Pages

Friday, December 20, 2013

Literasi Informasi : Bukan Informasi Basi


Fakta Pembelajaran
Pembelajaran yang berlaku di perguruan tinggi pada umumnya masih menekankan pada kegiatan tatap muka. Kehadiran teknologi informasi memberi variasi baru pada tatap muka yang terjadi. Koneksi internet di kelas memberi kesempatan untuk menjelajah informasi bersama dan berbagai temuan. Diskusi kelompok di kelas mendorong pertukaran ide dan pengetahuan. Praktik di laboratorium atau di luar kelas memberi kesempatan untuk mengalami sendiri yang didiskusikan di kelas dan menemukan fakta untuk digali lebih dalam. Kegiatan mandiri mendorong mahasiswa untuk menghasilkan produk informasi untuk membuktikan pemahaman dan menjadi bahan penilaian.  Dalam proses menghasilkan produk informasi sesuai dengan bidang studinya, hasil sangat ditentukan oleh kemampuan dan ketrampilan menggunakan peralatan atau teknologi yang relevan dengan tugasnya. Kurangnya keterampilan dan pengetahuan membawa mereka kepada situasi pencarian jawaban untuk menutup kesenjangan antara kemampuan dan produk informasi yang akan dihasilkan.  Kegiatan mandiri ini terhitung lebih lama dibanding kegiatan tatap muka di kelas atau di laboratorium bersama pengajarnya. Dengan demikian tempat bertanya  tidak selalu pengajarnya, sekalipun teknologi informasi memungkinkan.  Sumber jawaban diperoleh dari rekan, atau jawaban dari rekan di jejaring sosial.

Dari hasil produk informasi yang dikumpulkan sebagai bukti pembelajaran, tidak jarang hasilnya tidak lebih baik ketika produk yang mirip dikerjakan di kelas.  Kontrol dan arahan dari pengajar ternyata menentukan. Itu berarti kemampuan untuk menyerap informasi sebagai kontrol dirinya kurang ketika mereka mengerjakan secara mandiri. Di samping itu, kemampuan analisis terhadap masalah dan sumber informasi yang diperoleh tidak mencukupi untuk menghasilkan produk informasi yang maksimal.  Masalah ini terjadi pada mahasiswa berbagai jurusan atau bidang studi. Mahasiswa dari Fakultas Teknologi Informasi misalnya, sekalipun ketrampilan menggunakan komputer relatif lebih baik dari pada mahasiswa dari Fakultas Filsafat atau Sastra misalnya, bukan berarti tingkat berpikir kritis mereka lebih baik. Kemampuan analisis yang rendah salah satunya karena kurangnya berpikir kritis.
Banyaknya informasi yang hadir dengan mudah di keseharian mahasiswa tidak serta  membuat mereka mampu berpikir kritis. Informasi yang datang atau diperoleh sering diterima begitu saja tanpa memperhatikan faktor-faktor penentu kesahihan sumber informasi. Masalah lain adalah informasi yang didapatkan digunakan untuk membangun produk informasi dengan cara yang salah. Kesalahan yang sering terjadi adalah mengutip sumber, memberi apresiasi atau bahkan mengakui informasi yang diperoleh sebagai produk informasinya. Ini masalah besar, masalah plagiasi yang tidak bisa ditolerir.

Pembelajar dan Teknologi Informasi
                Teknologi informasi memang tidak pernah absen dalam pembelajaran. Sudah menjadi hal umum bahwa proses belajar dimulai dari mengakses informasi di Internet, baik untuk mendapatkan ide maupun untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang timbul. Jejaring sosial Facebook misalnya, menjadi tempat untuk bertanya baik dengan menuliskannya sebagai status atau melontarkan pertanyaan di grup yang relevan. Misalnya seorang mahasiswa Teknik Informatika melontarkan pertanyaan tentang solusi untuk kesalahan logika pada programnya. Pertanyaan dilontarkan di grup Facebook beserta cuplikan dari daftar kode programnya untuk mendapatkan jawaban dari rekan-rekan lainnya ketimbang menanyakan ke dosen atau asisten dosennya. Cara lain yang menjadi pilihan adalah menelusur informasi menggunakan mesin pencari untuk mendapatkan contoh penggunaan dan penanganan kesalahan yang serupa dari pengalaman orang lain.
                Seperti halnya Facebook, Google drive (dulu Google doc) juga berperan dalam melancarkan komunikasi ketika kebutuhan untuk berbagi dokumen diperlukan. Berbagi di sini bukan sekedar untuk mendapatkan dokumen, tetapi juga bekerja sama pada dokumen yang sama. Tugas paper yang dikerjakan kelompok akan dapat dilakukan dengan Google drive. Dosen yang mengumumkan rangkaian nilai yang berpotensi mendapatkan tanggapan dari mahasiswa, akan mudah melakukan perubahan dalam sekejap selagi mahasiswa memeriksa hasil perubahan. Sementara untuk berbagi e-book atau file yang perlu diunduh oleh mahasiswa maka selain memanfaatkan Google drive, layanan cloud seperti Dropbox memudahkan proses berbagi.
                Sumber informasi lokal yang disimpan dalam repositori lokal menjadi sumber informasi yang dibutuhkan juga dalam proses belajar. Misalnya repositori tugas akhir, skripsi dan thesis mahasiswa dalam bentuk digital. Akses dimungkinkan melalui aplikasi online yang disediakan. Sumber informasi ini diperlukan untuk mahasiswa yang menjelang pengerjaan skripsi/thesis/tugas akhir. Repositori yang mereka akses tidak terbatas pada repositori lokal. Dengan terbukanya akses terhadap repositori serupa di institusi lain, sumber informasi yang didapatkan lebih banyak dan beragam. Mereka mencari ide penelitian, melihat contoh penulisan, mendapatkan sumber pustaka yang relevan dan memastikan bahwa ide penelitiannya tidak sama dengan yang sudah ada. Keterbukaan sumber informasi pada repositori lokal yang memuat muatan lokal institusi merupakan aset berharga untuk dipublikasikan dan juga dikontrol secara sosial. Karena itu penting sekali untuk mahasiswa mengetahui dan memahami cara penggunaan informasi dari berbagai sumber. Ketidaktahuan mereka dapat berakibat fatal dan pada kenyataannya banyak mahasiswa yang tidak tahu bagaimana cara menggunakan informasi dari repositori tersebut dengan benar.
                Ketidaktahuan cara penggunaan sumber informasi berpotensi menghasilkan produk informasi yang tidak sahih dan berpotensi terjadinya tindak plagiasi. Masih banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa informasi dari ensiklopedia dan blog tidak dapat digunakan sebagai sumber acuan pada  karya ilmiah mereka. Sementara itu, WIKIPEDIA merupakan sumber informasi favorit yang menjadi tujuan pertama mendapatkan informasi. Mereka tidak menyadari bahwa entri pada Wikipedia berasal dari beberapa sumber yang perlu diperiksa lebih dahulu kesahihannya. Demikian juga blog yang berisi tulisan-tulisan pribadi pemilik blog. Tulisan-tulisan tersebut  tidak dipublikasikan melalui pemeriksaan/review dengan tanpa menyertakan sumber pustakanya.  Tidak jarang blog juga berisi tulisan-tulisan orang lain yang ditayangkan tanpa pertimbangan hak cipta atau kesahihan informasi. Ini bukan berarti Wikipedia dan blog tidak berguna, tetapi mahasiswa perlu tahu bagaimana memanfaatkan kedua sumber informasi tersebut.
                Informasi digital dalam bentuk citra, grafik, video dan audio menjadi informasi yang dibutuhkan oleh para pembelajar sesuai dengan bidang studinya. Untuk format-format visual dan audio penggunaannya pun tidak lepas dari ketidaktahuan. Misalnya ketika menyiapkan presentasi menggunakan Power Point, informasi visual/audio sering menjadi bagian dari informasi yang disiapkan. Tidak jarang informasi visual/audio diperoleh dari sumber lain tanpa apresiasi atau pengakuan. Ini masalah serius. Ketidak-tahuan ini umum terjadi, kalaupun tahu bahwa kurang tepat, masih banyak yang tidak tahu harus bagaimana.
                Keterhubungan secara online memungkinkan informasi masuk kapan saja dan sebagian informasi membutuhkan respon segera. Sebagian informasi perlu segera diperoleh dan semua ini memungkinkan dengan teknologi bergerak seperti smartphone/telpon pintar. Dengan teknologi bergerak ini informasi diperoleh kapan saja dan dimana saja selama koneksi internet memadai. Akses berbagai format informasi melalui smartphone dimungkinkan. Karena itu, beberapa vendor database jurnal elektronik menyediakan akses melalui smartphone untuk menjawab kebutuhan pengguna e-journal pelanggan mereka (Committee, 2012).  Mereka menyadari bahwa pengguna smartphone meningkat dari tahun ke tahun dan penggunaan smartphone lebih sering untuk mengakses informasi dan berkomunikasi secara online melalui berbagai jejaring sosial.

Jembatan Kesenjangan Kebutuhan dan Informasi
                Penjabaran di atas menggambarkan situasi umum mahasiswa berkaitan dengan pembelajaran yang dijalani di perguruan tinggi. Ada kesenjangan antara kebutuhan informasi urusan akademik/keseharian dan informasi yang diperlukan. Kesenjangan ini umumnya tidak disadari sebagai masalah yang perlu diatasi segera. Kesenjangan ini tidak hanya dialami oleh mahasiswa, para dosen pun mengalami kesenjangan ini pada tingkat yang berbeda. Kemampuan menggunakan informasi dengan efektif dan etis menjadi jembatan kesenjangan itu. Karena itu harus ada yang mengupayakan agar kemampuan penggunaan informasi mahasiswa dan juga dosen.
                Kemampuan literasi informasi, kemampuan menggunakan informasi secara efektif dan etis, sebenarnya dimiliki semua orang pada tingkat tertentu. Hanya saja kemampuan ini tidak terjamin meningkat secara linier dengan kebutuhan informasinya. Seperti penjelasan SCONUL 7 Pillars, model literasi informasi dari SCONUL, digambarkan ada 7 pilar kemampuan untuk memenuhi kebutuhan informasi. Ketujuh pilar itu adalah (SCONUL, 2011) :
1.       Kemampuan untuk paham kebutuhan informasi
2.       Kemampuan mengenali jenis informasi, karakteristik, dan tantangan untuk mendapatkan informasi
3.       Kemampuan menentukan strategi pencarian dan kata kunci dari informasi
4.       Kemampuan melakukan pencarian dan akses informasi
5.       Kemampuan mengevaluasi relevansi, dan akurasi
6.       Kemampuan mengelola informasi, mengutip, susun bibliografi,  dan menggunakan   informasi secara etis
7.       Kemampuan menyusun produk informasi dalam bentuk yang tepat dan menyajikan dengan benar sesuai dengan audiens.


https://www.sconul.ac.uk/groups/information_literacy/sp/doughnut.jpg
Gambar 1
Ketujuh kemampuan menurut SCONUL seperti pada Gambar 1, ini meningkat sesuai tantangan kebutuhan informasi seseorang. Misalnya, seorang mahasiswa tahun pertama, tantangan kebutuhan informasinya adalah menghasilkan tulisan karya ilmiah hasil observasi sederhana, mahasiswa tingkat akhir menghadapi penelitian untuk syarat menyelesaikan studinya, sementara dosen melakukan penelitian untuk menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan beberapa bidang ilmu/multidisiplin. Kemampuan mahasiswa tahun pertama, tingkat akhir dan dosen dalam memahami kebutuhan informasi, mendapatkan informasi dan mengevaluasi informasi tentu saja berbeda karena tingkat kesulitan dan sumber informasi yang digunakan berbeda.
Model literasi informasi SCONUL 7 Pillars dirancang untuk perguruan tinggi, berlaku untuk dosen, mahasiswa dan pustakawan perguruan tinggi. Dengan memahami kemampuan-kemampuan yang dijabarkan untuk setiap pilar dan memahami kebutuhan informasi serta tantangan untuk menghasilkan produk di perguruan tinggi, program literasi informasi dapat dirancang dan disiapkan. Model literasi informasi lain seperti Big 6 juga dapat diadaptasi sekalipun peruntukannya lebih umum dan sering digunakan untuk tingkat SD sampai SMA.  Namun demikian 6 langkah dalam Big 6 (Task Definition, Information Seeking Strategies, Location and Access, Use of Information, Synthesis, Evaluation) (Eisenberg & Berkowitz, 2012) sesuai untuk mahasiswa di perguruan tinggi. Langkah-langkah dalam SCONUL 7 Pillars dan Big6 serupa dan merupakan langkah-langkah yang biasanya memang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan informasi, hanya saja selama ini langkah-langkah tersebut tidak disadari dan diberi label. Sekalipun demikian, kemampuan pada tiap langkah sering kali tidak sempurna atau bahkan tidak ada, sehingga produk informasi yang dihasilkan dianggap gagal, atau kurang sahih.

Literasi Informasi : Tanggung Jawab Pustakawan
                Perguruan tinggi menghadapi tantangan globalisasi dengan adanya kemungkinan mahasiswa mengenyam pendidikan di beberapa perguruan tinggi pada masa studi yang sama. Sertifikasi kompetensi menjadi saingan untuk memenangkan lulusannya di dunia kerja (Jackson, 2012). Sementara calon mahasiswa yang masuk memiliki kemampuan beragam sehingga kemampuan bersaing dengan menghasilkan lulusan berkualitas tinggi terancam. Jackson (2012) juga menyatakan bahwa bentuk pengajaran di perguruan tinggi akan menitik beratkan pada pengalaman, praktek dan juga simulasi dengan menggunakan sumber-sumber yang sudah tersedia. Kemandirian mahasiswa dalam kemampuan mengidentifikasikan pengalaman yang valid dan tak valid serta sumber yang dapat diandalkan atau tidak, sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini dikatakan bahwa perpustakaan justru tidak mengadakan pelatihan literasi informasi. Jika demikian maka program literasi informasi dibutuhkan dan menjadi tanggung jawab pustakawan untuk dapat menyediakan pelatihan itu.
                Sebuah contoh bagaimana pelatihan literasi informasi diadakan untuk dosen dan mahasiswa di Departement of Art History, University of Chicago, Illinois, USA oleh VRC ( Visual Resource Center). Visual Resource Center  yang mengkoleksi  1,3 juta koleksi visual dalam bentuk digital : hasil scan, pembelian, dan berbagi dengan institusi lain. Visi VRC adalahmembantu mahasiswa dan dosen untuk mencari, menciptakan dan menyajikan citra/image. Beberapa tantangan dalam mewujudkan visi adalah  ketidaktahuan pengguna (mahasiswa dan dosen) tentang koleksi VRC,
ketidaknyamanan pengguna dengan teknologi, dan information overload (limpah ruah informasi yang tersediauntuk digunakan).
Untuk membuat pengguna tahu tentang koleksi tersedia mereka memperlihatkan perbedaan antara  gambar/citra atau image yang berasal dari Google atau web lain dibandingkan dengan koleksi VRC.  Koleksi yang didapat dari Google sering kurang lengkap karena merupakan hasil cropping, warna tidak tajam, informasi tidak akurat dan kurang kredit/informasi author/asal. Usaha mereka memperkenalkan koleksi dengan cara membandingkan ternyata punya efek. Mahasiswa dan dosen mulai menggunakan koleksi VRC.
VRC juga melakukan mediasi penggunaan teknologi di VRC  untuk bekerja dan belajar : seperti setting laptop, menggunakan software, scanning objek,  gunakan kamera dan projektor.  Ternyata mahasiswa setelah tahu sesumber yang berkualitas tinggi dan teknologinya, mereka sering merasa terintimidasi lebih dari sebelumnya.  Cara mengatasinya adalah mereka terlibat dalam transisi koleksi slide 35 mm ke digital. Perubahan teknologi ini mengurangi ketidaknyamanan, karena begitu mereka tahu/terlibat, mereka dapat menggunakannya.
Fasilitas aplikasi database LUNA dan ARTstor yang dimiliki dilengkapi dengan fungsi unduh beberapa citra langsung dan dapat diunduh langsung ke power point untuk mereka menyiapkan presentasi. Kemudahan ini membantu pengguna mengakses koleksi secara mudah, tetapi pada waktu yang sama informasi menjadi berlimpah ruah. Ketersediaan informasi yang begitu banyak menyulitkan pengguna (mahasiswa dan dosen) karena itu staff VRC membantu pengguna untuk menggunakan dan menyusun digital image pada aplikasi LUNA dan ARTstor.  Selain itu LUNA dan ARTstor memiliki antarmuka yang mudah: terdiri dari 3 tab FIND, CREATE dan DISPLAY.  Di Setiap halaman pengguna dapat browsing atau retrieval.  Blog yang terupdate disediakan dan terbarui rutin berisi tips untuk menggunakan LUNA. Selain itu ada pelatihan yang diadakan di perpustakaan seperti pelatihan  sitasi dan manajemen sitasi, pelatihan penggunaan video editing software untuk dosen, dan konsultasi penggunaan personal image management tools, seperti Extensis Portfolio. Untuk itu staff VRC dibutuhkan untuk menguasai penggunaan tools yang diajarkan ke para dosen. Keberhasilan staff VRC juga karena mereka bersedia terlibat diskusi informal dan dosen/mahasiswa tentang layanan dan koleksi yang dimiliki dan seberapa efektif layanan/koleksi membantu serta apa yang mereka butuhkan (Amanda, 2012). Secara khusus jenis literasi informasi yang dilakukan oleh VRC adalah Visual Literacy.  ACRL (2011) mendefinisikan Visual literacy sebagai  :
“Visual literacy is a set of abilities that enables an individual to effectively find, interpret, evaluate, use, and create images and visual media. Visual literacy skills equip a learner to understand and analyze the contextual, cultural, ethical, aesthetic, intellectual, and technical components involved in the production and use of visual materials”.
Kemampuan yang dijabarkan sama persis dengan kemampuan dalam literasi informasi, hanya saja lebih spesifik informasi yang menjadi fokus adalah image dan visual media. Karena itu kemampuan yang dimiliki berkaitan dengan akses, evaluasi, pembuatan dan pemanfaatan citra (image) dan media visual.

Proses Berawal dari Dalam
                Memikul tanggung jawab begitu besar tentunya memerlukan visi, misi dan perencanaan ke depan dengan perhitungan. Beberapa hal berikut adalah hal-hal yang diperlukan dalam mengadakan program literasi informasi :
1.       Observasi kebutuhan komunitas
Seperti halnya pengalaman VRC di atas, pembentukan program visual literacy diawali dengan melakukan observasi kebutuhan pengguna. Dialog informal yang dilakukan dengan mahasiswa dan dengan dosen menghasilkan informasi masalah-masalah yang mereka hadapi dan harapan dari mereka untuk menyelesaikan masalah tersebut. Manfaatkan jejaring yang dimiliki untuk mendapatkan kesempatan untuk berbincang, brainstorming dan bertukar pikiran tentang kesulitan dan masalah mahasiswa dan/atau dosen dalam pembelajaran dan pengajaran. Perhatikan juga silabus mata kuliah, produk informasi tugas mahasiswa, dan hasil penelitian para dosen. Perbincangkan proses pembuatan suatu produk informasi : karya tulis, poster, film, drama, rancangan/desain, website, dan  program komputer misalnya. Cari tahu apa yang menjadi tantangan dalam menghasilkan produk informasi, dan bagaimana tantangan-tantangan itu diatasi. Hasil observasi tersebut sangat berharga untuk mengenali kebutuhan informasi dan kesenjangan yang terjadi. Tidak hanya itu, hasil observasi berpotensi menjadi karya tulis yang layak untuk dipublikasikan untuk menjadi pertimbangan dan informasi bagi pihak lain.

2.       Identifikasi fasilitas dan teknologi
Program literasi informasi dengan bentuk apapun membutuhkan fasilitas dan teknologi. Teknologi di sini tidak selalu berarti teknologi informasi. Teknologi non informasi pun bisa jadi dibutuhkan untuk program literasi informasi. Yang penting, dari hasil observasi ditemukan beberapa peluang program literasi informasi yang akan diadakan. Identifikasi fasilitas dan teknologi yang dibutuhkan. Seberapa yang ada dapat disiapkan untuk digunakan, yang belum ada jika memang memungkinkan untuk direncanakan ada untuk mendukung program literasi informasi berikutnya.  Fasilitas dapat berupa kesempatan atau peluang yang didukung oleh kebijakan. Misalnya mendapat kesempatan untuk memberikan program literasi informasi untuk mahasiswa baru pada tingkat program studi atau fakultas atau bahkan universitas. Kesempatan tersebut perlu disambut dan dimanfaatkan dengan baik. Hal lain yang mungkin misalnya menyisipkan materi literasi informasi di mata kuliah tertentu untuk mahasiswa dengan kebutuhan khusus, misalnya mahasiswa yang hendak KKN, atau mahasiswa tingkat akhir yang akan membuat skripsi atau projek akhir. Kesempatan-kesempatan seperti itu perlu dijajaki untuk berlanjut dan meluas. 
3.       Penyiapan sumber daya manusia
Sumber daya manusia sering menjadi tantangan terbesar dalam program literasi informasi. Berdasarkan pengalaman di FPPTI DIY periode 2010-2013, pelatihan terbanyak yang dilakukan adalah pelatihan literasi informasi. Dua kali pelatihan untuk calon instruktur, dan 7 pelatihan untuk berbagai kalangan. Tujuh pelatihan tersebut dilakukan di 7 perpustakaan perguruan tinggi di Yogyakarta. Dari ketujuh perpustakaan tersebut salah satunya adalah Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang memanfaatkan pelatihan itu untuk melatih pustakawannya, dan dari pelatihan tersebut mereka memberanikan diri untuk membuat program literasi informasi untuk mahasiswa. Pustakawan yang tadinya hanya beberapa saja yang berani mengajar, sekarang jumlah yang berani mengajar lebih banyak. Program literasi informasi menjadi program wajib bagi mahasiswa baru. Sebuah pengalaman yang tidak mudah menjalaninya tetapi mungkin untuk dilakukan. Metode saling memberdayakan satu sama lain dan menularkan apa yang diketahui kepada rekan-rekan pustakawan adalah cara yang efektif untuk dapat meningkatkan kemampuan dan pemberdayaan pustakawan.
Pelatihan yang diadakan oleh pihak lain bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tetapi mempraktekkan apa yang diketahui itu mengubah cara pandang dan menjadikan apa yang diketahui menjadi ketrampilan.

4.       Penetapan bentuk program
Manfaatkan informasi yang didapat dari observasi kebutuhan dan contoh-contoh yang ada di Internet tentang program literasi informasi. Pelatihan literasi informasi dalam bentuk tatap muka kelas mungkin menjadi hal yang amat mahal untuk dilakukan mengingat SDM yang ada sangat terbatas. Akan tetapi bentuk lain seperti informasi di web yang dapat diakses oleh smartphone dapat menjadi suatu program sederhana yang mampu menjangkau mahasiswa dan dosen dimanapun mereka berada. Mewartakan apa yang disediakan menjadi suatu hal yang harus dilakukan agar apa yang disediakan dapat dimanfaatkan.
Bentuk lain adalah pendampingan personal yang dapat diberikan kepada pengguna ketika mereka membutuhkan. Poster-poster yang memberikan tips cara penggunaan sumber informasi. Selebaran berupa kertas maupun selebaran online di jejaring sosial berisi tips memanfaatkan informasi, mendapatkan informasi atau membuat produk informasi dapat untuk membantu pengguna yang membutuhkan. Namun demikian, tidak seharusnya berpuas diri ketika itu semua dapat dilakukan, inovasi dengan teknologi informasi dan jejaring sosial dapat dimanfaatkan untuk menebarkan pengetahuan-pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan literasi informasi.

Pada akhirnya apapun yang sudah dilakukan perlu didokumentasikan untuk dievaluasi. Dari evaluasi tersebut ditemukan masalah yang belum diselesaikan dan ide-ide baru untuk program selanjutnya. Sebagai penutup, Meredith Farkas (2011) menyatakan sesuatu yang menarik tentang literasi informasi  :
“Information literacy instruction should be focused on helping people develop skills that will benefit them in answering questions and informing decision-making throughout their lives, not just for their next paper. Therefore, it’s critical that we develop instruction that supports critical inquiry in this extremely complex information environment.”
Program literasi informasi semestinya berfokus pada membantu orang mengembangkan keterampilan yang memampukan mereka menjawab kebutuhan informasi dan membuat keputusan dalam hidup mereka, tidak hanya untuk karya tulis mereka. Karena itu penting membuat program yang mendukung berpikir kritis di lingkungan informasi yang kompleks.

Sumber pustaka :
ACRL. (2011, October 27). ACRL Visual Literacy Competency Standards for Higher Education. Dipetik May 31, 2013, dari American Library Association: http://www.ala.org/acrl/standards/visualiteracy

ACRL  Research Planning and Review Committee. (2012, June). 2012 Top Ten Trends in Academic Libraries : A Review of the Trends and Issues Affecting Academic Libraries in Higher Education. College and Research Library News Vol 73 , hal. 311-320.

Amanda, R. (2012). Beyond Habit and Convention: Visual Literacy and the VRC. Public Servies Quarterly 8:3 , 271-276.

Eisenberg, M., & Berkowitz, R. (2012). What is the Big6? Dipetik November 8, 2012, dari BIG 6: http://big6.com/pages/about.php

Farkas, M. (2011, November 1). Information Literacy 2.0. Dipetik June 1, 2013, dari American Libraries Magazine: http://americanlibrariesmagazine.org/columns/practice/information-literacy-20

Jackson, G. (2012, Oktober 3). Enterprise, IT, E-Learning, and Transformation: Prospect in Higher Education. Educause Review , hal. http://www.educause.edu/ero/article/enterprise-it-elearning-and-transformation-prospects-higher-education.

Oakleaf, M. (2011). Are They Learning? Are We? Learning Outcomes and the Academic Library. Library Quarterly Vol 81. no.1 , 61-82.

SCONUL Working Group on Literacy Informacy. (2011). The SCONUL 7 Pillars of Information Literacy : Core Model for Higher Education. Dipetik June 2, 2013, dari SCONUL: http://www.sconul.ac.uk/sites/default/files/documents/coremodel.pdf



Seminar Nasional  -  Era Digital: Peluang dan Tantangan Bagi Pengembangan Perpustakaan

Perpustakaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Yogyakarta 5 Juni 2013

No comments: