Pages

Thursday, December 20, 2012

Perpustakaan Umum untuk Rakyat

Dari luar, gedung Perpustakaan Raja Tun Uda di Selangor tidak tampak sangat mewah dan artistik bentuknya. Kami datang dengan sejumlah pertanyaan dalam benak untuk menggali banyak informasi.
Gambar 1 : Perpustakaan Raja Tun Uda

Informasi dan pengetahuan yang dapat jadi bekal Perpustakaan umum DIY baru yang sedang dalam tahap penyelesaian gedungnya. Gedung yang bagus memang perlu untuk tampilan luar dan memikat hati pengunjung, tapi pelayanan yang menyentuh kebutuhan itu yang akan membawa kembali para pengunjung.
Gambar 2. Lantai Dasar dan Panggung

Tuesday, November 20, 2012

Urusan Tulis Menulis

Dari pengalaman mengajar mata kuliah penulisan karya ilmiah, pada umumnya mahasiswa bergumul dalam hal menulis. Dalam berlatih menulis, mereka menemui kesulitan dalam menyusun kalimat sekalipun mereka menuliskan apa yang mereka sukai, misalnya hobby. Keterbatasan kosa kata Bahasa Indonesia dan kurangnya kreatifitas dalam mengunakan beragam sinonim adalah masalah umum. Alur cerita yang kadang tak terstruktur mencerminkan cara berpikir mereka. Gaya tulisan testimoni yang melibatkan kata ganti orang masih menjadi salah satu kecenderungan gaya tulisan. Masalah lain adalah menggunakan informasi milik orang lain dengan benar dan menentukan informasi yang relevan dan sah dari berbagai sumber. Jadi, pergumulan mahasiswa dalam membuat tulisan bukan hal sepele untuk dilalui begitu saja. Sementara itu, yang namanya tugas paper atau tugas membuat tulisan ilmiah/akademis adalah tugas yang umum diberikan oleh para dosen. Dari tulisan sepanjang 2 halaman sampai laporan projek yang berlembar-lembar sudah jadi tugas yang umum mereka kerjakan. Kalau kemampuan mereka menulis buruk, memprihatinkan dan tentu saja membingungkan untuk dibaca, maka bagaimana mereka akan menjadi penyedia konten untuk mengembangkan komunitas di masa depan?

Wednesday, October 17, 2012

Mobile Technology and Library

Conference on  GenNext Libraries 2012 di Universiti Brunei Darussalam (8-10 Oktober 2012): Emerging Technologies: New Direction for Libraries

Istilah generation next atau gennext memberikan penekanan pada situasi pengguna perpustakaan yang pada umumnya adalah generasi next yang sangat akrab dengan teknologi informasi terutama komputer dan peralatan elektronik bergerak yang sangat personal sifatnya untuk mengakses informasi dari berbagai sumber.
Aplikasi bergerak atau mobile application menjadi pokok bahasan dari beberapa pembicara.  Keynote speaker Joe Murphy (@libraryfuture) membahas tentang bagaimana mobile gadget dimanfaatkan oleh pengguna untuk mengakses informasi dari berbagai sumber. Hal menarik dari presentasinya adalah aplikasi sosial seperti Facebook, Twitter dan Google+ tidak hanya membuat orang terkoneksi dengan orang lain, tapi juga menghubungkan orang dengan sumber informasi yang dibagikan lewat media itu. Informasi dapat dalam format apapun. Percakapan yang berpotensi mengandung pengetahuan dapat terjadi karena informasi yang dibagikan dalam bentuk teks, foto, atau lokasi. Dengan mobile gadget berbagi informasi menjadi lebih banyak, karena dimanapun orang dapat membagikan informasi.

Saturday, April 07, 2012

Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing)

Mengintip dari penjelasan Wikipedia, dikatakan bahwa Knowledge sharing is an activity through which knowledge (i.e. information, skills, or expertise) is exchanged among people, friends, or members of a family, a community (e.g. Wikipedia) or an organization. Artinya, berbagi pengetahuan adalah aktifitas saling bertukar/berbagi  pengetahuan (misalnya informasi, ketrampilan, atau keahlian) di antara sekumpulan orang, teman, atau keluarga, komunitas atau organisasi. Wikipedia sendiri memberi dirinya sebagai contoh tempat aktifitas berbagi pengetahuan di antara komunitas. Pengetahuan yang dibagikan dalam bentuk tertulis dan dipublikasikan secara online untuk dapat dinikmati setiap orang yang mampu mengaksesnya.Berbagi pengetahuan juga dapat terjadi secara sederhana seperti dalam percakapan, rapat, pelatihan, atau dalam kelas. 

Friday, February 10, 2012

Publikasi Karya Ilmiah sebagai Syarat Lulus Sarjana S1, S2, S3

Entah karena merasa kalah dari negri tetangga dalam hal jumlah publikasi karya ilmiah atau karena hal lain, surat Dirjen Dikti sebagian menulis  :



Sebagimana kita ketahui pada saat sekarang ini, jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkannya. Sehubungan dengan itu terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlukan ketentuan sebagai berikut:



Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah

Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti

Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.

Self-Efficacy in Information Literacy

Kata Self-Efficacy saya dengar pertama ketika membaca salah satu artikel dari Kurbanoglu tentang Self-Efficacy berkaitan dengan literasi informasi. Kemudian saya temukan juga istilah yang sama saat saya membaca salah satu buku  John Ortberg yang berkaitan dengan spiritualitas. Lah kok sama istilahnya. Ternyata istilah itu berasal dari bidang ilmu psikologi. Karena diingatkan lagi tentang istilah itu jadi ingin berbagi tentang self-efficacy terkait dengan literasi informasi.

Wednesday, November 30, 2011

Program Literasi Informasi: Bagaimana memulainya??

Hampir rasanya bosan bicara tentang literasi informasi di blog ini, tapi ternyata rasa bosan yang mulai muncul itu tidak sebanding dengan geliat program literasi informasi di sekitar kampus-kampus di Indonesia. Sepertinya literasi informasi hanya sering dibicarakan dari pada dilakukan. Yang sudah melakukan berjuang untuk mempertahankan, sementara yang mendengar malah banyak yang belum berani memulai.

Memulai program literasi informasi dapat dilakukan secara sederhana, dengan menemukan kebutuhan akan kemampuan ini di komunitas yang dilayani oleh perpustakaan. Kalau perpustakaan akademik maka komunitasnya adalah mahasiswa, perpustakaan sekolah melayani siswa, perpustakaan khusus melayani mereka yang ada di organisasi induk perpustakaan, dan perpustakaan umum melayani masyarakat. Tiap komunitas memiliki kebutuhannya sendiri, dan umumnya kebutuhan itu berkaitan dengan kegiatan mereka. Misalnya mahasiswa kegiatannya adalah mengerjakan tugas berupa karya tulis, produk yang berkaitan dengan ilmunya dan melakukan presentasi untuk produk atau karya tulisnya. 

Tuesday, August 30, 2011

Mahasiswa, Menulis dan Pustakawan

Tiga kata tersebut bukan suatu hal yang sengaja dituliskan dan memberi makna, tapi semata-mata tidak terlintas judul lain yang hendak mewakili hasil pengamatan dan pengalaman setelah selesaikan tugas mengepalai sebuah perpustakaan akademik. Tiga kata tersebut jadi kata kunci karena tiga hal itu jadi bagian dari pengamatan dan kegiatan. Kata kunci yang tak sepadan sebenarnya, karena hanya kata "menulis" yang bukan kata benda, tapi kata itu menghubungkan dua kata benda pengapitnya, "mahasiswa" dan "pustakawan".

Thursday, June 30, 2011

Library 2.0 Meme Map: Baca Peta Agar Tak Tersesat

Peta ini pernah saya cetak saat pertama kali mengenal istilah Library 2.0. Hasil cetak tersebut saya temukan lagi di tumpukan berkas waktu memindahkan semua berkas-berkas dari Perpustakaan ke ruang dosen di Program Studi seturut dengan berakhirnya tugas di perpustakaan setelah 6 tahun sejak April 2011. Peta ini menimbulkan ketertarikan untuk mengamati sekali lagi tentang Library 2.0.

Friday, June 17, 2011

Sistem Informasi Perpustakaan: Pustakawan Melek Teknologi Informasi itu Harus!!

Sistem Informasi merupakan kolaborasi manusia, teknologi dan kebijakan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi yang tepat untuk pihak yang tepat pula. Salah satu definisi sistem informasi atau Information system berdasarkan Dictionary of Military and Associated Terms. US Department of Defense 2005 adalah:
The entire infrastructure, organization, personnel, and components that collect, process, store, transmit, display, disseminate, and act on information.
Sebelum komputer memasuki dan berperan di semua bidang, sistem informasi sudah ada tanpa teknologi komputer. Sekarang setiap kali kata "sistem informasi" disebut sering mengacu pada sistem informasi berbasis komputer. Bentuknya berupa software atau perangkat lunak. Produk yang dibangun berdasarkan kebutuhan.  Produk semacam ini wajar jika memiliki harga yang tidak murah. Pertama karena kompetensi yang dimiliki pembangun software harus cukup untuk menerjemahkan kebutuhan kliennya menjadi suatu software. Umumnya tidak dikerjakan sendirian, tapi dalam tim. Alat dan bahan untuk membuat juga berupa software dan hardware, bukan barang murah. Waktu dan komunikasi hal penting dalam pembangunan software. Para pembangun juga harus mempelajari dan memahami situasi dan kondisi serta kebijakan yang berlaku di organisasi klien. Mungkin karena itu programmer (pemrogram/pembangun software) belajar banyak hal di bangku kuliah. Semakin paham, cenderung semakin baik software yang dibangunnya.

Manusia atau personel dalam sistem informasi mempunyai peran penting. Personel yang dimaksud dalam definisi  sistem informasi bukan pembangun software, tapi personel yang terlibat dalam sistem informasi tersebut. Mereka yang membuat dan melakukan kebijakan terhadap pengumpulan dan pengelolaan data serta penyebaran informasi kepada semua pihak yang terkait dalam sistem informasi tersebut. Di perpustkaan, sebagai suatu organisasi, pustakawan menjadi personel penting dalam sistem informasi perpustakaan, baik yang berbasis komputer maupun yang tidak berbasis komputer. Pustakawan yang tahu persis bagaimana sumber informasi itu diolah datanya, bagaimana menyajikan sumber informasi, kebutuhan pemustaka dan semua prosedur yang terjadi di perpustakaan. Pustakawan menguasai itu semua. Ketika pustakawan berhadapan dengan pembangun software, maka pustakawan menjadi sumber informasi bagi pembangun software untuk dapat menghasilkan sistem informasi yang sesuai dan tepat. Komunikasi di antara kedua pihak ini dan pemahaman kedua pihak ini terhadap sistem informasi yang akan dibangun sangat penting.

Harus diakui, berkomunikasi sering menjadi kelemahan para pembangun software karena dunia mereka yang serba teknis dan penuh dengan jargon-jargon yang spesifik. Jurang pemisah antara kedua pihak tersebut yang membuat sistem informasi perpustakaan tidak sesuai dengan kebutuhan perpustakaan yang menggunakan. Banyaknya sistem informasi perpustakaan yang dapat diperoleh secara bebas baik open source maupun tidak, atau yang dapat diperoleh berbayar membuat pustakawan perlu memiliki pemahaman terhadap sistem informasi. 

Keluhan yang pernah saya dengar dari pustakawan tentang pembangunan software adalah :
Proses pengerjaan yang memakan waktu lama, misalnya perpindahan data ke server baru. Pindah data dari satu server ke server lain bukan seperti memindahkan file dari flash disk ke komputer. Tidak sesederhana itu. Kesesuaian perangkat dan kestabilan data harus dijaga

Penambahan fitur pada sistem informasi berujung pada pembayaran. Software bukan mobil yang mudah diberi asesoris tambahan tanpa perubahan bentuk  dasar. Tambahan fitur yang terkesan mudah dan sederhana bisa jadi mempengaruhi fitur lain. Perubahan yang dilakukan bisa jadi mengakibatkan waktu yang lama, keahlian khusus atau bahkan mengubah arsitektur atau kerangka sistemnya. Ini bisa dicegah dengan lengkapnya kebutuhan sistem informasi di tahap awal pengembangan.

Merasa dirugikan oleh kontrak antara perpustakaan dan tim pembangun software. Sebagai klien, pustakawan harus memahami kontrak yang dibuat, tidak mempercayakan kepada pihak tim pembangun software untuk membuat. Kontrak dibuat bersama-sama, dan dipahami kedua belah pihak. Hal yang paling mudah untuk dipahami dari suatu software adalah selalu terdiri dari 3 bagian: proses memasukkan data proses mengolah data dan proses menghasilkan informasi. Secara singkat dapat dikatakan : INPUT-PROCESS -OUTPUT. Dalam kontrak perlu dijelaskan ketiga hal tersebut. Jargon-jargon atau istilah-istilah yang tidak dimengerti harus dijelaskan pada bagian glossary untuk pemahaman bersama. Tim pembangun software yang hebat, mampu mengkomunikasikan apa yang mereka rencanakan dan mampu buat menggunakan istilah yang dapat dipahami oleh kliennya. Tim pembangun yang hebat, berusaha memahami konteks dari kliennya.

Pustakawan harus berani belajar tentang sistem informasi perpustakaan. Sekalipun sekarang banyak sistem informasi perpustakaan yang open source sifatnya, bukan berarti tanpa biaya. Open source artinya sistem informasi tersebut didapat dengan bebas tanpa biaya, dapat dimodifikasi oleh siapapun dan didistribukan kembali juga secara bebas juga. Etika memberikan apresiasi pada setiap kontributor sistem informasi tersebut juga harus diperhatikan. Lalu dimana letak biayanya? Ketika perpustakaan tidak memiliki staff yang kompeten untuk melakukan instalasi dan mengimplementasikan sistem informasi perpustakaan yang open source tersebut, pasti ada biaya jasa untuk melakukannya. Ketika ada kebutuhan pemeliharaan sistem informasi perpustakaan, perlu ada biaya jasa untuk pemeliharaan. Modifikasi yang dilakukan oleh pihak yang kompeten pun harus diapresiasi dengan biaya jasa. Itu semua bukan untuk membayar sistem informasi perpustakaan yang open source itu.  Sistem informasi perpustakaan yang open source biasanya didukung oleh komunitas yang memanfaatkan sistem tersebut dan pembangun yang terus menerus mengembangkan, serta pihak lain yang turut memberikan kontribusi.

Jadi kunci dari sistem informasi perpustakaan adalah personelnya. Personelnya adalah pustakawan. Kalau pustakawannya melek teknologi informasi, maka akan mampu mencari alternatif pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan. Karena itu, pustakawan perlu meningkatkan pengetahuannya dalam bidang teknologi informasi dengan cara apapun, mandiri atau berkelompok.  Salah satu cara adalah datang pada kegiatan atau acara-acara perpustakaan yang berbau teknologi informasi. Jangan hanya staff  teknologinya yang diutus untuk hadir. Rugi! 

Selamat menjalani proses melek teknologi informasi.