Saturday, July 19, 2008

waktunya bekerja

Workshop di Bogor kemarin adalah waktu belajar, brainstorming dan mendapat ide-ide baru serta juga merasakan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh teman-teman di perpustakaan sekolah. Pulang ke kandang, membawa banyak oleh-oleh yang sudah campur baur karena pengendapan yang mengolah rencana, pengalaman dan informasi baru.

Kalau teman-teman di perpustakaan universitas atau sekolah mengalami kesulitan dalam memasukkan IL ke dalam kurikulum, saya malah dapat nasib lain. Dengan begitu mulusnya, IL ditempelkan pada matakuliah BAHASA INDONESIA yang diwajibkan oleh DIKTI. Ini karena si Bos sudah memasukkannya ke dalam Kebijakan Akademik yang baru. Seneng? Seneng banget dapat dukungan begitu. Tapi..... harga yang harus dibayar adalah:
  1. persiapan modul yang segera siap
  2. pemberdayaan teman-teman di perpustakaan supaya mampu terlibat di kelas-kelas juga segera
  3. koordinasi intensif dengan teman-teman di MKH
  4. mengajar banyak kelas [busyet dah]
Pokoknya sekarang waktunya kerja. Saya sudah kebanyakan omong IL dan IL, tapi belum praktek. Semester ini akan jungkir balik mengajarkan IL di semua program studi S1 dan juga program pasca sarjana.

IL? jangan ngomong doang donk.. ayo kerjakan!


Mungkin beberapa teman merasa tanpa dukungan dari Bos, IL tidak bakal dapat dijalankan. Maaf, itu salah besar. Sebelum saya tahu dukungan yang besar dari Bos, kami sudah punya rencana sederhana untuk berbuat. Tidak ambisius, tapi melakukan dengan sederhana dan dapat dirasakan oleh pengguna. Yang kami rencanakan adalah:
  1. siapkan dan membuka kelas IL pada jadwal yang mungkin bagi mahasiswa
  2. siapkan beberapa modul sederhana
  3. membuat promosi sederhana ke para dosen untuk mendorong mahasiswa mereka ke perpustakaan untuk dibantu dalam kemampuan tertentu : pemanfaatan mesin pencari, penelusuran informasi di online database, pemanfaatan infrastruktur teknologi di kampus.
  4. promosi tetap adalah pengumuman yang selalu tertempel, dan melakukan pendekatan langsung saat mahasiswa ditemukan merasa kesulitan dalam akses dan penggunaan informasi.
Cara seperti ini akan berhasil. Kami sudah coba sebagian dan ternyata menular dari 1 mahasiswa ke mahasiswa lain. Senang melihat mereka tersenyum karena apa yang tadinya mereka tidak pahami, sekarang mereka sudah mampu lakukan.

Masa-masa sekarang adalah masa yang tepat untuk persiapkan beberapa modul IL. Tidak perlu lengkap, kerjakan semampunya. Buatlah selebaran sederhana, bagikan kepada mahasiswa baru, dan sediakan selebaran tersebut di perpustakaan. Bersiaplah untuk menyambut kedatangan mahasiswa-mahasiswa. Sekalipun hanya 1 orang, beri layanan terbaik.

Kita mengerjakannya karena kita peduli pada anak bangsa ini. Kita mengerjakannya karena kita memilih untuk mengerjakan. Kita mengerjakannya, karena itu panggilan hati kita, bukan hanya sekedar profesi, jabatan, atau bahkan karena kita digaji.


Selamat bekerja. SEMANGAT!!!!

Thursday, July 17, 2008

Kolaborasi untuk Pemberdayaan Anak Bangsa

Judul tulisan ini memang sengaja rada berbau orde baru, biar agak mengganggu saja. Tapi kolaborasi adalah salah satu yang didengungkan pada Indonesian-Workshop on IL di Bogor 7-11 Juli 2008 lalu. Kolaborasi yang dimaksudkan adalah kolaborasi antara Pimpinan lembaga pendidikan, guru dan perpustakaan. Kolaborasi ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan sekalipun untuk tujuan mulia.

Kolaborasi ini bisa terjadi jika ada kepedulian dan kesadaran bahwa pemberdayaan anak bangsa itu tidak dapat dilakukan sendirian entah guru, kepala sekolah atau perpustakaan. Kalau sampai harus ada instruksi dari pemerintah bahwa sekolah harus melibatkan perpustakaan dalam proses belajar mengajar itu sudah keterlaluan. Itu artinya kesadaran tidak ada. Kondisi ini menyebabkan banyak perpustakaan sekolah jadi gudang buku. Staff perpustakaan tidak merasa ada yang perlu dilakukan di dalam perpustakaan kecuali menjaga buku. Ada bahkan yang mengunci ruang perpustakaan jika staff pergi keluar, sehingga perpustakaan tidak dapat digunakan. Kesadaran guru-guru akan memanfaatkan sumber informasi di perpustakaan semaksimal mungkin juga rendah. Sering bahkan perpustakaan jadi tempat hukuman bagi siswa yang bermasalah, ini mencemarkan nama baik perpustakaan. [Aih!]

Guru dan Kepala Sekolah ada yang punya kecenderungan melihat sebelah mata [bukan ngintip lho] pada pustakawan. Anggapan sebagai penjaga buku saja sudah mencerminkan pandangan itu. Padahal pustakawan dapat menjadi rekan dalam memfasilitatori proses belajar mengajar, dengan begitu beban mengajar guru lebih ringan, dan kreatifitas dalam mengajar dapat meningkat. Mengapa? Pustakawan yang tidak terbatasi oleh ruang kelas dan kurikulum dapat memanfaatkan satu subjek mata pelajaran untuk melatih siswa belajar sesuatu dengan metode yang berbeda: project based learning. Metode yang berbeda biasanya menarik. Materi dan sumber informasi yang dimiliki pustakawan beragam [ini karena ilmunya memungkinkan itu]. Dari metode yang digunakan oleh pustakawan, guru dapat ide baru tentang metode dan juga sumber informasi.

Kepala sekolah biasanya dipusingkan dengan performa pengajaran yang kemudian dibuktikan dari hasil Ujian Nasional. Pemanfaatan perpustakaan harusnya bisa jadi pendongkrak performa belajar siswa. Masalahnya terpikir memanfaatkan tidak? Jangan-jangan masih terjebak dengan fungsi perpustakaan yang dipendam dalam-dalam : GUDANG BUKU.

Pustakawan sendiri kadang sudah cukup puas atau langsung ngambek [tidak mau melakukan apa-apa] ketika statusnya dipatok sebagai penjaga buku atau penjaga gudang buku. Padahal potensi seorang pustakawan luar biasa. Dia tidak hanya mampu mengatur organisasinya dan informasi yang didalamnya. Dia menjadi sumber informasi tentang lokasi informasi atau informasi yang diperlukan pengguna perpustakaan. Dia mampu mengajarkan cara akses informasi, memanfaatkan informasi dan menggunakan dengan etis informasi. Dengan begitu banyak potensi, tidak ada alasan untuk berpangku tangan atau ngambek berkembang.
..........
......
[sambung besok.. hari ini pilekku masih mengganggu]
.....
..........
Kadang-kadang situasi perpustakaan kita tidak mendukung: ruang yang kecil, koleksi terbatas, dana juga terbatas [saya pernah dengar ada perpustakaan dananya hanya 1 juta rupiah per tahun], sumber daya manusia juga terbatas dan kurang dukungan dari pimpinan. Semua serba terbatas. Kondisi itu sebenarnya tidak mengurangi ide bagaimana mengembangkan layanan di perpustakaan sehingga pengguna tertarik untuk dilayani di perpustakaan:
  1. Ruang yang kecil dapat ditata ulang dengan mengurangi furnitur yang kurang digunakan sehingga lebih luas. Kebersihan ruang yang prima [kalau perlu juga wangi] akan mendukung layanan.
  2. Koleksi terbatas dapat dikenali dengan lebih mudah. Kenali dan identifikasi koleksi yang bagus tapi tidak terbaca karena kelihatan kurang menarik. Baca dan kemudian buatlah ringkasan ceritanya, promosikan. Siapa tahu tertarik untuk membaca, atau tertarik untuk diceritai [story telling].
  3. Dana terbatas dapat digunakan secara strategis. Pilih fokus penggunaan dana: koleksi, alat, pengembangan manusia, atau mungkin jadi modal untuk proyek yang menghasilkan uang untuk perpustakaan [boleh kan?].
  4. Satu orangpun staff perpustakaan akan dapat berbuat banyak [ada lho perpustakaan akademik dengan 1 staff]. Tambahan teman dari mahasiswa penerima beasiswa adalah salah satu cara menambah teman bekerja dan berkarya.
  5. Dukungan pimpinan kurang, bukan berarti kita mati kutu. Mereka boleh tidak perhatian, tapi karya kita yang dinikmati oleh pengguna bicara lebih keras dari pada keluhan-keluhan kita yang buat kita dan orang lain capek dengarnya.
  6. Evaluasi diri. Coba bertanya kepada beberapa pengguna kita secara informal. Kenapa perpustakaan tidak menarik, atau tidak diminati untuk dikunjungi? Berubahlah. Kalau perlu ada musik di perpustakaan, ada snack kering dan kopi/susu/teh/es sirup tersedia, tempat ngobrol yang enak. Buku-buku ringan tidak selalu harus di rak. Biarkan tertata di meja tempat ngobrol. Siapa tahu ada yang tertarik untuk membaca.
Itu tadi hanya sebagian ide saja yang dapat dilakukan. Keterbatasan itu memang ada, dan menjadi berpengaruh karena kita menjadikannya masalah atau pengaruh yang buat kita mati kutu.

Ganti perspektif donk.

Situasi berubah sering kali karena kita dulu yang berubah. Ketika kita berubah lingkungan sekeliling kita, dalam hal ini guru/dosen dan pimpinan akan juga ikut berubah. Itu akan membuka peluang untuk berkolaborasi. Tidak perlu mengharuskan kolaborasi yang heboh, mulailah dari yang kecil saja. Tingkat pemanfaatan koleksi yang lebih baik untuk pengajaran saja sudah menunjukkan perubahan baik. Punya kesempatan untuk mengungkapkan ide kepada pimpinan atau guru/dosen dalam situasi informal maupun formal pun juga peningkatan. Pimpinan yang normal pasti ingin organisasi yang dipimpinnya jadi lebih hebat. Ide-ide brilian, sekalipun mulai dari yang sederhana, pasti diperlukan. Termasuk ide-ide dari para pustakawan.

Jadi para pustakawan yang masih termangu-mangu: ide-idemu berharga, jadi coba hargailah dirimu sendiri, karena engkau memang berharga.

Saturday, July 12, 2008

keberINFORMASIan

Makan malam pertama di Indonesian-WIL mempertemukan saya dengan Bpk. Blasius Sudarsono yang pernah memberi saya semangat untuk menekuni dan mulai menggarap Library 2.0 gara-gara beliau membaca tulisan saya tentang Library 2.0. Email kedua beliau tak saya tanggapi karena tak tahu harus bilang apa, maka dari itu pada saat berkenalan di makan malam tersebut beliau langsung bertanya kenapa emailnya tidak saya tanggapi [JLEB!]. Pembicaraan kami adalah seputar perpustakaan, dan lalu mengerucut ke literasi informasi. Dalam pembicaraan ini saya baru sadar kalau beliau seorang filsuf, jadi ku biarkan otakku yang terbatas ini terbuka dan belajar.

Kata Information Literacy harusnya punya padanan di Indonesia dan tidak serta merta diterjemahkan sebagai literasi informasi. Kalau dirunut, kata iliterate diartikan sebagai buta huruf, sehingga literate menjadi melek huruf/aksara. Kemudian literacy [kata benda dari literate] seharusnya mendapat padanan kemelekan, jadi information literacy dapat dipadankan dengan istilah KEMELEKINFORMASIAN, bukan melek informasi. Padanan kata lain yang dapat digunakan adalah KEBERINFORMASIAN, bukan keberaksaraan informasi, kenapa? Karena dalam KEBERINFORMASIAN sudah termaktub di dalamnya keberkasaraan, jadi keberinformasian tingkatnya lebih tinggi.
Orang yang disebut information literate person, dapat disebut, dalam bahasa Indonesia, orang yang berinformasi. Kata BERINFORMASI ini tidak hanya berarti orang itu punya informasi, tapi juga mengandung makna yang lebih lengkap dari sekedang memiliki informasi : berpikir kritis dan bertindak etis dalam menggunakan informasi. Hal ini adalah faktor yang paling mendasar dalam keberinformasian atau information literacy.

Pak, apa yang kutangkap dengan otakku yang terbatas ini sudah benar belum?.........................

APISI WORKSHOP : Customer Service

In my flight home to Yogyakarta from attending the Indonesian-WIL (Workshop on Information Literacy) in Bogor, I was so tired and sleepy in the plane. The snacks from Garuda GA 214 [July 11 2008 ; 18.00] did not attract me but when I and 2 other men in my row missed the drinks I could not stop myself to get attention from the flight attendance. They were so busy. The man, on my row, who sat by the aisle finally got a chance to tell the flight attendance that we got no drinks yet but she asked us to wait and then went ahead to collect the empty snack boxes. That was when the man got irritated by the service. It's not procedural, bad service and totally not customer oriented service. The other attendance finally covered the flaw improperly: forgot to ask what drink the passenger want, and apologized by bringing up management issue [lack of attendance] which is not the passenger concern. I finally got my hot tea and drank it while it's hot due to the landing preparation [OUCH].
I sat back and recalled what I experienced in the Indonesian-WORKSHOP on INFORMATION LITERACY by APISI. APISI [Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah se Indonesia] have a great team to run the workshop well. There are so many changes in the schedule due to many factors, however they managed to make the program flow smoothly. Each program was also a program for them to attend and participate. They didn't just work to run the workshop, but they also came as member and participated in the working group. CICO, the resort we used for this workshop, consists of villas of 3 bedrooms in each. The committee arranged that in each villa there were committee member in it. This is good for coordinating with the participants, to mingle with participants, good strategy to get feedback from participants too. They also mingled with participants during the meal time. Networking was a very visible agenda of them. The atmosphere of sharing knowledge and building networking was successfully built during those 4 days of the workshop.

Another part of my observation was the stamina of the committee. They diligently took a time to evaluate and manage the program every night after the day program ended. They spent hours until after midnight to evaluate the day program. They woke up early to set things up and had breakfast with the participants. The great stamina was also showed by the moderator who stayed in front moderating whole day sessions, 6 sessions in a row [BRAVO MENDY!] and an MC who steadily fought with the tired body and sleepy eyes to stay alert in the all sessions of the day [BRAVO STEPH]. That was the reason why there was no complains from the participants. Everybody enjoyed they learning process and loved the friendship offered:
  • We were equipped with great international speakers from Puan Faridah [Singapore], Puan Norhayati and Puan Rashida, and Mr. Diljit Singh[Malaysia], Mrs. Wawta [Thailand], and Hoan [Vienam] who shared with us their experiences in IL.
  • We were helped by local and wise expertises Pak Blasius, Bu Yati Kamil, Bu Utami, Bu Dora, and Pak Dhama who wisely guided us the young librarian.
  • We were spoiled with good food, nice restaurant GUMATI, singing and dancing time, and the kambing guling to accompany our friendship building during those days.
  • We had fun visiting the Bogor's Presidential palace, British Int'l School [BIS] Library and UPH library for the real view of library world.
My last experience with the committee was the journey to the airport from BIS. We had the tour of Banten to find the route to the airport. The eagerness of Edwin, the committee member who drove us, to take us to the airport was inspiring. This young man [freshmen student] politely asked for direction 4 times to different people and place. He had to take us on time to check in at least an hour from the flight time. He did it without complaining, and being grumpy. No complains of him about having lack of friend to drove in the long and winding road to the airport.

Thank you [left to right on the picture]: Aris, Eko, Febi, Chino, Mendy, Stephanie, Hanna, Etha, Sulfan, Robby, Edwin, David.