Pages

Monday, September 29, 2008

Konflik Manusia

Beratnya jadi Kepala Unit.
Masalah membuat program dan mengerjakan pekerjaan tidak menjadi masalah sekalipun lelah. Apalagi ketika program berbarengan terjadi. Seperti saat ini, perpustakaan kami sedang melakukan re-inputing dan re-processing koleksi. Artinya, kami check koleksi pustaka yang berjumlah 50.000an itu satu persatu dan memperbaiki data elektroniknya, atau melakukan pengklasifikasian ulang jika perlu. Astaganaga kan?

Di samping itu, ada program literasi informasi yang harus dimulai semester ini dan dievaluasi hasilnya. Yang jelas, semua staff perpustakaan yang berjumlah kurang dari 10 orang itu fokus pada re-inputing dan re-processing koleksi, sementara saya bekerja sendirian untuk mengajar literasi informasi mengajar 5 kelas dan masih harus mengajar 4 kelas matakuliah jatah saya semester ini. Tidak mudah memang. Untung mengajar 9 kelas ini hanya 3 minggu, dan selanjutnya mengajar hanya 4 kelas jatah semester ini saja.

Di tengah-tengah keribetan pekerjaan yang tinggi, ternyata masih saja menyisakan tempat bagi sebuah konflik pribadi antara dua pria di perpustakaan. Konflik pribadi ini jadi tidak pribadi ketika keduanya harus bekerja sama dalam proses re-inputing dan re-processing. Komunikasi otomatis tidak ada, pekerjaan yang harusnya dapat dikerjakan lebih mulus jadi agak tersendat karena keduanya enggan kerja sama. Konflik pribadi menjadi kongflik organisasi.

Berbekal training sebagai mediator yang saya ikuti 9 tahun yang lalu, ternyata tidaklah mudah untuk menyelesaikan konflik antar dua manusia pria. Padahal, yang menjadi pokok masalah adalah PRIDE. Andai kata satu kata ini tidak dipegang erat oleh kedua manusia pria berkonflik itu, maka kata maaf akan mudah meluncur, dan suasana pekerjaan jadi lebih baik.

Dalam suatu konflik, semua pihak berkontribusi hingga ada masalah. Jadi tidak seorang pun benar, tidak seorangpun bersih dari masalah. Keduanya wajib menyelesaikan dan mengakui kontribusinya masing-masing.

Sayangnya, setelah bicara dengan keduanya secara terpisah, saya tidak melihat ada inisiatif dari keduanya menyelesaikan masalah ini. Saya tidak melihat dari keduanya tanda-tanda kerendahan hati. Saya tidak melihat dari keduanya tanda-tanda bahwa mereka punya kosa kata MAAF dalam kamus hati mereka.

Sayangnya, saya hanya bisa menjadi mediator, bukan pengambil keputusan bagi mereka bagaimana mereka harus bersikap. Ironisnya, mereka semua lebih tua daripada saya, bekerja di universitas ini lebih lama dari pada saya, dan berkeluarga lebih lama daripada saya.

Betul, tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan

Friday, September 26, 2008

Tata Ulang Perpustakaan

Seperti halnya pindah rumah adalah pekerjaan yang besar, tata ulang perpustakaan juga pekerjaan besar. Memikirkan dan membayangkan perpustakaan akan seperti apa sudah membuat kepala ini cenut-cenut, karena ada banyak ide dan di waktu yang sama banyak juga keterbatasan.
Tata ulang ruang perpustakaan ini memang harus dilakukan karena ada tambahan ruang yang diberikan ke perpustakaan pada gedung yang ditempati. Ada basement yang dulu dipakai oleh poliklinik kampus, ada ruang laboratorium, dan juga selasar tangga yang menjadi konsekuensi dari pertambahan ruang-ruang tadi. Jadi yang jelas, tangga gedung itu dari lantai basement sampai lantai ke 3 menjadi milik perpustakaan beserta selasarnya. Tangga itu tidak lagi menjadi milik umum.

Kalau dibilang senang dengan tambahan ruang ini, tentu saja senang. Di saat yang sama juga harus berpikir bagaimana ruang-ruang ini dapat dimanfaatkan, termasuk ruang selasar yang serba tanggung di lantai 3. Selasar jadi ruangan, kecil lagi. Apapun situasinya tema dari pengembangan dan tata ulang perpustakaan harus jelas. Suasana yang akan dicapai seperti apa. Inilah yang membuat semangat itu muncul. Perjuangan untuk menjadikan perpustakaan tempat yang pantas dikunjungi untuk berbagai alasan jadi punya peluang untuk diwujudkan. Karena itu, tema yang ditetapkan adalah
"perpustakaan yang menerima pengguna
dengan memberi kenyamanan sebagai
tempat belajar, bersantai, berkolaborasi atau tempat bertemu"
Brainstorming bersama menghasilkan konsep cafe dengan mengubah warna cat dinding yang membosankan dengan warna yang tidak umum, ruang baca dengan berbagai maksud:
tenang dan mandiri,
berkelompok,
mojok dengan laptop,
bertutorial bersama,
nonton film, menjelajah koleksi,
nongkrong dekat koleksi baru,
lesehan, duduk nyaman di anak tangga, atau
semedi di ruang khusus.
Boleh dilakukan dan ada tempatnya di perpustakaan. Selain itu, kami mendapati layanan sederhana lain yang ingin diadakan:
menerima pengunjung luar di tempat yang lebih manusiawi
mempermudah pengembalian koleksi tanpa masuk perpustakaan
mendekatkan koleksi-koleksi referensi ke pengguna
ruang kerja bagi tenaga paruh waktu yang semuanya mahasiswa
ruang rapat yang terbuka untuk unit atau fakultas
ruang belajar bagi kami yang dikelilingi oleh koleksi-koleksi tentang dunia perpustakaan
gudang buku dan arsip [ ini penting banget]
ruang display buku-buku tua yang kami punya
kelas audio visual dengan pilihan : lesehan atau dengan kursi
loker-loker dengan kunci yang disewakan dengan harga murah untuk 1 semester
[dan] cafe yang menjual snack kering dan minuman [di dalam perpustakaan lho]
kelas-kelas literasi informasi yang terjadwal
tenaga paruh waktu yang siap bantu kesulitan dalam penggunaan komputer dan Internet

Itulah cita-cita yang bikin senut-senut, terutama bagi rekan arsitek yang kami mintai untuk merancang tata ulang itu. Salah satu mahasiswa asistennya sudah bertanya kapan rancangan yang dia gambar itu diwujudkan, karena dia sudah terbayang ingin memanfaatkan sudut-sudut ruang yang dia gambar dan bayangkan wujudnya. Sudah ada yang bersemangat untuk merasakannya! Bagus itu.

Dalam tata ulang ini, tidak hanya pembagian ruang dan area yang penting, tapi furnitur juga menentukan. Warna cat juga akan berperan menentukan suasana. Kami sudah menentukan bahwa hanya ruang baca, ruang kelas audiovisual dan ruang basement yang ada AC nya. Sementara ruang koleksi tidak ber-AC, tapi di ruang koleksi itu tidak ada sekat-sekat apapun, sehingga jendela-jendela dan beberapa fan yang sudah terpasang akan membantu sirkulasi udara lebih baik. Pencahayaan dan tata lampu juga diberi perhatian.

Dengan dana yang terbatas, kami maju jalan dengan mempertemukan cita-cita dan usaha recycling. Artinya, kami akan selalu berusaha menggunakan apa yang kami punya. Modifikasi menjadi prioritas dari pada membeli baru. Pembelian furnitur baru dan pernik-pernik lain pasti tidak terelakkan, tapi dengan sangat selektif.

Terus-terang, belum ada tenggat waktu kapan proyek ini dijalankan dan diselesaikan lalu diluncurkan ke publik. Yang jelas, rancangan sudah sampai tahap akhir dan sudah disepakati. Langkah selanjutnya membuat algoritma pengerjaan dan memastikan lama pengerjaan. Pengerjaan di semester yang berjalan begini memang tidak mudah. Perpustakaan harus tetap melayani. Sementara itu waktu terus berjalan menuju akhir tahun, itu berarti tahun anggaran sudah hampir ganti baru.

Astaga.....



Monday, September 22, 2008

Program Literasi Informasi Perdana

Terjadi karena dianggap penting
Setelah sejak bulan Juli 2007, pertama kalinya berbicara tentang Information Literacy atau Literasi Informasi melalui suatu pelatihan literasi informasi untuk para pustakawan, baru bulan Agustus 2008, 1 tahun 1 bulan, program literasi informasi perpustakaan Duta Wacana diluncurkan. Program ini pada awalnya direncanakan untuk dilakukan di lab INLIT (Information Literacy) perpustakaan yang berisi 16 komputer. Namun, Pembantu Rektor I berpendapat bahwa program ini harusnya diberikan kepada para mahasiswa baru di semua program studi, karena penting.
Lalu, karena program ini non SKS, maka ditempelkan pada matakuliah BAHASA INDONESIA. Sehingga, 3 pertemuan pertama matakuliah BAHASA INDONESIA semester ini diisi dengan LITERASI INFORMASI.

Rencana, situasi, dan persiapan
Kelas BAHASA INDONESIA berjumlah 9 kelas untuk 6 program studi yang menyelenggarakan. Dari 9 tersebut yang terkontak pengajarnya untuk kerja sama hanya 6 kelas = 5 kelas murni BAHASA INDONESIA, 1 kelas adalah kolaborasi BAHASA INDONESIA dan PENULISAN KARYA ILMIAH. Jadi saya mengajar 5 kelas literasi informasi, disamping 4 kelas matakuliah lain dari program studi di tempat saya mengajar.

Berbekal semangat dan pengetahuan dan ide-ide yang dimasukkan ke benak saya di I-WIL, Bogor dan UNESCO TTT-for IL, MY, materi IL (Information Literacy) disiapkan dalam waktu yang amat singkat. Yang jelas apa yang dipelajari di TTT tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat. Kali ini main tabrak saja, yang penting jalan dulu. Model yang diadaptasi adalah BIG 6. Materi yang disiapkan adalah :
  1. Pemahaman Masalah: pemahaman masalah dengan brainstorming, freewriting, clustering dan 5W1H. [yang jelas tidak pakai LULALULALI]
  2. Strategi Pencarian Informasi : mengenal jenis sumber informasi, menentukan kebutuhan bentuk, isi dan format produk informasi
  3. Lokasi dan Akses Informasi:pencarian informasi dengan menggunakan search engine Google dan penelusuran artikel online di EBSCO dan PROQUEST
  4. Pemanfaatan Informasi: evaluasi sumber informasi dari Internet dan database online
  5. Sintesa: sitiran, mengutip, membuat paragraf
  6. Evaluasi : presentasi produk dan memberi evaluasi pada program literasi informasi
Ada 7 macam materi yang disiapkan berdasar model Big6, dan materi disiapkan dalam bentuk yang singkat serta padat. Tidak banyak waktu untuk menyampaikan: 3 pertemuan @ 3SKS (1 SKS=50 menit).
Hitung-hitung, ternyata waktu 3 x 50 menit untuk setiap pertemuan tidak lah cukup untuk sajikan semua modul dalam 3 kali pertemuan. Menyadari ini, tersusunlah rencana :
  • Pertemuan satu : langkah 1 dan 2
  • Pertemuan dua : langkah 3 dan 4
  • Pertemuan tiga: langkah 5 dan 6
Selain pertemuan yang hanya dibatasi 3 kali, jumlah mahasiswa di setiap kelas sebanyak 60 orang. Ya, sudahlah. Sekali lagi yang penting program literasi informasi ini jalan dulu.

Praktek pertemuan pertama
Berhadapan dengan mahasiswa baru punya semangat sendiri. Karena itu menjelaskan tentang Literasi Informasi kepada mereka adalah suatu hal yang luar biasa, apalagi 99,9% belum pernah dengar istilah itu. Pada pertemuan pertama, berjalan cukup baik. Mahasiswa menikmati aktifitas brainstorming, freewriting, dan clustering dengan berdasarkan tugas yang diberikan kepada mereka. Untuk mahasiswa Teknik Informatika, mereka mendapat tugas untuk membuat artikel pendek tentang Wiki Software atau Ponsel 3G. Produk mereka ditarget untuk semua mahasiswa berbagai jurusan. Dengan demikian, istilah-istilah yang di dunia TI harus dibatasi. Tujuan dari artikel itu adalah untuk memberi informasi kepada mahasiswa umum tentang dua topik tersebut. Teryata, sebagian besar belum tahu apa itu WIKI SOFTWARE, jadi sedikit penjelasan tentang WIKI SOFTWARE diperlukan untuk perkenalan dan menambah pengetahuan.

Penjelasan jenis-jenis sumber informasi disampaikan singkat saja. Padahal sebenarnya bisa bawa beberapa koleksi perpustakaan untuk mereka melihat sendiri jenis-jenis sumber informasi dan identifikasi mana yang sumber informasi primer, sekunder dan tertier. Sayang, tidak sempat ini disiapkan.
Setelah penjelasan tersebut, mereka diskusi kelompok. Diskusi kelompok mereka cukup efektif ketika mereka menentukan bersama sumber informasi apa yang akan mereka gunakan.

Praktek pertemuan kedua
Pertemuan kedua, lebih tidak nyaman. Karena laboratorium komputer dengan kapasitas 60 sudah tentu digunakan untuk kelas pemrograman yang lebih dulu ditetapkan jadwalnya. Dengan terpaksa 3x50menit dibagi menjadi 2 shift. Setengah kelas berada di kelas bersama dosen Bahasa Indonesia yang memberi mereka pre test, setengahnya lagi bersama saya di lab. komputer. Sempitnya waktu tentu saja tidak akan cukup untuk menyampaikan materi pencarian dengan Google, penelusuran EBSCO dan penelusuran PROQUEST. Jadi, hanya pencarian dengan Google saja yang disajikan. Oya, 15 menit pertama, rekan dari bagian pelayanan intranet kampus memberi penjelasan tentang bagaimana mengakses dan menggunakan webmail yang disediakan oleh kampus. Jadi mahasiswa dibagikan password mereka dan diajari secara singkat [15 menit aja bok] untuk mengakses webmail. Mereka harus perhatikan baik-baik, karena mereka akan mengirimi saya email di akhir kegiatan mereka di lab hari itu.
Saya menjelaskan secara singkat tentang domain, dan belajar mengevaluasi website secara sederhana. Situs www.jogjabelajar.org dan www.jogjabelajar.com bisa jadi contoh kasus. Selanjutnya mereka melihat bagaimana saya mengenali beberapa situs tentang literasi informasi yang saya cari lewat Google. Lalu mereka melakukan sendiri dengan mencari sumber informasi sesuai dengan topik tugas mereka. Satu-persatu saya sempatkan untuk menanyai mereka mengapa mereka memilih suatu website. Beberapa dari mereka belum bisa berargumentasi, tapi beberapa sudah mulai paham maksudnya. Lumayan.
Di akhir kegiatan mereka mengirim email kepada saya dengan alamat email resmi mereka di kampus. Isi email: alat pencarian, kata kunci, alamat website yang mereka temukan dan alasan mengapa website itu yang mereka percaya.

Praktek pertemuan ketiga
Masing-masing kelompok maju presentasikan produk informasi mereka. Masing-masing kelas berbeda. Ada satu kelas yang kemampuan presentasinya rata-rata di bawah standard, sehingga antara membaca di depan kelas dan presentasi tidak ada bedanya. Waduh!!
Tapi untungnya tidak terjadi di lain kelas. Kelas prodi Theologia memiliki ciri yang khusus. Mereka semua siap presentasi dan tampak sangat pede bicara di depan. Maklum sudah dipatok jadi calon pendeta.

Evaluasi
Terus terang belum semua saya baca, tapi secara sepintas dari apa yang saya baca ada hal-hal yang menarik :
  1. mereka merasa menikmati kelas
  2. mereka merasa 3 pertemuan tidak cukup
  3. kegiatan di lab dirasa kurang lama
  4. kelas yang besar juga dirasa kurang
  5. nyaman
Sepintas dari masukan mereka tentang cara saya mengajar, ada yang bilang sudah bagus, ada yang bilang terlalu cepat, dan yang menarik beberapa mahasiswa theologia memberi saya nilai sebagai dosen yang : SOPAN DAN RAMAH. Menarik sekali nilai ini.

Jadi gimana?
  1. modul sudah dibuat, tapi tidak semua habis tersampaikan
  2. pertemuan di kelas besar memang merepotkan dan membuat kurangnya interaksi dengan mahasiswa
  3. pertemuan hanya 3 kali ternyata tidak cukup. Jadi berapa kali ya?
  4. kebanyakan mahasiswa tidak unduh modul yang sudah saya siapkan di web lecturer saya
  5. ngajar 5 kelas sendirian selama 3 minggu pegel juga.
Begitulah laporan singkat 3 minggu program literasi informasi di kampus saya. Ini program pertama, jadi kalau jauh dari sempurna itu pasti. Yang penting sekarang jadi punya hal yang di evaluasi. Hal penting yang harus dilakukan adalah mempersiapkan lebih banyak pustakawan untuk mengajar. Untuk semester ini mereka belum ada yang berani.

SEMANGAT!!

Saturday, September 20, 2008

TTT- UNESCO Port Dickson Malaysia

"Biar di desa, kita bisa ke dunia!"

Kalimat penutup dari iklan Telkom goes to school ini menggelitik. Di satu sisi ini adalah suatu kekaguman karena gerakan tersebut merupakan langkah yang luar biasa, di sisi lain menimbulkan kekuatiran terhadap bagaimana dunia yang masuk desa tersebut dapat membawa perbaikan seperti yang digambarkan dalam iklan itu. Internet seakan jadi pembawa perbaikan padahal teknologi itu tidak menjamin apa-apa, jika pengguna tidak dapat memanfaatkannya dengan benar. Pemanfaatan inilah yang jadi masalah.

Proses mendapatkan manfaat tentu saja memerlukan kemampuan, tidak hanya fasilitas. kemampuan itu tidak dapat datang begitu saja jika tidak ditanamkan dan diusahakan.

Kemampuan yang dimaksud adalah:
1. kemampuan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat desa
2. kemampuan menemukan cara bagaimana memenuhi kebutuhan itu; ini pasti perlu informasi dan pengetahuan yang tepat
3. kemampuan mendapatkan informasi yang dibutuhkan
4. kemampuan menggunakan informasi; sudah dapat informasi lalu mau diapakan supaya berguna
5. kemampuan menyebarkan, dan menyampaikan informasi sehingga manfaatnya dirasakan

Apakah kira-kira kemampuan-kemampuan itu mudah dimiliki dengan begitu saja? Tidak! Harus ada yang berinisiatif untuk menebarkan kemampuan itu kepada masyarakat desa yang kemasukan INTERNET. Kemampuan-kemampuan itu terbendel dalam satu istilah: LITERASI INFORMASI atau KEBERINFORMASIAN [red: Information literacy]. Di Indonesia, istilah ini belum populer, bahkan jauh dari populer dibandingkan istilah Internet. Sebenarnya
kemampuan inilah yang mampu angkat bangsa ini dari kebodohan dan menghentikan sebutan

NEGARA BERKEMBANG untuk Indonesia. Sayangnya, tidak banyak yang berbuat. Tidak heran jika UNESCO sangat peduli dengan IL [Information Literacy], karena ini dapat membangun manusia. Kepedulian ini diwujudkan dengan mengadakan pelatihan bagi pelatih atau Training the Trainers of Information Literacy. Melatih pelatih agar pelatih ini melatih orang lain yang dapat melatih orang. Pelatihan ini dilakukan beberapa belahan dunia untuk menjangkau sebanyak mungkin pelatih yang akan melatih bangsanya, untuk area asia tenggara diadakan di Malaysia dan diorganisasikan oleh Fakulti Pengurusan Maklumat Universiti Teknologi Mara [Faculty of Information Management, Universiti Teknologi Mara]. Mengambil lokasi yang terpisah dari keramaian Malaysia, di PNB Ilham Resort, tepi pantai dan di kelilingi
oleh hutan lindung jauh dari jalan utama dan kota, di Port Dickson, Negeri Sembilan. Tempat ini tepat untuk acara padat bagi para calon pelatih sejak 08.30 hingga 22.30 setiap hari, 11-14 Agustus 2008.
Para calon pelatih ini datang dari 5 negara di ASEAN : Malaysia [terbanyak], Indonesia[3], Cambodia [1], Thailand[4], Vietnam [2] dan dilatih oleh para professor senior terpilih yang penuh semangat mendampingi, melayani semua pertanyaan dan membantu kebingungan yang ada di kepala para calon pelatih. Empat sesi plenary yang penuh dengan pengetahuan tentang: bagaimana memulai suatu program IL, menjalankan program IL dengan berbagai metode baik secara mandiri maupun tergabung dalam kurikulum atau bahkan matakuliah, mengevaluasi dan membangun silabus untuk menyampaikan program IL kepada target masyarakat tertentu: siswa, mahasiswa, atau komunitas profesi tertentu.

Plenary 1 adalah tentang konsep, relevansi dan pentingnya literasi informasi dan kemampuan belajar seumur hidup, model literasi informasi, program literasi informasi dan standar literasi informasi. Dalam penjelasan awal umum ini, Dr.Mohd. Shariff memberikan pemahaman awal tentang literasi informasi secara lengkap. Ketika bicara literasi informasi, banyak hal yang harus diperhatikan dan salah satu yang terpenting adalah standar. Standar ini membantu penyusun program literasi informasi untuk menentukan metode, model dan tujuan program literasi informasi untuk grup target: siswa, mahasiswa, atau komunitas tertentu. Standar yang dapat dipakai adalah standar yang telah ada seperti standar LI dari SCONUL Inggris dan ACRL Amerika. Dengan berbekal pengetahuan dasar tentang Literasi Informasi (LI), pemahaman selanjutnya yang diberikan kepada para calon pengajar LI adalah MEMBANGUN SILABUS PENGAJARAN LI: Prof. Norma Abu Seman, yang selalu enerjik, pada plenary 2 menyampaikan kunci dalam membangun silabus LI yang cocok untuk grup target: metode, teknik dan sumber pengajaran LI. Diperlukan pemahaman akan pembelajar yang akan diajari LI. Lain pembelajar, maka lain pula metode dan teknik yang digunakan. Pembelajar memiliki cara belajar yang beragam dapat berupa resource based learning, collaborative leraning, inguiry learning, mastery
learning, discovery learning, independent learning, self-access learining atau seminar and presentation as part of learning. Dengan mengetahui cara belajar yang tepat, silabus dibangun dengan memastikan elemen-elemen berikut ini ada : nama pelajaran, tujuan, kredit atau tanpa kredit, durasi waktu, isi pelajaran, cara penyampaian dan alat yang digunakan, siapa pengajarnya, cara evaluasi, kegiatan dalam/luar kelas, materi yang diberikan dan referensi.

Secara detil, tentang evaluasi kebutuhan informasi dari pembelajar dijelaskan oleh Dr. Kiran Kaur workshop pertama. Dengan mengetahui elemen dari silabus LI, hal awal yang perlu dilakukan adalah evaluasi kebutuhan informasi pembelajar. Mereka perlu kebutuhan informasi apa? Cara mendapatkan kebutuhan informasi, lakukan survey terhadap pembelajar. Baik dalam grup atau langsung secara umum. Misalnya target grup adalah mahasiswa, maka lakukan survey terhadap tingkah laku mereka dalam penggunaan dan pemanfaatan informasi. Jenis sumber informasi yang mereka sering pakai. Bagaimana cara mereka mendapatkan informasi, bagaimana cara mereka menggunakan informasi. Kesulitan yang mereka hadapi, dan keluhan dosen terhadap hasil kerja atau produk informasi yang mereka hasilkan. Sesi ini membuat saya berpikir bahwa program LI itu tidak main-main dalam penyiapannya. Apa yang saya siapkan sangat tidak sempurna. Sesi ini juga mengajarkan bahwa dari survey terhadap kebutuhan informasi pembelajar, program LI yang dibentuk akan sangat bersifat learners-centered, berpusat pada pembelajar. Program LI yang seperti itulah yang akan sangat dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa atau grup yang ditarget. Sayangnya, dalam sesi ini tidak ada latihan membuat survey atau paling tidak latihan menentukan hal-hal kunci yang menjadi perhatian kita untuk dicari jawabannya pada grup yang ditarget [targeted group].


Pembentukan Modul LI adalah materi Plenary 3 yang disampaikan secara bergiliran oleh Dato'
DR.Zaiton Osman, Principal Consultant, dan Puan Sharipah Hanon Bidin dari Open University
of Malaysia [OUM]. Proses membangun modul didasari dengan pemahaman bahwa setiap
pembelajar diarahkan untuk mempunyai kemampuan belajar secara mandiri seumur hidup. Ini
berarti pembelajar memiliki kemampuan belajar, penggunaan ICT dan juga information skill [information literacy tidak sama dengan information skill]. Informasi yang bersifat dan tersebar global, tersedia dalam bentuk digital baik terstruktur dalam digital library atau bebas di Internet adalah salah satu latar belakang pemikiran mengapa pembelajar perlu dibekali dengan kemandirian. Pembelajaran berdasar pengetahuan dan proses belajar mandiri juga menjadi latar belakang pemikiran pembentukan modul LI.

Sementara isu-isu yang menjadi pemikiran dalam membangun modul adalah
1. akses terhadap TI, kemampuan bahasa, dan ketrampilan dasar
2. strategi pengajaran dan pembelajaran yang kreatif dan tepat sasaran
3. kompetensi yang menjadi tujuan dari modul
Salah satu contoh kasus yang diangkat dalam oleh pembicara adalah modul LI yang dibangun untuk Open University of Malaysia [OUM] yang secara spesifik memiliki beragam lingkungan
belajar: terbuka dan jarak jauh dengan metode temu-muka, online dan mandiri dengan modul.
OUM memiliki program LI untuk undergraduate dan postgraduate
Topik-topik yang disajikan untuk undergraduate adalah.
1. managing your learning
2. online learning environment
3. coping with your assessment
4. information gathering process
5. skills in informatin retrieval
6. evaluation of information
7. reading for information
8. note-making and note taking skills
9. presenting information
10. using software application: word processing, presentation application, spreadsheet etc
Sementara topik-topik untuk postgraduate adalah:
1. scholarship and research in postgraduate studies
2. postgraduate studies
3. manageing your postgraduate studies [coursework, seminar, tutorials, research
4. importance of information and information skills
5. search strategy
6. selection and evaluation
7. reading for information
8. note-taking and note-making
9. organization and consolidation of information
10. presenting information
11. biblographical citation and references
Setiap IL Course atau kelas IL harus ditentukan tingkatan dan setiap tingkatan memiliki hasil pembelajaran sendiri.

PLenary 4 tentang Evaluating Information Literacy program- Principles and Methods disampaikan oleh Prof. Dr. Szarina Abdullah. Penekanan yang menarik dan banyak dibahas adalah tentang evidence-based evaluation. Untuk mendapatkan evaluasi yang sebenarnya, kita perlu mengumpulkan fakta, bukan berdasarkan pengalaman yang dirasakan dengan berbagai indra kita. Evaluasi diperlukan untuk mengukur apakah misi/visi yang ditetapkan untuk program LI kita tercapai atau tidak. Apa yang tidak dapat kita kelola, tidak dapat kita ukur, apa yang dapat diukur dapat diselesaikan, dan apa yang dapat diselesaikan dapat penghargaan.

Misi/Visi-> tujuan-> strategi-> program -> aktifitas -> evaluasi.

Setelah semua plenary selesai disajikan, Assoc. Prof. Fuziah Mohd Nadzar memberi pembekalan dalam setiap grup menyusun rencana penerapan program LI,yaitu Developing Implementation Plan, Strategy and Advocacy. Hal-hal inti yang diberikan adalah :
1. tentukan tujuan atau buatlah mission statement untuk program LI
2. Target group harus jelas
3. uji kebutuhan untuk program LI
4. kebutuhan informasi yang disiapkan
5. strategi dan tujuan
6. rencana pelaksanaan
7. nyatakan dengan jelas isi dari program LI untuk target
8. standar yang dijadikan acuan dan model LI yang digunakan
9. Kerjasama: identifikasi partner yang dapat dirangkul untuk kerja sama, internal dan eksternal.
10. siapkan evaluasi yang digunakan untuk evaluasi program LI
11. siapkan alat untuk mengukur hasil dari program LI

Workshop yang dilakukan oleh para peserta yang dibentuk dalam grup-grup diberi tugas untuk membuat rencana Penerapan yang isinya adalah apa yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Fuziah jelaskan di atas.

Itu adalah laporan pandangan mata dari apa yang saya ikuti di TTT-UNESCO di Port Dickson,
Malaysia. Materi yang disampaikan begitu padat, dan rasanya belum puas untuk berlatih
bersama berdasarkan materi-materi itu. Waktu untuk berlatih dan berproses dirasa kurang,
dan terkonsentrasi di akhir. Sementara, informasi yang didapatkan pada plenary 1-4 akan lebih terserap jika di setiap akhir plenary ada workshop kecil yang memberi kesempatan bagi peserta untuk menurunkan apa yang diterima otak ke hati supaya dapat dirasakan karena mengalaminya sendiri.