Pages

Thursday, June 30, 2011

Library 2.0 Meme Map: Baca Peta Agar Tak Tersesat

Peta ini pernah saya cetak saat pertama kali mengenal istilah Library 2.0. Hasil cetak tersebut saya temukan lagi di tumpukan berkas waktu memindahkan semua berkas-berkas dari Perpustakaan ke ruang dosen di Program Studi seturut dengan berakhirnya tugas di perpustakaan setelah 6 tahun sejak April 2011. Peta ini menimbulkan ketertarikan untuk mengamati sekali lagi tentang Library 2.0.



Menurut Michael Casey definisi Library 2.0 adalah
Library 2.0 is all about library users -- keeping those we have while actively seeking those who do not currently use our services. It's about embracing those ideas and technologies that can assist libraries in delivering services to these groups, and it's about participation -- involving users in service creation and evaluation. Library 2.0 is an operating model that allows libraries to respond rapidly to market needs. This does not mean that we abandon our current users or our mission. It is a philosophy of rapid change, flexible organizational structures, new Web 2.0 tools and user participation that will put the library in a much stronger position, ready to efficiently and effectively meet the needs of a larger user population. (Michael Casey, LibraryCrunch: www.librarycrunch.com)
 Awal dari definisi tersebut menyatakan bahwa Library 2.0 adalah tentang pengguna perpustakaan, atau dalam bahasa Undang-undang perpustakaan di Indonesia adalah pemustaka. Ya, Library 2.0 ternyata tentang pemustaka. Pemustaka tidak hanya disodori layanan, tapi juga terlibat dalam layanan. Waktu hendak menyodori layanan bagi pemustaka, mereka terlibat dalam menentukan layanan apa yang mereka butuhkan. Library 2.0 bisa dikatakan dari pemustaka untuk pemustaka. Pemustaka jadi pusat. Lho apakah selama ini library yang tanpa embel-embel 2.0 tidak menjadikan pemustaka pusat perhatian? Bukankah koleksi perpustakaan ada karena dimaksudkan untuk melayani kebutuhan pemustaka? Bukankah layanan dan fasilitas diadakan untuk menjawab keperluan pemustaka? Lalu apa bedanya model Library 2.0 dan library atau perpustakaan yang sudah sekarang?
Library 2.0 meme map - version 2.0
Sejak semula embel-embel 2.0 ditempelkan mengacu dari teknologi yang sekarang sedang booming, yaitu Web 2.0. Ada baiknya juga memahami teknologi itu untuk mendapatkan esensi dari Library 2.0. Secara sederhana teknologi Web 2.0 hadir untuk memberi gambaran bahwa teknologi web sekarang ini berbeda dari web dulu. Bedanya pada layanan yang memberikan kesempatan pada setiap orang yang terkoneksi ke Internet untuk menjadi sumber informasi. Dulu web dibuat oleh banyak orang secara khusus, sementara sekarang ada layanan blog yang membuat setiap orang yang terkoneksi ke Internet dan punya ide untuk dibagikan kepada dunia dengan cepat dan mudah. Ada layanan seperti wiki yang menampung banyak ide atau karya tulis banyak orang dengan mudah dan cepat. Ada Youtube, Flickr, Delicious, Slideshare dan sebagainya itu untuk kita berbagi konten, dokumen dan produk informasi dalam berbagai jenis menurut layanannya kepada dunia. Lebih lagi, pada setiap produk yang ditayangkan oleh orang lain, ada layanan untuk menampung komentar, masukan dan ide berupa tag agar sebagai tambahan informasi yang dapat diakses orang sedunia. Sejak tadi penekanannya pada dunia, karena memang ini layanan ditujukan untuk umum dan sekali tertampil/tertayang, itu dipublikasikan umum.  Pendeknya, setiap orang di dunia ini dapat berpartisipasi secara mudah sebagai sumber informasi.

Partisipatif inilah yang menjadi ciri khas dari teknologi berembel-embel 2.0. Ciri khas ini juga yang dijadikan penekanan pada Library 2.0. Secara sederhana, Library 2.0 adalah perpustakaan yang memiliki karakteristik partisipatif. Hal ini diterjemahkan pada karakteristik yang dijabarkan pada kotak ungu pada peta di atas:

  1. berpusat pada pemustaka
  2. lingkungan yang didukung teknologi
  3. menjangkau kebutuhan pemustaka yang bersifat long tail
  4. konten tersedia pada lebih dari 1 alat saja
  5. memanfaatkan software yang berbasis komponen yang pengembangannya lebih cepat, bukan sistem informasi perpustakaan yang monolothic yang hanya merupakan software tunggal yang berdiri sendiri
  6. ada perubahan yang terus menerus terjadi
  7. memanfaatkan teknologi web 2.0 dan layanannya
  8. mengimplementasikan open standard
Library 2.0 melibatkan pemustaka dalam kegiatannya dan menjadikan pemustaka pusat dari perhatiannya. Menangkap kebutuhan pemustaka dan menyediakannya dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan menjadi semangat Library 2.0.

    2 comments:

    seseorang said...

    Wah mba salam kenal, saya nadya mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi. Kebetulan kemarin di kelas baru membahas library 2.0 yang saya tangkep si perbedaannya dari sistem sebelumnya library 2.0 ini memang terletak pada "user contribution" :)
    mohon izin copy meme map-nya ya mba

    Umi Proboyekti said...

    Nadya, silahkan saja.
    Membaca peta itu membuat kita lebih mengerti apa itu lib 2.0 dan karakteristiknya. Selamat velajar.