Pages

Thursday, October 23, 2008

Literasi Informasi untuk Guru

Salah satu tugas saya semester ini adalah menjadi Ketua Program Service Learning. Ini program KKN yang dimodifikasi menjadi proyek layanan masyarakat berdasarkan kebutuhan. Semester ini kami mendapat permintaan untuk mengajar kelas-kelas komputer untuk siswa SMA di kota Yogya. Ada dua SMA yang memasukkan permintaan layanan masyarakat ini. Maka kami menerjunkan dua kelompok mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem Informasi sebanyak 15 orang untuk masing-masing SMA.

Selain menjadi ketua, saya juga salah satu dosen pendamping kelompok [kayak kurang aja kerjaannya] dan siang ini kami, dosen pendamping dan mahasiswa kelompok service learning berkumpul untuk ngobrol bareng tentang apa dan bagaimana kegiatan mereka di lokasi service learning. Mereka yang berjumlah 15 ini memiliki tanggung jawab untuk mengajar siswa kelas 10-12 pada jadwal yang sudah ditentukan dan materi yang diminta dari sekolah. Mereka juga mengajar Selain itu, ada proyek analisis sistem informasi untuk mengelola manajemen sekolah, pengajaran, kesiswaan dan juga perpustakaan. Untuk itu dalam obrolan siang, pembicaraan berkisar antara tugas-tugas mereka dan hal-hal yang mereka temukan berkait dengan tugas-tugas tersebut.

Mengajar Siswa
Mereka menemukan bahwa mengajar siswa SMA lebih sulit daripada mengajar mahasiswa, adik-adik kelas mereka. Maklum sebagian dari mereka juga aktif sebagai asisten dosen di lab. Ketertarikan kepada komputer tidak merata sehingga ada yang tidak peduli sama sekali. Sementara ketika sudah berhubungan dengan Internet, yang mereka tahu hanya Friendster, Facebook, email dan chatting. Internet masih menjadi tempat hiburan, bukan tempat belajar, berkolaborasi, dan menambah pengetahuan tentang banyak hal lain.
Kelas komputer juga terkesan setengah hati. Kurikulum tidak disusun sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang lulusan SMA. Ini menyebabkan penentuan materi jadi bingung. Materi Akses Internet tidak diberikan pada kelas 10 dengan alasan guru akan kekurangan materi pada kelas 11. Padahal harusnya banyak yang dapat diajarkan kepada siswa SMA dan akan berguna bagi mereka ketika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi maupun memutuskan untuk bekerja. Kemampuan penggunaan komputer dan Internet harusnya dapat diraih ketika mereka di SMA.
Karena kurikulumnya setengah hati, tanpa sadar siswa dapat merasakannya sehingga merasa komputer dan Internet itu berguna bagi mereka kecuali untuk hiburan. Ini masalah digital divide.

Mengajar guru
Tak disangka-sangka, masalah digital divide yang lebih besar ada pada guru-gurunya. Mahasiswa mendapati ternyata mengajar guru-guru SMA tersebut lebih melelahkan dari pada mengajar siswanya. Sebagian guru sudah cukup mahir dalam operasikan komputer, tapi sebagian lagi masih sangat ketinggalan: menghidupkan komputer, dan menggunakan tetikus [mouse] masih bermasalah. Guru-guru tersebut, baik yang sudah bisa mengoperasikan komputer apalagi yang belum, pada kondisi yang sama, yaitu belum mendapatkan manfaat yang maksimal atau paling tidak besar dari penggunaan komputer. Kalau sebatas mengganti mesin ketik dan kalkulator ke komputer saja, itu berarti komputer belum dimanfaatkan dengan maksimal. Akses Internet yang sudah tersedia jadi mubazir karena para guru tidak paham pemanfaatannya. Digital divide pada para guru bisa jadi adalah penyebab dari kurikulum pelajaran komputer yang tidak maksimal dan terkesan kurang materi.

Sedih juga mendapati SMA di kota pendidikan masih dalam tahap ini. Sementara fasilitas bukan lagi menjadi masalah utama, ternyata sumber daya manusianya tidak sejalan dengan perkembangan fasilitas yang ada. Informasi yang membludak di Internet tidak dapat dimanfaatkan karena ada jembatan yang putus : ketrampilan pemanfaatan informasi.

Ini mengingatkan saya pada keluhan teman-teman pustakawan sekolah yang sering kali sulit bekerja sama dengan para guru. Jangan-jangan pustakawannya sudah mulai trampil dan peka terhadap kebutuhan ketrampilan pemanfaatan informasi, tapi guru-guru masih tidak paham dan kemudian melihat bahwa ketrampilan itu cukup sambil lalu saja diajarkan. Kalau begitu ketrampilan memanfaatkan informasi ini harus ditularkan pertama kali kepada guru. Para guru diajari untuk :
  1. mengoperasikan komputer: menghidupkan dan mematikan, operasi file, penggunaan eksternal memori, pemeliharaan komputer, setting sederhana untuk penggunaan periperal tambahan [LCD, headset, printer, scanner,video cam, microphone]
  2. menggunakan aplikasi perkantoran: pemrosesan kata, spreadsheet, presentasi, edit foto atau gambar.
  3. paham dan mampu mengggunakan search engine, email, mailing list, chat, aplikasi sosial network, blog, dan RSS.
  4. memanfaatkan teknologi informasi untuk pengajaran.
Ini pekerjaan besar. Ini juga akan mengubah paradigma para guru tentang budaya belajar, kolaborasi, berjejaring dan mengajar. Kemampuan tersebut kemudian dilengkapi dengan :
  1. kemampuan untuk mengidenfikasikan kebutuhan informasi
  2. kemampuan untuk menentukan sumber informasi yang diperlukan
  3. kemampuan untuk evaluasi sumber informasi
  4. kemampuan untuk mengelola informasi secara etis
  5. dan kemampuan untuk menyajikan informasi kepada audiens yang tepat
sehingga para guru tersebut kemudian memiliki budaya belajar dengan alat belajar yang bervariasi dan sumber informasi yang tak kunjung habis. Pengetahuan yang terus menerus bertambah ini akan menular kepada siswanya dan akhirnya membawa siswanya kepada budaya belajar yang sama.

Okay, kalau begitu mulai dari mana pak dan ibu guru? Ya diri sendiri.

2 comments:

Rizal said...

Ya saya juga pernah merasakan hal yang serupa ketika saya harus membantu guru2 bahasa inggris dari berbagai daerah di sumatera utara dalam pengenalan internet, jangan kan email dan lain2... memegang mouse aja ada yang tidak tahu... sedih ya... ;-)

Umi Proboyekti said...

waduh gak usah jauh-jauh di pedalaman, di sini: di jogja kota pelajar yang begitu masih ada. lebih sedih lagi kan?