-anak menjadikan mereka pribadi yang lebih baik dalam pertumbuhannya.






Wednesday, October 17, 2012

Mobile Technology and Library

Conference on  GenNext Libraries 2012 di Universiti Brunei Darussalam (8-10 Oktober 2012): Emerging Technologies: New Direction for Libraries

Istilah generation next atau gennext memberikan penekanan pada situasi pengguna perpustakaan yang pada umumnya adalah generasi next yang sangat akrab dengan teknologi informasi terutama komputer dan peralatan elektronik bergerak yang sangat personal sifatnya untuk mengakses informasi dari berbagai sumber.
Aplikasi bergerak atau mobile application menjadi pokok bahasan dari beberapa pembicara.  Keynote speaker Joe Murphy (@libraryfuture) membahas tentang bagaimana mobile gadget dimanfaatkan oleh pengguna untuk mengakses informasi dari berbagai sumber. Hal menarik dari presentasinya adalah aplikasi sosial seperti Facebook, Twitter dan Google+ tidak hanya membuat orang terkoneksi dengan orang lain, tapi juga menghubungkan orang dengan sumber informasi yang dibagikan lewat media itu. Informasi dapat dalam format apapun. Percakapan yang berpotensi mengandung pengetahuan dapat terjadi karena informasi yang dibagikan dalam bentuk teks, foto, atau lokasi. Dengan mobile gadget berbagi informasi menjadi lebih banyak, karena dimanapun orang dapat membagikan informasi.

Memahami bagaimana pengguna mobile gadget berbagi informasi akan membawa pada ide-ide untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam mengembangkan layanan perpustakaan. Di tahun 2011, 1,1 milyar orang menggunakan smartphone di dunia. Jumlah luar biasa tersebut membagikan informasi kapan pun dan di manapun. Lalu informasi apa yang dapat mereka temukan dari perpustakaan melalui mobile gadget yang mereka miliki dan mereka gunakan lalu mungkin mereka bagikan kepada dunia.  Informasi dari perpustakaan yang dapat diakses secara mobile perlu disajikan dalam bentuk mobile application yang bekerja pada platform-platform mobile seperti Android, iOS, Windowsphone, Symbian dan Blackberry OS. Itu berarti perpustakaan tidak dapat menghindar dari pemanfaatan teknologi informasi terutama yang langsung terkait dengan Internet, baik itu berarti menggunakan TI untuk melayani, menyediakan informasi, maupun untuk mengeerjakan pekerjaan mereka di perpustakaan.

Diana Chan dari Hongkong berbagi bagaimana pustakawan memanfaatkan social network application  seperti Facebook dan wiki untuk dapat menemukan apa yang dibutuhkan oleh pemustaka, apa yang menjadi masalah pemustaka dan bagaimana menjangkau pemustaka.  Hasil dari temuan menjadi bahan untuk didiskusikan untuk menghasilkan keputusan yang bisa jadi berupa layanan yang memanfaatkan teknologi informasi atau layanan lain. Pustakawan ditantang untuk dapat mengikuti perkembangan kebutuhan para pemustaka untuk dapat mengembangkan layanan. Pustakawan abad 21 perlu memiliki karakteristik:

ADAPTIVE, INNOVATIVE, LOOKING FORWARD, OPEN MINDED, CONCERN ABOUT PROFESSION AND ORGANIZATION.

Ini sikap-sikap yang memang perlu dimiliki oleh para pustakawan ketika mereka menjalankan hidupnya sebagai pustakawan di manapun dan apapun bagian yang dilakukannya. Sekalipun tidak secara spesifik Diana menyebutkan penggunaan mobile technology dalam presentasinya, semua aplikasi sosial online saat ini dapat diakses dengan mudah melalui mobile gadget. Dengan demikian komunikasi, kolaborasi, dan berbagi informasi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.

Ini baru beberapa hal yang bisa dituliskan saat ini, dari konferensi tersebut.. semoga bersambung di tulisan berikut

Saturday, April 07, 2012

Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing)

Mengintip dari penjelasan Wikipedia, dikatakan bahwa Knowledge sharing is an activity through which knowledge (i.e. information, skills, or expertise) is exchanged among people, friends, or members of a family, a community (e.g. Wikipedia) or an organization. Artinya, berbagi pengetahuan adalah aktifitas saling bertukar/berbagi  pengetahuan (misalnya informasi, ketrampilan, atau keahlian) di antara sekumpulan orang, teman, atau keluarga, komunitas atau organisasi. Wikipedia sendiri memberi dirinya sebagai contoh tempat aktifitas berbagi pengetahuan di antara komunitas. Pengetahuan yang dibagikan dalam bentuk tertulis dan dipublikasikan secara online untuk dapat dinikmati setiap orang yang mampu mengaksesnya.Berbagi pengetahuan juga dapat terjadi secara sederhana seperti dalam percakapan, rapat, pelatihan, atau dalam kelas. 

Knowledge sharing dalam bentuk pelatihan adalah cara umum untuk berbagi pengetahuan, seperti yang baru saja kami (saya, Bu Ning, dan Pak BudSus) lakukan akhir Maret 2012 kemarin selama 4 hari (19-20, 26-27 Maret 2012) dalam Bimbingan Tekniks Literasi Informasi bagi Pustakawan dan Arsiparis BPAD DIY. Materi literasi informasi yang disampaikan adalah materi yang dasar dan mendasar seperti pengenalan Literasi Informasi, Model Literasi Informasi, Mind Mapping, Penelusuran informasi di Internet, Evaluasi sumber informasi di Internet, Plagiarisme dan Komunikasi di depan publik. Sama seperti pelatihan yang biasanya kami lakukan, setiap peserta belajar memahami literasi informasi dari proses membangun produk informasi yang dibuat dengan mengikuti dan memahami model literasi informasi yang digunakan, dalam hal ini Big6 [Task Definition, Information Seeking Strategy, Location and Access, Use of Information, Synthesis, Evaluation]. Setiap peserta menentukan apa yang menjadi hal penting untuk diketahui dipersiapkan dan dilakukan pada setiap langkah model literasi berdasarkan produk informasi yang ditetapkan untuk dibuat. Pengetahuan dan informasi yang mereka dapatkan memberi pemahaman baru terhadap hal-hal yang sebelumnya mereka sudah lakukan dan ketahui. Penelusuran informasi di Internet menggunakan mesin pencari selain Google, seperti Kngine, Duckduckgo, dan Dog Pile. Penelusuran tidak lagi sekedar menelusur tapi melakukan evaluasi terhadap informasi yang diduga tepat untuk memenuhi kebutuhan. Ketika evaluasi sudah dilakukan dan menemukan informasi yang tepat dan dapat dipertanggung-jawabkan, penggunaannya sesuai dengan aturan dan etika sehingga bebas dari masalah plagiarisme. Hasil dari produk informasi kemudian dipresentasikan dan setiap peserta berusaha untuk mengingat tips melakukan presentasi yang ditemukan dan dipelajari bersama dalam pertemuan sebelumnya. Knowledge sharing dalam BimTek tersebut tidak hanya berasal dari pemateri, peserta yang berasal dari dua profesi yang berbeda ternyata secara sadar atau tidak sadar ketika bertanya, menjawab, presentasi dan diskusi memberikan pengetahuan yang mereka miliki berdasarkan keilmuan mereka: perpustakaan dan kearsipan. 

Kolaborasi dapat digunakan untuk berbagi pengetahuan. Untuk mencapai suatu tujuan sering kali diperlukan pengetahuan-pengetahuan atau ketrampilan-ketrampilan yang beragam yang diwakili oleh beragam orang dengan pengetahuannya yang mewakili divisi atau sub-organisasi yang berbeda. Kolaborasi dalam organisasi atau antar organisasi wajar terjadi. Dalam kolaborasi tersebut, interaksi-interaksi antar individu yang terlibat menghasilkan penyebaran pengetahuan yang membuat setiap individu dilengkapi dengan pengetahuan yang baru. Dalam dunia perpustakaan, kearsipan adalah bidang yang sama-sama berdasar pada dokumentasi. Jika badan yang dibentuk adalah Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, atau Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah, mestinya ada maksud untuk menyatukan keduanya agar terjadi kolaborasi yang luar biasa, untuk menghasilkan produk dan kegiatan yang memberdayakan masyarakat. Interaksi keduanya dalam satu badan mestinya dapat terjadi begitu intens dan menghasilkan kinerja dan produk yang luar biasa. Misalnya saja, arsip statis suatu daerah jika dikumpulkan dan dijadikan suatu skrip cerita dan dibentuk menggunakan teknologi informasi baik dalam bentuk kartun, animasi atau bahkan film (motion picture). Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dasar akan lebih menyenangkan jika materi dapat disajikan dalam bentuk yang interaktif. Bukan hanya masalah menghafal tahun yang kurang memberi makna, tapi justru mendapatkan pelajaran tentang budi pekerti, sikap-sikap luhur dan  semangat untuk hidup dan berjuang diperoleh dari cerita sejarah yang diperoleh dari arsip-arsip statis tentang suatu topik sejarah. Koleksi perpustakaan akan menjadi lebih menarik ketika koleksi benda bersejarah dapat ditampilkan sehingga dapat dirasakan oleh alat indera manusia sehingga setiap pemustaka dapat memaknai dan mendapatkan pengetahuan. Bentuk-bentuk itu dapat terjadi karena kolaborasi, baik dalam organisasi itu sendiri, dan pihak lain. 

Bentuk lain untuk penyebaran informasi adalah kumpulan dokumen konten lokal suatu organisasi untuk kebutuhan dan kepentingan organisasi.Tiap individu di organisasi pernah merasakan menjadi orang baru dalam organisasi itu, entah karena baru saja bergabung dalam organisasi  atau mendapatkan tempat baru di divisi lain dalam organisasi itu. Menjadi orang baru, sering kali juga berarti menjadi orang yang tak cukup pengetahuan tentang dimana dia ditempatkan. Mengenal dari awal untuk dapat selaras dengan yang lain dan menghasilkan kinerja senantiasa perlu waktu dan informasi atau pengetahuan. Seandainya sebanyak mungkin pengetahuan direkam sedemikian rupa agar dapat diakses kapanpun oleh siapapun yang miliki akses, maka pengetahuan itu tersedia untuk digunakan dan memberdayakan orang lain.  Dengan mudah dari kumpulan dokumen itu menemukan siapa personel yang sudah berpengalaman menjadi MC, atau memiliki kemampuan/pengetahuan di bidang tertentu. Ketika diperlukan untuk membuat rangkaian proses perkembangan organisasi itu dari segi tertentu, misalnya pembangunan fisik, maka rangkaian dokumen dalam berbagai bentuk: proposal, Surat Keputusan, laporan anggaran, foto-foto pembangunan, hingga peresmian dapat dengan mudah disajikan untuk dijadikan sumber informasi membentuk produk informasi yang kemudian menjadi dokumen berikutnya dalam kumpulan dokumen itu. Teknologi informasi tentu saja berperan sangat besar dalam pembentuk kumpulan dokumentasi yang siap akses ini. Tentu saja ini tidak mudah, tapi mungkin. 

Penyebaran pengetahuan adalah bagian dari pekerjaan pustakawan dan arsiparis. Koleksi pengetahuan yang terdokumentasi dapat dibentuk dalam berbagai format untuk menjawab berbagai kebutuhan. Pengamatan yang jeli terhadap kebutuhan pemustaka dan organisasi menjadi salah satu titik awal untuk menemukan cara terbaik untuk menjawab kebutuhan itu. Jika kebutuhan tersebut membutuhkan pengetahuan, maka pustakawan dan arsiparis dapat mulai memikirkan bentuk yang tepat. Jika ada gap pengetahuan untuk mewujudkan bentuk itu, maka kolaborasi dengan pihak lain dimungkinkan. Kolaborasi itu akan membuat pustakawan dan arsiparis mendapatkan pengetahuan baru untuk terus berkembang. Produk informasi yang kemudian menjawab kebutuhan informasi itu akan menjadi bentuk kinerja yang dapat diukur dan dinilai produktifitasnya. Jadi, sebenarnya banyak hal yang dapat dikerjakan oleh pustakawan dan arsiparis berkenaan dengan dokumentasi yang mereka kelola selama ini.

Bukan menunggui buku kan pekerjaan pustakawan itu? [masih sakit hati kalau ingat siapa yang mengatakan ini]. Menunggui buku tidak ada ilmunya.

Friday, February 10, 2012

Publikasi Karya Ilmiah sebagai Syarat Lulus Sarjana S1, S2, S3

Entah karena merasa kalah dari negri tetangga dalam hal jumlah publikasi karya ilmiah atau karena hal lain, surat Dirjen Dikti sebagian menulis  :



Sebagimana kita ketahui pada saat sekarang ini, jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkannya. Sehubungan dengan itu terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlukan ketentuan sebagai berikut:



Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah

Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti
Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.


Dengan menyebutkan pesaing, kok rasanya tujuan yang penting adalah menyaingi pesaingnya. Sekalipun ada ajakan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah, tapi keputusan tersebut tidak realistis untuk dilakukan. Jumlah jurnal ilmiah yang ada tidak sebanding dengan jumlah lulusan, sehingga ini akan menghambat para calon sarjana kita untuk segera lulus dan mendapatkan gelarnya. Tidak semua lulusan berminat untuk menjadi akademisi memang, tapi mengubah skripsi atau thesis mereka menjadi karya ilmiah untuk dipublikasikan sebagai artikel jurnal tidaklah sulit. Hal yang kurang tepat adalah kesediaan tempat untuk publikasi jika dalam bentuk jurnal.

Seandainya semangatnya memang untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah anak negri, maka karya tersebut sepatutnya dapat dinikmati dan menjadi referensi bagi seluruh anak negri dengan mudah atau relatif mudah. Pemanfaatan fasilitas yang sudah dibangun oleh DIKTI berupa Portal GARUDA , garuda.dikti.go.id, sebagai alat publikasi karya-karya ilmiah itu akan menjadi salah satu cara untuk memenuhi portal tersebut dan sekaligus menyebarkannya. Hal ini akan menjadikan Portal Garuda, portal wajib akses oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, penyebaran atau publikasi karya ilmiah juga dapat dilakukan oleh perguruan tinggi secara mandiri dengan syarat publikasi terbuka untuk umum atau open access dan menyajikan full teks. Hal ini akan menjadi promosi hebat perguruan tinggi tersebut karena konten lokalnya meningkat dan jika peduli pada peringkat webometric, otomatis ini mempengaruhi peringkatnya.

Jadi, syarat adanya karya ilmiah untuk semua lulusan S1, S2, S3 bukanlah sesuatu yang memberatkan, jika publikasinya dipermudah dan menjamin bahwa karya ilmiah tersebut dapat diakses secara mudah oleh semua orang, sedunia sekalipun. Ini sekedar pemikiran saja, semoga dapat dipertimbangkan ulang. Yang penting kan karya ilmiah anak negri dalam sekejab akan meningkat tajam jumlahnya dan hampir pasti dapat menyusul jumlah karya ilmiah anak negri tetangga, itu kan tujuannya.

Semoga dengan tujuan itu, kita tidak hanya bangga pada jumlah, tapi anak negri memang tambah pintar dan berkualitas termasuk karya anak negri : PORTAL GARUDA. Hmmmm.... Portal Garuda bakal kebanjiran artikel ilmiah nih, tapi ngomong-ngomong, siapkah?