Pages

Monday, May 26, 2008

Google Literacy

Obok-obok internet dengan mesin pencari memang memberikan keasyikan sendiri. Penasaran dan juga kepuasan ketika menemukan apa yang kita cari, dan terlebih lagi ketika mencari sesuatu malah menemukan hal lain yang lebih menarik, jadilah pencarian menjadi petualangan tanpa merasa waktu berjalan terus. Kalau memang suka obok-obok internet dengan mesin pencari, bisa tongpes (kantong kempes) gara-gara bayar warnet atau bisa lupa pulang gara-gara asyik sendirian di kantor.

Kegiatan obok-obok ini juga bisa untuk ajang narsis dengan mencari seberapa kita terkenal di Internet. Kalau punya nama unik seperti saya, maka hit yang didapatkan akan spesifik. Tapi kalau punya nama pasaran seperti nama suami saya, Budi Susanto, maka harus memilah Budi Susanto yang mana: music arranger? terdakwa kasus korupsi busway? pemain tenis? penulis buku tentang politik (yang satu ini ada inisial A mengawali nama lengkapnya? atau Budi Susanto dosen TI UKDW? atau masih banyak lain Budi Susanto?
Ajang narsis ini menarik karena dari pencarian ini ditemukan bahwa karya-karya yang dipublikasikan online mendapat "penghargaan" karena ditaut oleh situs lain. Dari bahan ajar yang menjadi bahan ajar di institusi pendidikan lain, sampai posting-posting kita di milist pun terbaca oleh si mesin pencari. Karena itu hati-hati untuk posting di milist.

Dari sekian banyak mesin pencari dengan karakteristiknya masing-masing, Google adalah mesin pencari favorit. Paling tidak favorit saya dan suami. Yang membuat kami berdecak kagum adalah kreativitas dari Google dalam menyajikan berbagai layanan: mesin-mesin pencari yang lebih spesifik seperti pencari citra, pencari buku, pencari artikel scholar, dan pencari web umum. Aplikasi email yang digabung dengan aplikasi chatting adalah ide bagus. Sementara untuk menyajikan informasi blog juga disediakan oleh Google. Mesin analisis pengakasesan web dilakukan oleh Google analytics yang dapat dimanfaatkan pada web personal atau web apapun. Aplikasi perkantoran online Google docs tersedia juga. Waduh banyak deh! Kok jadi seperti bagian pemasaran Google.

Dengan fasilitas yang bermacam-macam seperti itu jangan heran jika para mahasiswa juga lebih senang bertanya pada Google dari pada kepada pustakawan. Beberapa pustakawan jadi cemburu sehingga mungkin aspirasi mereka tergambar di sebelah ini. Padahal, Google seharusnya menjadi teman baik para pustakawan karena dengan mampu memanfaatkan fasilitas-fasilitas Google yang beragam, pekerjaan para pustakawan dalam hal referensi dan literasi informasi jadi terbantu.

Fasilitas-fasilitas Google yang komplit ini memberi ide tentang kemampuan dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas Google untuk mendukung literasi informasi: Google literacy. Istilah ini menjadi judul proyek literasi kerja sama Google dengan berbagai lembaga yang peduli pada literasi seperti UNESCO dan LITCAM. Proyek ini berjudul Google Literacy Project.
Arti dari istilah itu adalah Proyek Literasi Google, sementara yang saya maksud engan Google Literacy adalah Literasi informasi yang memanfaatkan dukungan fasilitas-fasilitas di Google. Karena kuncinya adalah memanfaatkan fasilitas-fasilitas di Google, maka penggunaan fasilitas-fasilitas tersebut harus lancar dan fasih. Jika pustakawan fasih dan lihai menggunakan Google tentu saja mahasiswa akan banyak yang ingin memiliki kemampuan itu. Ini bukan barang mudah. Menguasai penggunaan mesin pencari tidaklah mudah karena informasi yang didapatkan sangat beragam dan pemilihan kata kunci dan istilah menjadi suatu perkara yang penting.

Yooo, jadi gimana? Google literacy jadi suatu kemampuan dari bagian kemampuan information literacy kan?

Monday, May 19, 2008

Literasi Informasi: Evaluasi Sumber Informasi

Dari memeriksa pekerjaan mahasiswa, banyak hal yang berkaitan dengan literasi informasi ditemukan. Tugas-tugas yang mereka buat adalah:
  1. Paper singkat topik khusus: menjabarkan istilah Teknologi Informasi yang mereka dapat berdasarkan sumber informasi yang mereka cari dan dapatkan
  2. Paper analisis sederhana: memberikan hasil analisis terhadap kumpulan data mentah
  3. Dummy Skripsi : menyusun proposal skripsi dan skripsi versi pura-pura dengan format yang sebenarnya.
  4. Presentasi karya ilmiah: mempresentasikan hasil karya mereka di depan audiens yang berlatar belakang bidang studi teknologi informasi
Pada masing-masing tugas, ditemukan bahwa ada kemampuan yang mereka belum miliki sehingga hasil kerja mereka kurang maksimal. Kemampuan yang belum mereka miliki itu adalah termasuk kemampuan literasi informasi.
  1. kesulitan menentukan ide atau topik penelitian. Ini berkelanjutan pada kesulitan dalam membuat rumusan masalah
  2. ketika mereka harus menjabarkan suatu istilah, pencarian terhadap sumber informasi yang mendukung menunjukkan bahwa mereka bergantung pada sumber-sumber tertentu seperti: WIKIPEDIA. Sumber lain yang sering mereka gunakan adalah blog pribadi dan blog suatu komunitas.
  3. ketergantungan mereka terhadap sumber informasi elektronik dari Internet terlihat dari 100% sumber yang mereka gunakan berasal dari Internet.
  4. kecenderungan mereka untuk menuliskan kembali atau menjiplak isi dari sumber informasi sangat tinggi. Jika sumber informasi berbahasa Inggris, maka kecenderungan untuk menerjemahkan perkalimat juga tinggi.
  5. penulisan bibliografi sumber informasi dari Internet atau elektronik 100%. Menuliskan URL dari sumber informasi sama saja seperti menuliskan sebuah alamat tanpa memberi informasi alamat apakah itu. Bibliografi seperti itu tidak memberikan informasi lengkap dan jelas tentang sumber informasi yang digunakannya, dan butuh waktu untuk evaluasi.
  6. hasil paper analisis menunjukkan bahwa menganalisis data mentah dan menggabungkannya dengan informasi-informasi yang terkait tidaklah mudah. Interpretasi data adalah inti dari suatu penelitian, jika kemampuan melakukan analisis lemah maka karya ilmiah belum menunjukkan segi keilmiahannya. Analisis bukan menuliskan kembali apa yang di tabel menjadi paragraf. Itu hanya perubahan bentuk saja.
  7. keengganan menggunakan buku sebagai sumber informasi menunjukkan bahwa mahasiswa kurang memahami bagaimana menggunakan sumber informasi ini. Minat baca mungkin cukup baik, tapi lebih memilih bacaan yang dapat ditemukan dengan cepat sekalipun mutunya sekenanya. Dari semua tugas paper yang dikumpulkan tidak ada mahasiswa yang menggunakan buku sebagai sumber informasi mereka.
  8. kutipan ternyata seperti barang baru bagi mereka, sekalipun contek-mencontek mungkin saja sudah menjadi budaya. Mereka tidak tahu mengapa mengutip, bagaimana mengutip dan jenis kutipan yang ada sehingga tidak jarang catatan akhir dan catatan perut adalah hal-hal asing bagi mereka.
Kesulitan dan ketidak tahuan mereka mungkin perlu dimaklumi, tetapi rasanya sudah tidak tepat terjadi ketika mereka sudah semester 4 atau lebih di perguruan tinggi. Untuk seorang mahasiswa baru, kesulitan dan ketidaktahuan mereka masih dapat diterima, karena itulah perpustakaan hadir untuk memberdayakan mereka dengan literasi informasi yang dibutuhkan di perguruan tinggi.
Sarana dan prasarana yang memadai untuk menghadirkan sumber informasi elektronik tidaklah cukup jika penggunanya tidak dapat memanfaatkannya atau tidak merasakan manfaatnya. Pemberdayaan mahasiswa untuk mampu menelusuri dan melakukan pencarian sumber informasi dengan mesin pencari (search engine) menjadi tanggung jawab perpustakaan, kecuali kurikulum program studi apapun memberikan materi tersebut kepada mahasiswa. Hmm.. mungkin gak ya?

Saturday, May 17, 2008

Library 2.0 : Evaluasi

Salah satu hal penting dari pengembangan perpustakaan menurut konsep library 2.0 adalah evaluasi. Evaluasi pada umumnya dianggap sebagai kegiatan terakhir dan tidak berkelanjutan. Jadi jika ada suatu program atau kegiatan, maka diakhir program atau kegiatan tersebut ada evaluasi. Umpan balik diberikan lalu dicatat, namun jarang hasil evaluasi tersebut menjadi draft proposal untuk kegiatan selanjutnya. Ini yang sering terjadi di perpustakaan kami. Ketika kami menyadari ini, kami tidak heran mengapa perpustakaan tidak memiliki perkembangan yang signifikan. Kalaupun ada, perkembangan itu kemudian dianggap biasa dan rutin. Mengapa? Karena tidak dievaluasi.

Menyadari kelalaian tersebut, rapat terakhir perpustakaan berisi sharing tentang pelatihan yang diikuti 3 teman kami di UGM dan pelatihan yang kami adakan beberapa hari yang lalu. Rapat jadi ajang cerita. Banyak masukan yang diberikan oleh teman-teman yang mengikuti pelatihan. Selama pelatihan yang amat sangat padat, mereka selalu merefleksikan dan membandingkan antara teori, hasil pengamatan, dan praktek latihan dengan apa yang ada di perpustakaan kami. Jujur diakui bahwa banyak sekali yang harus diperbaiki dan sekaligus banyak yang dapat dikembangkan. Dari penataan ruang, prosedur pengolahan, cara melayani, peralatan yang digunakan, jenis pelayanan, teknologi informasi, jenis koleksi, dan cara bekerja. Lengkap sudah. Ini namanya evaluasi.

Langkah berikutnya setelah menceritakan semua yang didapat, atau brainstorming, adalah membuat rapat kerja untuk menentukan apa yang hendak dilakukan. Rapat kerja juga harus menghasilkan sesuatu, tidak hanya brainstorming, apalagi berkeluh kesah. Sesuatu yang akan dihasilkan adalah rencana detil mewujudkan program baru, layanan baru, atau perubahan yang akan direncanakan. Termasuk di dalamnya KAPAN program, layanan dan perubahan baru tersebut akan di-EVALUASI. Ini penting.

Evaluasi adalah titik perputaran berikutnya. Tanpa evaluasi, perkembangan selanjutnya tidak ada. Jadi, kalau mau berkembang, mulailah dari evaluasi. Ini konsep penting dalam libraru 2.0

Wednesday, May 14, 2008

Gotong-Royong Menyusun Draft Modul Literasi Informasi

Perpustakaan perguruan tinggi menyadari bahwa kemampuan literasi informasi mahasiswa tidak merata, padahal kemampuan ini diperlukan untuk mahasiswa dapat belajar secara mandiri dan menggali pengetahuan secara luas. Kemampuan ini bersifat long life learning. Pemberdayaan literasi informasi sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama baik perpustakaan dan program studi. Sehingga sebenarnya ini adalah tanggung jawab universitas. Perpustakaan adalah unit pelaksana yang memegang peranan penting dalam pemberdayaan literasi informasi untuk mahasiswa dan juga dosen. Pemberdayaan yang sudah terjadi umumnya berkisar antara pendidikan pengguna/pemakai atau library instruction. Jika ada pemberdayaan lebih, maka biasanya berkaitan dengan fasilitas yang disediakan perpustakaan misalnya penelusuran database online, penggunaan fasilitas email ; e-class; pembangunan web dan forum mahasiswa online. Topik-topik itu memang bagian dari literasi informasi, tapi masih sebagian kecil, dan jika disajikan tanpa ada alur yang benar sesuai dengan langkah-langkah dalam suatu model literasi, maka tidak memberi manfaat yang utuh bagi para pengguna perpustakaan.

Literasi informasi atau Information Literacy (IL) sendiri belum populer di kalangan perpustakaan di Indonesia, dan banyak perguruan tinggi yang belum menyadari pentingnya kemampuan ini. Dalam rangka mempopulerkan literasi informasi, Perpustakaan Duta Wacana menyelenggarakan pelatihan literasi informasi. Pelatihan literasi informasi pertama adalah pengenalan literasi informasi bagi pustakawan yang telah diadakan tahun 2007. Pelatihan kedua adalah pelatihan penyusunan modul literasi informasi. Pelatihan ini baru saja diselenggarakan tgl 12-13 Mei 2008 di UKDW. Inti dari pelatihan ini adalah membuat modul literasi informasi bersama-sama. Hasil dari pelatihan ini berupa 11 modul pelatihan IL untuk mahasiswa. Modul-modul beragam topiknya : kutipan, thesaurus, referensi, digitalisasi, pemanfaatan audio visual, pencarian di search engine, perumusan masalah, dan penelusuran jurnal online.

Peserta berjumlah 21 orang dan berasal dari 13 Universitas : UAJY, UGM, , UNNES, UK. MARANATHA, UKSW, UII, UMY, AKAKOM, UIN, UPN, ISTA, ISI dan UKDW. Dengan pembicara dan fasilitator utama Diao Ai Lien, PhD dari Unika Atma Jaya Jakarta dan Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS sebagai fasilitator dan pembicara pendamping, pelatihan 2 hari ini termasuk pelatihan yang penuh kegiatan dan materi. Kemampuan dasar literasi informasi para peserta ternyata sangat beragam dari yang baru kenal literasi informasi sampai yang sudah siap membuat modul IL. Sekalipun hari pertama pada saat penyajian materi tentang literasi informasi, banyak rekan yang masih merasa ragu dengan literasi informasi, tetapi ketika sudah masuk laboratorium komputer dan mulai membuat garis besar rencana pembelajaran, mereka mulai memahami dan mampu menentukan topik modul yang akan mereka susun draft-nya.

Pembuatan draft modul adalah tantangan terbesar bagi semua peserta. Pengetahuan tentang IL yang belum semuanya mendarat mulus dalam benak, membuat awal-awal pembuatan modul jadi begitu lambat. Banyak pertanyaan yang diajukan, banyak pendampingan yang diperlukan, dan diskusi dengan rekan sekerja jadi modal besar.

Dalam proses pembangunan modul, akses Internet di laboratorium komputer tersebut ternyata tidak selalu menjadi sumber informasi yang memberi pencerahan baru. Ini terlihat dari beberapa dari peserta yang banyak tergantung pada contoh modul yang dibawa oleh fasilitator dari pada berlomba mencari contoh modul di Internet sebagai bahan masukan dan pembanding. Jika mereka mampu temukan, contoh modul-modul IL di Internet sangat banyak dan beragam. Hal lain yang membuat mereka resisten terhadap informasi di Internet adalah kendala bahasa. Ketika mereka harus berhadapan dengan bahasa Inggris, langsung merasa bahwa informasi itu tidak dapat mereka gunakan. Sedih juga melihat mereka yang mengalami ini.

Tantangan sebagai fasilitator juga tidak kalah berat. Berusaha memberdayakan peserta yang memulai dari NOL besar tentang literasi informasi ternyata tidaklah mudah. Ketakutan ternyata membuat pengetahuan baru ini sulit masuk. Selain itu kebiasaan belajar yang rendah ternyata meningkatkan tantangan ini. Padahal apa yang sedang dipelajari adalah kemampuan untuk belajar mandiri seumur hidup. Namun demikian tantangan ini tidak membuat fasilitator dan peserta mundur. Tidak ada kata mundur. Mereka boleh memulai pelatihan ini dari NOL, tapi yang jelas setelah pelatihan, tidak ada lagi peserta yang merasa NOL, mereka mendapatkan banyak hal baru, dari hal yang sepele bagi orang lain sampai yang berbobot.

Hal-hal yang dibawa pulang oleh peserta beragam dari satu peserta ke peserta lain. Bagi mereka yang terbiasa dengan literasi informasi, modul-modul yang disusun merupakan oleh-oleh yang berharga karena mereka akan mengembangkan modul literasi informasi tidak dari nol dan tidak sendirian. Peserta lain yang pernah dengar literasi informasi dan belum mengerti, mendapat contoh yang jelas apa itu literasi dan apa yang diajarkan dalam literasi informasi. Ada beberapa dari mereka, justru mendapat kesempatan belajar hal lain, entah penelusuran di mesin pencari, membuat bagan alir, mengetik pada pemroses kata atau bahkan belajar membuat tulisan. Begitulah. Sekalipun mereka semua adalah pekerja informasi atau pustakawan, ternyata tidak semua punya kebiasaan belajar yang membawa mereka secara bertahap kepada pengetahuan yang lebih.

Draft –draft modul yang mereka bawa pulang, adalah bukti semangat dan kerja keras pada peserta selama 2 hari. Mereka bahkan mempresentasikan hasil kerja mereka di sesi terakhir. Setiap presentasi draft modul, ada saja pengetahuan baru yang dibagikan, entah itu berkaitan dengan teknis, jenis layanan baru, cara promosi atau bahkan penggunaan alat. Draft-draft modul yang disusun bersama merupakan pembelajaran untuk mendapatkan kemampuan yang dijabarkan dalam model literasi informasi 7 langkah. Model literasi informasi Tujuh Langkah yang dijelaskan oleh Ibu Ai Lien di hari pertama terdiri dari :

  1. Merumuskan masalah
  2. Mengidentifikasi sumber informasi
  3. Mengakses informasi(secara fisik dan intelektual)
  4. Menggunakan informasi secara etis dan legal
  5. Menciptakan karya tulis (organisasi,penciptaan dan presentasi)
  6. Mengevaluasi hasil
  7. Menarik pelajaran dari kegiatan 1-6 (lessons-learned)
Pada setiap langkah ada beberapa kemampuan yang dapat diajarkan. Misalnya untuk langkah perumusan masalah, kita mampu menganalisis situasi. Analisis situasi ada caranya dari yang sangat sederhana sampai canggih. Dari hanya membaca buku, sampai melakukan observasi yang lengkap. Lalu brainstorming juga ada caranya. Selain brainstorming ada cara lain seperti clustering dan journalist's questions. Ketika membuat kalimat rumusan masalah masih harus tahu seperti apa kalimat rumusan masalah itu.

Sementara langkah menggunakan informasi secara etis dan legal, kemampuan dan pengetahuan tentang mengutip, membuat parafrase, membuat bibliografi, dan membedakan endnote dan footnote. Belum lagi ketika mengutip, yang dikutip apa? Tulisan? Gambar? Tabel?
Belum lagi bagaimana menciptakan karya. Ini dari menyusun konsep tulisan atau karya sampai bagaiman presentasikan karya. Kalau karyanya tulisan bagaimana? Kalau bukan tulisan bagaimana? Banyak. Banyak. Banyak yang merupakan bagian dari literasi informasi!!!!

Pelatihan penyusunan modul literasi informasi kemarin memang betul-betul membuka wawasan, ternyata literasi informasi itu luas sekali dan penting. Pantas saja disebut long life learning, karena dengan literasi informasi kita dapat learning long life.

Pelatihan Penyusunan Modul Literasi Informasi