Pages

Tuesday, August 30, 2011

Mahasiswa, Menulis dan Pustakawan

Tiga kata tersebut bukan suatu hal yang sengaja dituliskan dan memberi makna, tapi semata-mata tidak terlintas judul lain yang hendak mewakili hasil pengamatan dan pengalaman setelah selesaikan tugas mengepalai sebuah perpustakaan akademik. Tiga kata tersebut jadi kata kunci karena tiga hal itu jadi bagian dari pengamatan dan kegiatan. Kata kunci yang tak sepadan sebenarnya, karena hanya kata "menulis" yang bukan kata benda, tapi kata itu menghubungkan dua kata benda pengapitnya, "mahasiswa" dan "pustakawan".



Berawal dari sebuah kondisi yang dirasa kurang kondusif di suatu kegiatan jurnalistik program studi dimana saya bekerja, saya dipilih, dipinang,dan diminta oleh  para mahasiswa di kegiatan tersebut untuk mendampingi mereka. Mulailah saya, kemudian, berkecimpung dalam dunia tulis-menulis mereka. Mereka menentukan garis merah tulisan mereka, format khusus dan cara disain, lengkap dengan gaya menulis dan apa saja yang layak tayang dalam terbitan mereka. Dalam usaha mereka yang naik turun dalam menjaga semangat melangsungkan kehidupan terbitannya, saya melihat bahwa ternyata tidak banyak yang memang suka menulis. Mahasiswa yang terbiasa sehari-hari selalu menulis status mereka di Facebook, mengungkapkan ide mereka di Twitter dan berbagi di Google+ ternyata tidak memanfaatkan keseharian mereka dalam bentuk tulisan yang lebih panjang dari pada status mereka.

Tulisan-tulisan yang tertayang ternyata mengundang minat mahasiswa lain untuk membaca. Tulisan mereka memang ringan, tapi selalu berusaha tetap ada pesan dan pengetahuan yang disisipkan. Terbitan yang tak dijual itu ternyata mampu memberikan kesegaran bagi teman-teman mahasiswa lainnya. Dari kondisi kekurangan artikel yang sering mereka hadapi, kali ini mereka menghadapi banyak tulisan yang masuk. Menjadikan teman-teman bukan anggota pengurus sebagai kontributor artikel adalah usaha bersama yang membuahkan hasil. Hasil tuaian para penanggung jawab rubrik ini dilakukan dengan pendekatan personal dan ide-ide tulisan yang diajukan kepada rekan-rekannya. Ide-ide tulisan beragam: prestasi akademik, komunitas, teknologi, mata kuliah, alumni, prestasi non akademik, kegiatan komunitas, dan para dosen. Mereka bahkan membuat blog untuk memberikan informasi tentang terbitan mereka kepada umum dan menjadi tempat berbagi tentang kegiatan mereka. Kegiatan dapur mereka.

Proses yang banyak tantangannya adalah editing artikel. Kemampuan bahasa menulis mereka harus melebihi teman-teman yang mengirimkan tulisan itu. Penggunaan bahasa sehari-hari atau super gaul menjadikan mereka ragu akan banyak hal: tata bahasa, menggunakan kata sambung, dan juga mengubah kalimat yang super panjang menjadi beberapa kalimat tanpa mengubah arti. Ketika ada artikel yang urutan idenya tak tentu arah, rombak total jadi satu-satunya jalan, entah oleh penulis atau para editor ini. Mereka belajar banyak dalam kesulitan dan tantangan itu. Tidak selalu berhasil dengan mulus menghasilkan tulisan yang sempurna tapi menjadi lebih baik adalah prestasi sendiri.

Menulis memang bukan hal yang mudah. Dalam literasi dasar, orang membaca dulu baru menulis. Orang harus bisa membaca lalu baru bisa menulis. Menulis membutuhkan segenap kemampuan untuk mengolah informasi dan sintesis kumpulan data menjadi suatu kalimat yang dapat dimengerti oleh orang lain. Tulisan yang tak dapat dimengerti itu sia-sia. Menulis memang bukan hal yang mudah.

Pustakawan. Ah, kata ketiga yang belum muncul sama sekali di curahan ide di atas. Waktu, mendampingi mahasiswa-mahasiswa itu memperbaiki dan memeriksa tulisan teman-temannya, terlintas profesi ini di benak. Apa yang bisa pustakawan lakukan ketika para anak didik, dari yang baru belajar membaca/menulis  sampai yang seharusnya sudah pandai menulis, menghadapi tantangan dalam menulis? Berapa dari pekerjaan para pustakawan yang memberdayakan orang untuk menulis? Masihkah pustakawan kita terjebak dalam pekerjaan rutin melakukan sirkulasi buku, katalogisasi dan sibuk dengan perencanaan pengadaan koleksi buku? Sudahkah pustakawan berada dimanapun pemustakanya berada? Seperti pustakawan dari University of Purdue yang selalu membantu saya melalui OWL-nya yang kaya dengan informasi, misalnya.

Saya jadi ingat apa yang dikatakan Bapak Ida Fajar, Kepala Perpustakaan UGM, di suatu seminar/workshop bahwa kita harus memberi perhatian banyak kepada pengembangan perpustakaan sekolah dan terutama pengembangan pustakawan sekolah dari segi jumlah dan kualitas. Mengapa? Karena mereka bertemua dengan anak didik kita pada saat masih muda belia. Keberdayaan pustakawan sekolah menjadi modal untuk memberdayakan anak-anak muda belia itu. Pada saatnya nanti ketika mereka dewasa, masuk universitas, kemampuan mereka pasti lebih baik karena dasar yang ditanamkan kuat dan berbobot.

Begitulah semoga.


Tiba-tiba saya malu sendiri karena saya janji mau menulis buku, tapi tapi satu kalimatpun dimulai. 
Tiba-tiba saya malu lagi, karena ide penelitian yang harusnya sudah terbentuk sejak dulu menjadi proposal disertasi masih terpancang di awang-awang. 


No comments: